Jakarta, ArgumenRakyat.com — Mengajarkan anak mengelola emosi sejak dini membantu mereka menghadapi rasa marah, kecewa, dan frustrasi dengan cara yang lebih sehat, dimulai dari memberi contoh, menghindari hukuman keras, hingga bermain peran, Senin (31/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemampuan mengendalikan emosi memang belum berkembang sempurna pada masa kanak-kanak. Bagian otak yang berperan mengatur emosi, mengambil keputusan, dan mengendalikan perilaku masih dalam tahap perkembangan, sehingga anak membutuhkan pendampingan dan contoh dari orang-orang di sekitarnya.
Contoh dan Konsekuensi yang Sehat
Anak banyak belajar dengan mengamati perilaku orang tua. Ketika sedang kesal, orang tua bisa mengatakan, "Ibu sedang marah. Ibu akan menenangkan diri dulu sebelum bicara." Dengan contoh tersebut, anak belajar bahwa marah atau kecewa adalah hal yang wajar, tetapi emosi tetap perlu disampaikan dengan cara yang tepat.
Memberikan konsekuensi saat anak berbuat salah tetap diperlukan, namun hukuman sebaiknya tidak berbentuk kekerasan fisik maupun verbal. Pola asuh yang keras justru membuat anak takut dan kesulitan memahami cara mengelola emosi. Kemampuan ini juga perlu diperkenalkan bertahap sejak dini melalui percakapan sederhana, buku cerita, gambar, atau permainan.
Ketika anak berhasil mengungkapkan perasaan dengan cara yang baik, berikan apresiasi. Misalnya, ketika anak memilih mengatakan "Aku marah" daripada berteriak atau memukul, orang tua dapat memberi pujian. Pujian sederhana atau pengakuan atas usaha anak sudah cukup untuk memperkuat perilaku positif.
Bermain Peran dan Tetap Tenang
Bermain peran menjadi cara menyenangkan untuk mengajarkan anak mengenali emosi, misalnya berpura-pura menjadi teman yang berebut mainan atau seseorang yang kecewa. Setelah itu, ajak anak membicarakan perasaan tokoh dan tanyakan apa yang sebaiknya dilakukan. Orang tua juga disarankan tetap tenang saat anak tantrum, karena suara yang tenang dan sikap konsisten membantu anak merasa aman.
Jika anak terus mengalami kesulitan mengendalikan emosi hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan dengan orang lain, atau proses belajar, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional. Kemampuan mengelola emosi merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap dan membutuhkan waktu, kesabaran, serta konsistensi.









