ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Di era disrupsi yang serba-cacat dan riuh oleh banjir informasi, pakar filsafat Islam ini mengajak kita menengok kembali kedalaman jiwa lewat laku ‘eling lan waspado’ serta filosofi Jawa kuno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Dari guncangan geopolitik di Eropa Timur hingga ketegangan Laut China Selatan, bayang-bayang resesi ekonomi, sampai kecerdasan buatan (AI) yang perlahan merampas ruang kerja manusia, ketidakpastian telah menjadi menu harian.
Di tengah pusaran yang oleh para ekonom disebut sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) ini, manusia modern terutama generasi muda kerap didera krisis eksistensial, kecemasan akut, hingga kerapuhan mental. Kita mendadak gagap membedakan mana yang esensial dan mana yang sekadar riuh rendah.
Namun bagi Dr. Fahruddin Faiz, kekacauan ini bukanlah barang baru dalam panggung peradaban. Duduk santai dalam sebuah perbincangan hangat di Putcast bersama Putut EA, akademisi dan pengampu Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta ini melontarkan pandangan makronya. Ia mengajak kita merentang waktu jauh ke masa silam guna membaca pola sejarah yang rupanya selalu berulang.
“Kalau kita jeli sebenarnya sejarah dunia ini memang sejarah keos. Dari keos ke keos… memang karakternya sejarah manusia itu semacam itu senantiasa keos, senantiasa rumit, kompleks, naik turun, tidak terduga,” ucap Dosen UIN Sunan Kalijaga itu.
Kekacauan sejarah, menurutnya, telah diramalkan sejak awal penciptaan manusia. Namun, yang membedakan kualitas hidup kita di tengah kekacauan bukanlah hilangnya badai, melainkan cara kita memosisikan diri di hadapan badai tersebut. Di sinilah Fahruddin Faiz membedah pentingnya warisan kearifan lokal, sebuah konsep psikologi kultural Jawa kuno yang luar biasa kontekstual untuk menjinakkan disrupsi modern.
“Ada istilah menarik dalam filsafat Jawa itu menyikapi naik turunnya hidup itu: ojo gumunan, ojo kagetan. Bukan apa-apa, orang yang gampang takjub, gampang kaget, gampang kedistrak terus pikirannya jadi ndak jernih terus gampang dimanipulasi,” tegasnya dalam video yang diunggah pada 9 Maret 2026 tersebut.
Di era ketika algoritma media sosial mendikte emosi dan menciptakan fenomena FOMO (Fear of Missing Out), absennya kejernihan berpikir membuat kita rentan. Informasi datang berkejaran, merangsang manusia untuk selalu ikut campur, berkomentar, dan akhirnya terjebak dalam pusaran emosi yang melelahkan. Efek domino dari ketidakjernihan ini adalah hilangnya kompas prioritas.
Fahruddin Faiz menekankan bahwa ketidakpastian dunia global kerap kali membuat anak muda salah meletakkan fokus. Mereka merisaukan ancaman-ancaman makro yang jauh di luar kendali mereka, namun justru menelantarkan tanggung jawab riil yang ada di depan mata. Energi habis untuk urusan sekunder, sementara hal primer yang bersifat wajib justru terabaikan.
“Penting kita punya prioritas karena jangan sampai kemudian yang primer yang wajib kita terlantarkan, sementara yang itu nanti kita dimintai pertanggungjawaban di situ. Sementara yang sebenarnya itu bukan tanggung jawab kita… itu terus kita ngurusinnya jauh lebih serius, menghabiskan energi lebih banyak waktu lebih besar sementara tanggung jawab kita terabaikan,” ucapnya.
Merumuskan prioritas tentu tidak terjadi dalam ruang hampa. Fahruddin memberikan cetak biru sederhana yang sistematis: untuk tahu prioritas, seseorang harus memiliki tujuan hidup. Dan untuk merumuskan tujuan hidup yang presisi serta realistis, seseorang wajib mengenali dirinya sendiri secara jujur melalui laku muhasabah (introspeksi) dan belajar mengambil jarak sejenak dari kebisingan dunia.
Menariknya, di balik pemikiran filosofisnya yang mendalam, Fahruddin Faiz merupakan sosok yang membumi. Ia tak segan menceritakan masa lalunya yang juga penuh keprihatinan saat menjadi mahasiswa introvert di Yogyakarta, sebuah fase penuh keterbatasan yang justru menempanya. Baginya, tekanan dan masalah hidup bukanlah alasan untuk runtuh, melainkan bahan bakar bagi sebuah konsep psikologis yang ia sebut sebagai ketegangan kreatif (creative tension).
“Mari kita kendarai masalah yang kita hadapi itu untuk melahirkan kita yang baru dengan ide-ide yang original dengan gagasan-gagasan genuin, itu yang tadi saya sebut dengan istilah creative tension,” tuturnya.
Melalui paradigma ini, masalah bukan lagi momok, tapi anak tangga spiritual dan intelektual. Pandangan ini menolak mentah-mentah fenomena toxic positivity penipuan diri dengan menyatakan semuanya baik-baik saja padahal dunia sedang remuk. Fahruddin Faiz menegaskan bahwa kita harus berani mengakui realitas yang pahit, namun tetap gigih menyalakan daya adaptasi demi menaikkan level kapasitas diri.
“Jangan meminta dunia yang bersih dari masalah, tapi mintalah dirimu yang kuat menghadapi masalah. Kuncinya di situ,” ujar pria kelahiran Mojokerto, Jaa Timur itu.
Ketika sejarah dunia terus menggelinding layaknya roda cokro manggilingan bergerak dari zaman makmur (kolosebo) menuju zaman edan atau kekacauan (kolotido dan kolobendu) satu-satunya jangkar penyelemat manusia adalah kemampuan untuk eling lan waspada. Tetap sadar, eling kepada Sang Pencipta dan kesadaran sosial, serta waspada menjaga kendali diri.
Adapun pada akhirnya, perenungan bersama Fahruddin Faiz ini meletakkan sebuah pesan kuat. Di hadapan ketidakpastian zaman yang serba riuh, kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan cara menuntut dunia luar agar berubah sesuai kehendak kita. Melainkan, ia bersemayam pada ketangguhan jiwa yang senantiasa waras, mengalir ikhlas menghadapi ketidakjelasan takdir sembari terus berbuat yang terbaik sejauh batas kuasa yang kita miliki.









