JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menilai digitalisasi pasar rakyat membuka peluang pedagang menjangkau konsumen lebih luas, tidak lagi bergantung pada pembeli yang datang langsung ke pasar.
Menurut Dyah, sistem pembayaran daring sudah masuk ke pasar-pasar rakyat. Pedagang tetap bisa berjualan seperti biasa, namun sekaligus melayani pembeli melalui kanal penjualan online sehingga menjangkau konsumen yang berbeda.
“Contoh bagaimana sih perdagangan di level masyarakat, di pasar rakyat, payment system online itu sudah masuk ke pasar-pasar. Untuk para pedagang selain mereka bisa berjualan seperti biasa gitu ya, tapi mereka juga bisa berjualan secara online. Sehingga mereka menyentuh jangkauan konsumen yang berbeda,” kata Dyah dalam panel diskusi FEKDI & IFSE 2026 di Jakarta, Jumat (25/9).
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →6.870 Pasar Rakyat Difasilitasi Digital
Pada 2025, Kementerian Perdagangan bersama lintas instansi memberikan fasilitasi digital kepada sekitar 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300 ribu pedagang. Fasilitasi itu mencakup sistem pembayaran daring serta pelatihan agar pedagang dapat memanfaatkan kanal penjualan online.
Digitalisasi dinilai menciptakan efek pengganda bagi perekonomian karena teknologi tidak hanya dipakai untuk transaksi, tetapi juga membantu pelaku usaha memperluas jangkauan perdagangan. “Memang ini adalah sesuatu hal yang suka tidak suka, kita memang harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi,” ujar Dyah.
InaExport dan Adaptasi Pelaku Usaha
Kemendag juga mendorong pelaku usaha dikenal di pasar internasional melalui platform InaExport yang menampilkan produk Indonesia secara daring. Upaya itu didukung perwakilan perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center di 33 negara.
Dyah menekankan perluasan akses pasar lewat teknologi membutuhkan kemampuan pelaku usaha untuk beradaptasi. Ia mencontohkan teknologi dapat membawa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke pasar yang sebelumnya tidak tersentuh sehingga daya saingnya meningkat.
Sore itu, pemilik sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan tampak sibuk melayani pembeli yang datang bukan dari kampungnya sendiri. Beberapa di antaranya mengaku menemukan kedai itu dari potongan video berdurasi 30 detik yang rutin diunggah pemiliknya. Tiga bulan sebelumnya, kedai tersebut nyaris tidak dikenal di luar lingkungan sekitar.
Apa yang terjadi pada kedai itu bukan kebetulan. Mesin pencari dan media sosial kini menjadi etalase pertama bagi calon pembeli: mereka mengetik kebutuhan, melihat pilihan, lalu memutuskan. Bagi usaha kecil, artinya sederhana, yang tidak terlihat secara digital cenderung tidak ikut dipertimbangkan. Karena itu, merawat konten video secara berkala, disertai pemahaman digital marketing dan optimasi mesin pencari, menjadi cara paling masuk akal agar usaha tetap ditemukan, bukan hanya viral sesaat.
Menyusun semua itu memang butuh waktu dan tenaga, dan di sinilah Dimensia Creative dapat menjadi pendamping, mulai dari produksi konten video, siaran langsung, sampai strategi digital marketing yang terukur. Percakapan bisa dimulai lewat WhatsApp 0812-6349-2788 atau dengan melihat layanan kami di dimensiacreative.com.
Untuk membangun kepercayaan yang lebih dalam, cerita panjang punya tempatnya sendiri. Podcast Kusieh Bendi memberi ruang bagi pemilik usaha menuturkan suka duka membangun bisnis, dan bagi tokoh daerah memaparkan gagasan. Pendengar cenderung mengingat orang, bukan sekadar iklan. Contoh format kolaborasinya ada di dimensiacreative.com/proposal.









