Fahruddin Faiz: Menunggangi Badai Ketidakpastian dengan Akal Jernih dan Jiwa Terlatih

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar Fahruddin Faiz dalam channel YouTube mojokdotcp, program PUTCAST, diunggah pada 9 Maret 2026

Tangkapan layar Fahruddin Faiz dalam channel YouTube mojokdotcp, program PUTCAST, diunggah pada 9 Maret 2026

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Di era disrupsi yang serba-cacat dan riuh oleh banjir informasi, pakar filsafat Islam ini mengajak kita menengok kembali kedalaman jiwa lewat laku ‘eling lan waspado’ serta filosofi Jawa kuno.

Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Dari guncangan geopolitik di Eropa Timur hingga ketegangan Laut China Selatan, bayang-bayang resesi ekonomi, sampai kecerdasan buatan (AI) yang perlahan merampas ruang kerja manusia, ketidakpastian telah menjadi menu harian.

Di tengah pusaran yang oleh para ekonom disebut sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) ini, manusia modern terutama generasi muda kerap didera krisis eksistensial, kecemasan akut, hingga kerapuhan mental. Kita mendadak gagap membedakan mana yang esensial dan mana yang sekadar riuh rendah.

Namun bagi Dr. Fahruddin Faiz, kekacauan ini bukanlah barang baru dalam panggung peradaban. Duduk santai dalam sebuah perbincangan hangat di Putcast bersama Putut EA, akademisi dan pengampu Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta ini melontarkan pandangan makronya. Ia mengajak kita merentang waktu jauh ke masa silam guna membaca pola sejarah yang rupanya selalu berulang.

“Kalau kita jeli sebenarnya sejarah dunia ini memang sejarah keos. Dari keos ke keos… memang karakternya sejarah manusia itu semacam itu senantiasa keos, senantiasa rumit, kompleks, naik turun, tidak terduga,” ucap Dosen UIN Sunan Kalijaga itu.

Kekacauan sejarah, menurutnya, telah diramalkan sejak awal penciptaan manusia. Namun, yang membedakan kualitas hidup kita di tengah kekacauan bukanlah hilangnya badai, melainkan cara kita memosisikan diri di hadapan badai tersebut. Di sinilah Fahruddin Faiz membedah pentingnya warisan kearifan lokal, sebuah konsep psikologi kultural Jawa kuno yang luar biasa kontekstual untuk menjinakkan disrupsi modern.

Baca Juga:  Uwai Malalo: Penjaga Ortodoksi dan Simpul Transmisi Syathariyah di Ranah Minang

“Ada istilah menarik dalam filsafat Jawa itu menyikapi naik turunnya hidup itu: ojo gumunan, ojo kagetan. Bukan apa-apa, orang yang gampang takjub, gampang kaget, gampang kedistrak terus pikirannya jadi ndak jernih terus gampang dimanipulasi,” tegasnya dalam video yang diunggah pada 9 Maret 2026 tersebut.

Di era ketika algoritma media sosial mendikte emosi dan menciptakan fenomena FOMO (Fear of Missing Out), absennya kejernihan berpikir membuat kita rentan. Informasi datang berkejaran, merangsang manusia untuk selalu ikut campur, berkomentar, dan akhirnya terjebak dalam pusaran emosi yang melelahkan. Efek domino dari ketidakjernihan ini adalah hilangnya kompas prioritas.

Fahruddin Faiz menekankan bahwa ketidakpastian dunia global kerap kali membuat anak muda salah meletakkan fokus. Mereka merisaukan ancaman-ancaman makro yang jauh di luar kendali mereka, namun justru menelantarkan tanggung jawab riil yang ada di depan mata. Energi habis untuk urusan sekunder, sementara hal primer yang bersifat wajib justru terabaikan.

“Penting kita punya prioritas karena jangan sampai kemudian yang primer yang wajib kita terlantarkan, sementara yang itu nanti kita dimintai pertanggungjawaban di situ. Sementara yang sebenarnya itu bukan tanggung jawab kita… itu terus kita ngurusinnya jauh lebih serius, menghabiskan energi lebih banyak waktu lebih besar sementara tanggung jawab kita terabaikan,” ucapnya.

