PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Ibrahim Datuk Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, tetapi pemikirannya justru lebih dikenal di luar kampung halamannya sendiri. Herman R mengurai dialog bersama Ferizal Ridwan dan Afdal Bonai soal daulat pemikiran sang pahlawan yang terasing serta wacana pemulangan makamnya.
Oleh: Herman R, Direktur Utama PT Dimensia Digital Multimedia & Pimpinan Podcast Kusieh Bendi
Keberanian untuk melahirkan sebuah kebaruan di tengah kepungan dogma konservatif daerah sering kali menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Menyimak jalannya dialog intim dalam Kusieh Bendi Podcast bersama Ferizal Ridwan—Mantan Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota—dan Afdal Bonai, seorang petualang sosiologis sekaligus pengagum pemikiran Tan Malaka, kita seakan diajak menelusuri kembali urat nadi kreativitas dan marwah historis di Luak Limopuluah. Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota sejak lama sebenarnya telah memiliki legalitas informal sebagai kantong kebudayaan dan intelektualitas yang subur, sebuah wilayah tempat para pemikir revolusioner kaliber dunia tumbuh secara alami. Di tanah Nagari Pandam Gadang, Suliki ini, ekosistem sejarah menyimpan modal sosial dan intelektual yang sangat besar melalui warisan Ibrahim Datuk Tan Malaka, sang Pemegang Cakra Adat tertinggi yang membawahi 142 pemangku adat (Ninik Mamak). Potensi heroisme ini kian menemukan momentum emasnya di era disrupsi informasi, di mana media siber dan ruang podcast mampu membedah ulang materi literasi kiri yang sempat dilarang, sekaligus mentransformasi situs Rumah Gadang warisan sejarah tersebut menjadi episentrum cagar budaya, perpustakaan nasional, hingga rencana pendirian universitas berbasis pemikiran global.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Pahlawan yang Terasing di Tanah Sendiri
Namun, reputasi masa lalu dan besarnya potensi intelektual tersebut kerap kali mengalami disonansi akut ketika dihadapkan pada realitas paradoks birokrasi pemerintahan serta trauma politik di tingkat lokal. Paradoks terbesar yang kasat mata di depan meja redaksi kita adalah fenomena amnesia sejarah akut di kalangan masyarakat tapak, tempat pahlawan besar itu sendiri dilahirkan. Sungguh ironis, generasi muda di luhak ini tumbuh dengan hanya mengenali “Tan Malaka” sebatas deretan aspal nama jalan lurus, tanpa memahami substansi bahwa pemikiran tokoh tersebut merupakan cetak biru pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia. Ketakutan warisan Orde Baru yang melabeli Tan Malaka secara sepihak memicu pengabaian struktural yang kaku; pihak negara sempat enggan melayani hak-hak kepahlawanannya, birokrasi daerah memboikot dan menarik fasilitas operasional penjemputan jasad, bahkan sempat terjadi resistensi sosiologis berupa demonstrasi penolakan dari masyarakat Selopanggung, Kediri, tempat sang Bapak Republik dieksekusi secara senyap. Situasi pelik ini memaksa seorang pejabat daerah mesti menggadaikan Surat Keputusan (SK) jabatan pribadinya demi mendanai sebuah ekspedisi sakral pemulangan marwah adat yang terlantar.
Secara jurnalistik, jika kita analisis menggunakan pisau bedah sosiologi politik dan hukum adat Minangkabau, akar masalah ini bertumpu pada sumbatan pemahaman atas dualisme hukum waris serta posisi epistemologis sang pahlawan. Selama puluhan tahun, terjadi perdebatan yuridis internasional yang kaku mengenai kepengurusan hak kekayaan intelektual (copyright) karya Tan Malaka, karena hukum nasional memprioritaskan keturunan sedarah langsung, sementara sistem kekerabatan adat Minangkabau menggariskan pewarisan kolektif berdasarkan garis ibu (matrilineal) kepada kaum suku yang diwakili kepengurusan yayasan. Dari sudut pandang metodologi, buku-buku monumental seperti Madilok (Materialisme, Dialektika, Logika) dan Masa Aksi membuktikan bahwa Tan Malaka bukanlah pemikir mistis. Beliau adalah seorang intelektual rigid yang secara konsisten menegaskan di mimbar Komintern Moskwa bahwa pergerakan kemerdekaan Hindia tidak dapat dipisahkan dari spirit Pan-Islamisme. Pembungkaman sejarah pasca-peristiwa 1965 tidak hanya merugikan keluarga, melainkan membuat bangsa ini berutang besar pada orisinalitas konsep bernegara yang diletakkan oleh para pendiri bangsanya sendiri.
