ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Sengkarut mutu pendidikan dasar dan menengah kembali benderang melalui rilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyuguhkan paradoks klasik, bahwa kompetensi bahasa melaju, sedangkan kemampuan matematika nasional jeblok. Fenomena ini memotret jurang lebar antara kecakapan verbal dan logika formal anak didik, di mana capaian Bahasa Indonesia tercatat lebih tinggi dibanding Matematika pada kedua jenjang.
Di samping itu, eksplanasi teoretis mengenai disparitas angka rerata nasional ini dibeberkan secara komprehensif oleh Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, dalam paparan resmi yang berbasis data agregat nasional seraya berargumen, “Untuk SD/MI sederajat, rerata Bahasa Indonesia mencapai 60,14 sedangkan Matematika 43,41. Sementara pada jenjang SMP/MTS sederajat, rerata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan Matematika 40,34,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin dalam paparannya dikutip pada Jumat (29/5/2026).
Anjloknya statistik matematika memberikan sinyal penting terkait penguatan kemampuan bernalar dan pemecahan masalah. Namun, otoritas terkait menegaskan evaluasi ini bukan alat pelabelan daerah, sekolah, maupun murid. Menanggapi defisit kemampuan logis dalam pembelajaran sehari-hari tersebut, Kepala BKPDM mengartikulasikan perspektif institusionalnya bahwa, “Ini menjadi perhatian bersama bahwa kemampuan berpikir logis, penalaran matematika, dan problem solving perlu terus diperkuat dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ungkapToni.
Perlu diketahui, riset massal ini mencatatkan tingkat partisipasi nasional jadwal utama mencapai 98,12 persen, menghasilkan big data strategis yang terpetakan hingga kategori kompetensi peserta didik. Telaah analitis terhadap urgensi pemetaan makro ini dirumuskan secara komprehensif oleh Toni Toharudin guna melegitimasi kebijakan berbasis kebutuhan riil di lapangan dengan menegaskan, “Pemetaan mutu ini menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih presisi dan berbasis data, mengidentifikasi wilayah yang perlu penguatan, serta memastikan kebijakan dibangun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan,” ujar alumnus University of Groningen (RUG), Netherlands tersebut.
Dari 8.875.362 murid jadwal utama, sebanyak 8.708.891 peserta hadir, sementara ujian susulan diikuti 463.533 murid dari 490.551 pendaftar. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik), Rahmawati, menilai capaian ini sebagai indikator meningkatnya kesadaran perbaikan mutu. Secara teknis, TKA menerapkan penskoran klasik skala 0-100 melalui proses verifikasi dan validasi statistik demi keadilan. Selain numerik, hasil dilengkapi kategori capaian dan deskripsi kemampuan murid agar menjadi alat refleksi pembelajaran.
Berkenaan dengan kegunaan praktis-edukatif dari klasifikasi tersebut, Rahmawati mengeksplorasi dimensi evaluatifnya dengan berpendapat, “Kalau anak berada pada kategori memadai, maka orang tua dan guru bisa melihat kemampuan apa yang sudah dikuasai dan apa yang masih perlu diperkuat. Jadi TKA membantu semua pihak memahami strategi pembelajaran yang paling tepat bagi murid,” jelas Rahmawati.
Hasil TKA diumumkan bertahap mulai 26 Mei 2026 pukul 13.00 WIB melalui dinas pendidikan sebelum pencetakan Sertifikat Hasil TKA (SHTKA). Demi memangkas restriksi administrasi, Kemendikdasmen mengintegrasikan data dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi melalui API dan web service. Terkait simplifikasi prosedur birokrasi digital tersebut, Rahmawati Rizky memberikan konfirmasi teknisnya dengan menegaskan, “Sehingga sekolah tidak perlu menunggu unggahan manual dari peserta didik,” ujar Rahmawati Rizky.









