ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Banyak orang menghabiskan waktu luang minggu pagi dengan membuka media sosial. Mereka membaca berita, melihat unggahan teman, lalu menulis komentar. Sayangnya, mereka kerap melupakan etika dasar. Mereka lupa bahwa di balik layar ada manusia nyata yang membaca setiap kata. Padahal, menjaga etika di dunia digital bukan hanya melindungi diri dari jerat hukum. Kita juga menjaga martabat sendiri dan orang lain.
Jangan Bereaksi Sebelum Verifikasi
Banyak pengguna medsos terjebak kebiasaan buruk. Mereka membaca judul berita lalu langsung melontarkan komentar pedas. Mereka tidak membaca isi berita secara utuh. Akibatnya, mereka menyebarkan misinformasi. Mereka juga memicu pertengkaran yang tidak perlu. Selain itu, beberapa orang menulis dengan huruf kapital (caps lock) semua. Mereka tidak sadar bahwa cara itu berarti ‘berteriak’ atau ‘marah’ di dunia maya. Padahal, menulis dengan huruf biasa dan sopan menghasilkan komunikasi yang lebih sehat.
Data Membuktikan Kondisi Memprihatinkan
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat data penting. Sepanjang Agustus – Oktober 2025, pihaknya menindak 3.943 konten disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian (DFK). Berbagai riset juga menunjukkan fakta mencengangkan. Sekitar 52% komentar di media sosial mengandung nada negatif atau kebencian. Ironisnya, banyak pelaku tidak menyadari kesalahan mereka. Mereka mengira komentar mereka sekadar ‘pendapat biasa’.
Hukum Siap Menjerat Pelanggar
Sejak awal 2026, KUHP baru berlaku. Pemerintah mempertegas pasal-pasal penghinaan. UU ITE juga tetap menjadi payung hukum. Jika seseorang menulis komentar fitnah atau ujaran kebencian berbasis SARA, aparat dapat menjeratnya dengan Pasal 27A atau Pasal 28 ayat (2) UU ITE. Jadi, aktivitas santai di minggu pagi berpotensi berakhir di meja hijau. Jempol yang tak terkendali bisa membawa pemiliknya ke kursi terdakwa.
Jejak Digital Abadi, Pikirlah Sebelum Kirim
Rekam jejak digital tidak akan hilang. Komentar yang hari ini kita anggap sepele, suatu hari bisa dibaca oleh rekan kerja, atasan, bahkan anak cucu kita. Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah komentarku membangun? Atau hanya menambah kebisingan?” Mari kita kendalikan jempol kita. Mari jadikan ruang digital lebih sehat. (**)