Bukti empiris di berbagai wilayah dan belahan dunia menunjukkan bahwa pemulangan jasad patriotik dan rekonsiliasi sejarah mampu mengungkit kedaulatan pariwisata minat khusus serta martabat kebudayaan suatu daerah. Kita bisa menengok bagaimana Pemerintah Rusia mengorganisasi pemulangan jasad para jenderal dan pemikir besar mereka yang terasing di luar negeri pasca-runtuhnya Uni Soviet, guna meneguhkan kembali identitas nasional serta mengonversi situs pemakaman mereka menjadi pusat riset sejarah dunia. Di panggung global, Negara Prancis memfungsikan bangunan Panthéon di Paris sebagai tempat peristirahatan terakhir yang sakral bagi para pemikir bangsa seperti Voltaire dan Rousseau, di mana pengelolaan narasi sejarahnya diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan nasional secara wajib. Begitu pula di tingkat regional Sumatra, keberhasilan Pemerintah Kota Sawahlunto dalam mengemas situs warisan tambang menjadi ruang cagar budaya internasional membuktikan bahwa komodifikasi narasi sejarah secara profesional mampu menghasilkan devisa pariwisata yang mandiri dan berdaulat bagi daerah.
Solusi Taktis: Pemulangan Makam dan Literasi Sejarah
Sebagai solusi taktis, Kementerian Kebudayaan bersama Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan Kabupaten Limapuluh Kota harus segera merumuskan regulasi bersama (Joint Regulation) untuk melakukan kurasi ilmiah dan digitalisasi seluruh naskah aseli karya Tan Malaka guna dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah menengah se-Sumatra Barat dalam kurun waktu satu tahun ajaran baru. Setelah payung hukum pelestarian ini berjalan, Pengurus Yayasan Ibrahim Datuk Tan Malaka bersama Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) wajib menetapkan standardisasi protokol ritual adat tahunan (Haul) di kompleks makam Suliki. Sinergi ini dijalankan dengan memanfaatkan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) guna menggerakkan keterlibatan ekonomi warga nagari melalui pengelolaan pemondokan (homestay) bagi para peneliti. Secara pararel, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bertugas mempercepat perbaikan infrastruktur jalan masuk dan jembatan penghubung menuju situs cagar budaya nasional Rumah Gadang Tan Malaka agar representatif bagi kunjungan wisatawan mancanegara.
Dari sisi penguatan literasi komunal dan pembangunan kapasitas sumber daya manusia, Manajemen Tan Malaka Institute bersama Kolektif Pemuda Mandiri wajib menginisiasi program pelatihan pemandu wisata sejarah (historical tour guide) berbasis penguasaan multibahasa bagi anak-anak muda setempat. Langkah nyata ini mendesak dilakukan agar mereka mampu menjadi warga global (global citizen) yang cakap membedah isi buku Dari Penjara ke Penjara di hadapan para turis, tanpa tercerabut dari akar tauhid dan etika moral Minangkabau. Terakhir, PT Dimensia Digital Multimedia bersama kru redaksi Kusieh Bendi Podcast bertindak sebagai inkubator konten kreatif dengan merancang produksi serial dokumenter siber bertajuk “Patriot yang Hilang”. Langkah strategis ini ditempuh guna mendiseminasikan bukti-bukti ilmiah kecocokan DNA forensik serta testimoni saksi mata sejarah secara luas ke platform media sosial, sekaligus mengikis sisa-sisa trauma politik masa lalu di tengah pergaulan generasi muda modern.
Mari kita camkan bersama petuah luhur bahwa suara seorang pemikir sejati sering kali akan menggema jauh lebih besar dari dalam kubur ketimbang saat ia masih berdiri di atas bumi. Harapan besar kita di masa depan adalah lahirnya silih berganti tunas-tunas muda dari Luak Limopuluah yang memiliki tulang punggung lurus, berilmu pengetahuan tinggi, dan tidak pernah tunduk pada penindasan pemikiran modern dalam bentuk apa pun. Melalui ketajaman pena jurnalistik dan konsistensi mikrofon redaksi, kita harus terus mengawal proses pengalokasian hak intelektual serta pembangunan infrastruktur fisik universitas ini agar tidak mandek di tengah jalan. Ketika sinergi antara ketulusan gerilya kultural para aktivis, ketegasan regulasi birokrasi, dan kesadaran sejarah masyarakat telah menyatu, maka marwah Ibrahim Datuk Tan Malaka akan pulang seutuhnya, memandu langkah anak cucu luhak ini untuk melangkah dengan gagah menuju panggung dunia.
Artikel ini bagian dari rangkaian tulisan Kusieh Bendi Podcast Episode 10 bersama Ferizal Ridwan dan Afdal Bonai — “Misteri Penjemputan Makam Tan Malaka”. Video lengkapnya: youtu.be/nCuMtRf6VAc.