Merumuskan prioritas tentu tidak terjadi dalam ruang hampa. Fahruddin memberikan cetak biru sederhana yang sistematis: untuk tahu prioritas, seseorang harus memiliki tujuan hidup. Dan untuk merumuskan tujuan hidup yang presisi serta realistis, seseorang wajib mengenali dirinya sendiri secara jujur melalui laku muhasabah (introspeksi) dan belajar mengambil jarak sejenak dari kebisingan dunia.

Menariknya, di balik pemikiran filosofisnya yang mendalam, Fahruddin Faiz merupakan sosok yang membumi. Ia tak segan menceritakan masa lalunya yang juga penuh keprihatinan saat menjadi mahasiswa introvert di Yogyakarta, sebuah fase penuh keterbatasan yang justru menempanya. Baginya, tekanan dan masalah hidup bukanlah alasan untuk runtuh, melainkan bahan bakar bagi sebuah konsep psikologis yang ia sebut sebagai ketegangan kreatif (creative tension).

Baca Juga:  Hikayat Perjuangan Panglima Polem: Keteguhan Sang Pang Sagoe Menantang Angkara Kompeni

“Mari kita kendarai masalah yang kita hadapi itu untuk melahirkan kita yang baru dengan ide-ide yang original dengan gagasan-gagasan genuin, itu yang tadi saya sebut dengan istilah creative tension,” tuturnya.

Melalui paradigma ini, masalah bukan lagi momok, tapi anak tangga spiritual dan intelektual. Pandangan ini menolak mentah-mentah fenomena toxic positivity penipuan diri dengan menyatakan semuanya baik-baik saja padahal dunia sedang remuk. Fahruddin Faiz menegaskan bahwa kita harus berani mengakui realitas yang pahit, namun tetap gigih menyalakan daya adaptasi demi menaikkan level kapasitas diri.

“Jangan meminta dunia yang bersih dari masalah, tapi mintalah dirimu yang kuat menghadapi masalah. Kuncinya di situ,” ujar pria kelahiran Mojokerto, Jaa Timur itu.

Ketika sejarah dunia terus menggelinding layaknya roda cokro manggilingan bergerak dari zaman makmur (kolosebo) menuju zaman edan atau kekacauan (kolotido dan kolobendu) satu-satunya jangkar penyelemat manusia adalah kemampuan untuk eling lan waspada. Tetap sadar, eling kepada Sang Pencipta dan kesadaran sosial, serta waspada menjaga kendali diri.

Adapun pada akhirnya, perenungan bersama Fahruddin Faiz ini meletakkan sebuah pesan kuat. Di hadapan ketidakpastian zaman yang serba riuh, kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan cara menuntut dunia luar agar berubah sesuai kehendak kita. Melainkan, ia bersemayam pada ketangguhan jiwa yang senantiasa waras, mengalir ikhlas menghadapi ketidakjelasan takdir sembari terus berbuat yang terbaik sejauh batas kuasa yang kita miliki.

Berita Terkait

Barang yang Wajib Masuk Kabin Pesawat Saat Terbang
Pakar Sarankan Penumpang Cetak Boarding Pass Fisik
Lima Cara Memilah Sampah dari Rumah, Mudah Dilakukan
Waspadai Doomjobbing, Melamar Kerja Tanpa Arah
Cara Mengatasi Kucing Liar yang Suka Masuk Rumah
7 Ciri Kamu Tidak Bisa Mengendalikan Emosi
Alasan Anak Suka Mengobrol dengan Boneka
5 Cara Mengatasi Anak Kecanduan Merokok secara Bertahap

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Barang yang Wajib Masuk Kabin Pesawat Saat Terbang

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Pakar Sarankan Penumpang Cetak Boarding Pass Fisik

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:02 WIB

Lima Cara Memilah Sampah dari Rumah, Mudah Dilakukan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Waspadai Doomjobbing, Melamar Kerja Tanpa Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:50 WIB

Cara Mengatasi Kucing Liar yang Suka Masuk Rumah

Berita Terbaru

Advokat Hafis Alfarisi saat menjadi narasumber podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendir)

Ekonomi

HGU Perusahaan vs Tanah Adat, Advokat Pilih Jalan Damai

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:45 WIB

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB