ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Visi Indonesia Emas 2045 bergantung pada kualitas anak sekolah dasar saat ini. Namun tantangan literasi digital masih besar di seluruh negeri. Literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan gawai. Anak perlu berpikir kritis, memilah informasi, memahami etika digital, dan menjaga data pribadi. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengevaluasi kurikulum SD nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertama, mari kita lihat data akses internet. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merilis data periode 2024–2025. Hasilnya menunjukkan akses internet di SD meningkat dari 62,8 persen (2023) menjadi 77,47 persen (2025). Meskipun demikian, jenjang SD masih memiliki akses internet terendah dibandingkan SMP dan SMA. Selain itu, kesenjangan wilayah sangat terlihat. Di kota besar, 89 persen SD memiliki internet stabil. Sebaliknya, di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), hanya 34 persen SD yang bisa mengakses perangkat digital secara memadai.
Pemerintah sebenarnya sudah menargetkan bantuan infrastruktur digital. Targetnya mencakup 33.182 sekolah di 3T pada periode 2025–2026. Namun realisasi hingga April 2026 baru mencapai 61 persen. Dengan kata lain, masih ada pekerjaan rumah besar di sektor infrastruktur.
Pendapat Pakar dan Urgensi Literasi Digital
Selanjutnya, Dr. Anindya Sari, M.Pd., pengamat kebijakan pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), memberikan pendapat tegas. Dalam diskusi pendidikan di Jakarta pada 24 April 2026, ia mengatakan bahwa kurikulum SD harus lebih adaptif. Indonesia tidak boleh hanya mengajar cara pakai aplikasi. Lebih dari itu, anak SD perlu dibentengi dari hoaks dan dampak negatif media sosial. Sebagai bukti, indeks literasi digital Indonesia baru 3,54 dari skala 5. Sementara itu, skor PISA untuk bidang membaca hanya 359. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Karena itu, integrasi literasi digital ke kurikulum menjadi sangat mendesak.
Pemerintah pun telah bergerak. Mereka mengintegrasikan literasi digital melalui Platform Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (Ruang GTK). Perlu diketahui, platform ini merupakan transformasi dari Merdeka Mengajar sejak 21 Januari 2025. Ruang GTK menyisipkan literasi digital ke mata pelajaran inti, seperti Bahasa Indonesia, PPKn, dan Informatika. Tujuannya agar siswa tidak hanya menjadi konsumen konten. Mereka juga menjadi pencipta konten yang produktif dan beretika.
Di sisi lain, regulasi terbaru turut mendukung. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 mewajibkan pengenalan coding dan AI. Logika pemrograman dan kecerdasan buatan akan diajarkan secara bertahap. Pelajaran ini dimulai dari kelas 4 SD. Implementasi penuhnya ditargetkan pada tahun ajaran 2026/2027. Dengan demikian, kurikulum SD mulai beradaptasi dengan tantangan digital.
Tantangan Kesiapan Guru dan Solusi Kolaborasi
Namun, tantangan terbesar justru datang dari kesiapan guru. Indonesia memiliki 1,2 juta guru SD. Sayangnya, hanya 38 persen di antaranya yang telah mengikuti pelatihan literasi digital tingkat lanjut. Program peningkatan kompetensi (up-skilling) melalui Ruang GTK baru menjangkau 412.000 guru pada kuartal I tahun 2026. Angka ini masih jauh dari target 900.000 guru pada akhir tahun 2026. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan kapasitas secara besar-besaran. Mereka wajib mampu mendampingi siswa di era informasi yang sangat cepat.
Akhirnya, mempersiapkan Generasi Emas 2045 butuh kolaborasi lintas sektor. Pemerintah melalui Kemendikdasmen dan Kementerian Komunikasi dan Digital bertanggung jawab menyediakan infrastruktur dan pelatihan guru. Target pada tahun 2030, seluruh SD di wilayah 3T telah terakses internet. Sekolah dan guru harus menerapkan kurikulum literasi digital berbasis etika. Targetnya, seluruh guru tersertifikasi kompetensi digital. Orang tua pun tidak boleh lepas tangan. Mereka perlu mengawasi gawai anak di rumah. Target penurunannya sebesar 50 persen paparan konten negatif pada anak.
Dengan literasi digital yang kuat sejak SD, Indonesia optimistis mengubah disrupsi teknologi menjadi peluang emas. Generasi Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan target yang bisa diraih.(**)









