Refleksi Akhir Pekan: Urgensi Ruang Publik Ramah Keluarga di Seluruh Daerah

- Jurnalis

Minggu, 10 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Refleksi Akhir Pekan: Urgensi Ruang Publik Ramah Keluarga di Seluruh Daerah (Foto AI)

Ilustrasi Refleksi Akhir Pekan: Urgensi Ruang Publik Ramah Keluarga di Seluruh Daerah (Foto AI)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Setiap akhir pekan, pusat keramaian di berbagai kota di Indonesia selalu padat. Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar mengalami hal serupa. Warga berbondong-bondong melepas penat bersama keluarga. Namun, lonjakan pengunjung ini memicu diskusi nasional. Isu utamanya: keterbatasan ruang publik yang representatif, aman, dan ramah keluarga.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harapan Warga dari Berbagai Daerah

Warga dari sejumlah daerah menyampaikan harapan serupa kepada pemerintah pusat dan daerah. Mereka meminta agar pembangunan ruang publik memprioritaskan area terbuka hijau. Area itu juga harus dilengkapi fasilitas edukasi anak. Menurut mereka, langkah ini krusial. Sebab, ruang publik yang baik dapat meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat. Di sisi lain, ruang publik juga menggerakkan roda ekonomi pedagang kecil di sekitarnya.

Kementerian PUPR merilis data pada 2024. Rata-rata rasio ruang terbuka hijau (RTH) publik di kota besar Indonesia baru mencapai 18,7 persen. Angka ini masih jauh di bawah target ideal. Undang-Undang Penataan Ruang menetapkan target 30 persen.

Baca Juga:  Mengenal Ragam Kuliner Nusantara yang Mendunia: Dari Rendang Hingga Tempe

Perlunya Penataan Kota yang Ramah Pejalan Kaki

Tak hanya RTH, warga juga mendorong penataan kota berorientasi kenyamanan pejalan kaki. Mereka juga ingin ruang kreatif bagi generasi muda. Contoh ruang kreatif: panggung komunitas, area mural, atau taman baca. Pengamat tata kota dari Universitas Gadjah Mada menegaskan dampak positif ruang publik ramah keluarga. Dampaknya berganda.

Apa saja dampak tersebut? Pertama, ruang publik meningkatkan interaksi sosial. Kedua, ruang publik mendorong omset pedagang kecil. Omset bisa naik 30-50 persen pada akhir pekan. Ketiga, ruang publik menaikkan indeks kebahagiaan masyarakat secara signifikan. Contoh positif sudah ada. Kawasan car free night di Solo dan taman edukasi di Surabaya berhasil. Pemerintah perlu memperluas konsep ini ke wilayah pinggiran. Daerah lain juga harus mereplikasinya.

Baca Juga:  Pramono Anung Ingatkan Sanksi Tegas bagi Pembuang Sampah di Sungai

Masyarakat Tidak Minta Kemewahan

Masyaraku tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya butuh tempat duduk, penerangan, akses listrik sederhana, dan ruang bermain yang aman. Kementerian terkait bersama pemerintah daerah harus bergerak cepat. Mereka wajib mempercepat pemenuhan RTH 30 persen. Selain itu, mereka perlu menyediakan anggaran partisipatif. Swasta juga harus dilibatkan melalui skema CSR.

Fenomena padatnya pusat kota setiap Minggu adalah alarm. Alarm itu menunjukkan masyarakat haus akan ruang publik yang layak. Investasi pada ruang publik ramah keluarga bukan lagi kemewahan. Investasi ini adalah kebutuhan dasar perkotaan. Dampaknya langsung terasa: kebahagiaan warga meningkat, ekonomi lokal tumbuh, dan masa depan generasi muda Indonesia terjamin. (**)

Berita Terkait

Fahruddin Faiz: Menunggangi Badai Ketidakpastian dengan Akal Jernih dan Jiwa Terlatih
Pramono Anung Ingatkan Sanksi Tegas bagi Pembuang Sampah di Sungai
Beruang Madu Korban Jerat Nilon di Perkebunan Karet Pasaman Dievakuasi ke Sijunjung
Kemucunlan Harimau Kembali Terlihat di Nagari Koto Rantang, Agam: Kali Ini Dua Ekor
Jebakan ‘Lifestyle Creep’: Alasan Mengapa Gaji Naik Tapi Tabungan Tetap Segini-Sini Saja
Tren ‘Co-Working Space’ Alternatif:Kedai Kopi Lokal Bertransformasi Jadi Kantor Kedua Anak Muda
Coba ‘Digital Detox’ Malam Ini: Manfaat Mematikan Layar HP Sejenak demi Kesehatan Mental
Butuh Ketenangan? Ini Destinasi Wisata Alam Hidden Gem yang Wajib Dikunjungi

Berita Terkait

Senin, 6 Juli 2026 - 13:43 WIB

Fahruddin Faiz: Menunggangi Badai Ketidakpastian dengan Akal Jernih dan Jiwa Terlatih

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:28 WIB

Pramono Anung Ingatkan Sanksi Tegas bagi Pembuang Sampah di Sungai

Sabtu, 20 Juni 2026 - 18:52 WIB

Beruang Madu Korban Jerat Nilon di Perkebunan Karet Pasaman Dievakuasi ke Sijunjung

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:17 WIB

Kemucunlan Harimau Kembali Terlihat di Nagari Koto Rantang, Agam: Kali Ini Dua Ekor

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:00 WIB

Jebakan ‘Lifestyle Creep’: Alasan Mengapa Gaji Naik Tapi Tabungan Tetap Segini-Sini Saja

Berita Terbaru