Waspada! Modus Baru Pembobolan Rekening Lewat ‘Deepfake’: AI Jadi Ancaman Nyata Verifikasi Biometrik Perbankan

- Jurnalis

Kamis, 25 Desember 2025 - 22:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber Foto teknologi.bisnis.com

Sumber Foto teknologi.bisnis.com

JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Sektor perbankan nasional kini menghadapi tantangan keamanan siber yang kian kompleks di penghujung tahun 2025. Muncul tren serangan baru yang memanfaatkan teknologi Deepfake—rekayasa wajah dan suara berbasis AI—untuk mengelabui sistem verifikasi biometrik. Modus ini memungkinkan pelaku meniru identitas nasabah secara sangat akurat, sehingga memicu kekhawatiran serius terkait keamanan dana di rekening bank.

Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa teknologi AI yang dulunya hanya digunakan untuk hiburan, kini telah dipersenjatai untuk melakukan penipuan finansial skala besar.

Bagaimana Deepfake Menembus Keamanan Bank?

Sistem keamanan perbankan modern umumnya mengandalkan fitur Face Recognition (pengenalan wajah) atau verifikasi suara untuk memberikan persetujuan transaksi besar atau pembukaan rekening secara daring (online). Namun, penjahat siber kini menggunakan algoritma AI canggih untuk:

  1. Manipulasi Video Real-time: Pelaku menciptakan “topeng digital” yang bisa berkedip, berbicara, dan bergerak mengikuti instruksi sistem verifikasi wajah saat melakukan panggilan video dengan layanan pelanggan bank.

  2. Voice Cloning: Hanya dengan sampel suara berdurasi beberapa detik, AI dapat meniru nada, dialek, dan intonasi suara nasabah untuk melewati sistem perintah suara atau menipu staf call center.

  3. Rekayasa Identitas Ganda: Menggabungkan data identitas asli yang bocor di dark web dengan visual deepfake untuk menciptakan identitas palsu yang tampak sah.

Baca Juga:  Produksi Konten hingga Podcast Bisnis, Dimensia Creative Payakumbuh Bantu UMKM Go Digital

Dampak dan Kerugian Nasional

Berdasarkan data pantauan aktivitas keamanan digital Desember 2025, tercatat adanya lonjakan laporan nasabah yang kehilangan dana tanpa merasa memberikan kode OTP atau kata sandi. Dalam beberapa kasus, sistem bank mendeteksi transaksi sebagai “sah” karena pelaku berhasil melewati pemindaian wajah biometrik yang seharusnya menjadi benteng terakhir.

“Deepfake telah mengubah peta ancaman siber. Kini, ‘melihat’ bukan lagi berarti ‘percaya’. Bank-bank di Indonesia harus segera meng-upgrade sistem mereka dari sekadar biometrik statis ke biometrik perilaku (behavioral biometrics),” tegas seorang analis keamanan siber dalam diskusi di Jakarta (25/12).

Baca Juga:  Fenomena Digital Nomad Lokal 2026: Mengapa Daerah Lebih Menarik daripada Jakarta?

Respons Industri: ‘AI Melawan AI’

Menanggapi ancaman ini, sejumlah bank besar mulai mengadopsi teknologi Liveness Detection generasi terbaru. Teknologi ini mampu mendeteksi tekstur kulit, denyut nadi halus di wajah, hingga pantulan cahaya pada mata untuk membedakan antara manusia asli dengan rekayasa layar digital.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dikabarkan tengah menyiapkan regulasi baru yang mewajibkan lembaga keuangan memperketat verifikasi berlapis (multi-factor authentication) yang tidak hanya mengandalkan biometrik visual, tetapi juga pola perilaku transaksi nasabah.

Tips Aman Bagi Nasabah

Masyarakat dihimbau untuk lebih waspada dan melakukan langkah pencegahan mandiri:

  • Jangan pernah memberikan sampel suara atau video wajah kepada pihak tak dikenal melalui aplikasi pesan singkat.

  • Gunakan fitur Double Authentication yang menggabungkan biometrik dengan kunci fisik atau token keamanan.

  • Segera lapor jika menemukan aktivitas mencurigakan pada mutasi rekening meskipun tidak ada notifikasi masuk.

Berita Terkait

Fenomena Digital Nomad Lokal 2026: Mengapa Daerah Lebih Menarik daripada Jakarta?
Generasi Cemas: Mengapa Kita Sulit Berhenti Scrolling Meski Dompet Sedang Kering?
Facebook dan Instagram Disorot Pemerintah, Meta Diminta Tindak Tegas Konten Judi Online
Micro Influencer Jadi Senjata Baru Promosi UMKM di Era Digital
Produksi Konten hingga Podcast Bisnis, Dimensia Creative Payakumbuh Bantu UMKM Go Digital
Aturan Baru Ruang Digital: PP Tunas Wajibkan Verifikasi Usia Pengguna Anak
Kedaulatan Harga Mati! DPR RI Desak Perlindungan Total Data Warga dalam Arus Lintas Negara
DDR6 Datang, Harga “Ngeri”: Teknologi Masa Depan yang Belum Ramah Dompet

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 12:00 WIB

Fenomena Digital Nomad Lokal 2026: Mengapa Daerah Lebih Menarik daripada Jakarta?

Sabtu, 11 April 2026 - 10:00 WIB

Generasi Cemas: Mengapa Kita Sulit Berhenti Scrolling Meski Dompet Sedang Kering?

Senin, 9 Maret 2026 - 11:39 WIB

Facebook dan Instagram Disorot Pemerintah, Meta Diminta Tindak Tegas Konten Judi Online

Sabtu, 7 Maret 2026 - 21:58 WIB

Micro Influencer Jadi Senjata Baru Promosi UMKM di Era Digital

Jumat, 6 Maret 2026 - 18:06 WIB

Produksi Konten hingga Podcast Bisnis, Dimensia Creative Payakumbuh Bantu UMKM Go Digital

Berita Terbaru

Ilustrasi Foto Kartini 2026: Hak atas Sehat Jiwa, Emansipasi Wanita Modern.(Foto AI)

Kesehatan

Kartini 2026: Hak atas Sehat Jiwa, Emansipasi Wanita Modern

Selasa, 21 Apr 2026 - 14:00 WIB