Kuasa Hukum Temukan Sembilan Kejanggalan Hukum Acara Perkara Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Eks Jampidsus, Febrie Ardiansyah. (Dok. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi)

Foto: Eks Jampidsus, Febrie Ardiansyah. (Dok. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi)

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Tim penasihat hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, Febri Diansyah, mengklaim menemukan sedikitnya sembilan indikasi pelanggaran prosedur atau due process of law dalam penanganan perkara yang menjerat kliennya di Kejaksaan Agung (Kejagung).

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Febri, temuan materiil dan formil tersebut diperoleh usai tim kuasa hukum mendalami anatomi pokok perkara bersama Febrie secara komprehensif.

“Kami mengidentifikasi setidaknya ada sembilan kejanggalan atau indikasi pelanggaran hukum acara dalam penanganan perkara dengan tersangka Pak FA yang ditangani oleh Kejaksaan Agung,” ungkap Febri sebagai kuasa hukum dari eks Jampidsus Febrie Ardiansyah, pada Senin (8/3).

Kekeliruan Sprindik hingga Anomali Tempus Delicti

Febri membeberkan, temuan kekeliruan prosedural pertama berkaitan dengan penerbitan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik). Menurutnya, terdapat praktik penyatuan dua delik pidana berbeda yakni tindak pidana korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam satu dokumen Sprindik.

“Kami menemukan dari tiga sprindik tersebut ada praktik penggabungan dua perkara tindak pidana dalam satu sprindik. Jadi ada perkara tindak pidana korupsi dan TPPU, padahal seharusnya tidak boleh seperti itu,” ujarnya.

Tak hanya itu, Febri menyoroti inconsistencies redaksional pada bagian konsiderans pertimbangan dan klausul perintah penyidikan yang terkesan tidak sinkron.

“Kekeliruan penulisan di sprindik yang tidak konsisten antara bagian ‘menimbang’ dan bagian ‘perintahnya’. Jadi di bagian menimbangnya itu disebut misalnya kasusnya adalah terkait dengan anak perusahaan Krakatau Steel, tapi perintahnya terkait dengan penyidikan batu bara, dan sebaliknya,” tutur mantan Jubir KPK itu.

Kejanggalan lain terlihat pada penulisan rentang waktu terjadinya tindak pidana (tempus delicti) yang dinilai janggal dan prematur.

Baca Juga:  Politikus Gerindra, Habiburokhman Paparkan Regulasi Jabatan Polri Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi

“Kami menemukan di salah satu sprindik itu tertulis tentang waktu kasus batu bara itu dari tahun 2028 sampai dengan tahun 2026. Jadi ini seperti sprindik yang menulis masa depan begitu ya, dari 2028 sampai dengan 2026,” tegasnya.

Penerapan Asas Lex Favor Reo dan Kejelasan Predicate Crime

Selain aspek administrasi, tim kuasa hukum menilai penetapan tersangka TPPU menabrak prinsip lex favor reo sebagaimana diatur dalam Kodifikasi Hukum Pidana (KUHP) terbaru.

“Kami juga menemukan penetapan tersangka pencucian uang melanggar prinsip lex favor reo di KUHP baru. Di sprindik itu disebutkan penetapan tersangka melanggar pasal di UU 8 Tahun 2010 di Pasal 3, 4, 5, padahal pasal-pasal tersebut sudah diubah, sudah diatur yang baru di KUHP baru di Pasal 607,” ujarnya.

Febri menambahkan, tindak pidana asal (predicate crime) yang menjadi pemicu sangkaan TPPU terhadap kliennya masih samar dan tidak akurat.

“Predicate crime tidak jelas pada penetapan tersangka dan penetapan tersangka tidak sinkron dengan sprindik utamanya, sprindik utama TPPU maksud saya,” kata Febri.

Ia menerangkan bahwa dalam Sprindik utama TPPU disebutkan perkara tindak pidana asal terkait kasus PT ASABRI, tetapi penetapan tersangka justru menyoroti rentang waktu yang tidak sinkron.

“ASABRI ini kan penanganan perkaranya di 2021 atau 2022 di Kejaksaan Agung, sementara di sprindik penetapan tersangkanya disebut rentang waktunya dari 2018 sampai dengan 2026. Jadi ada zona yang tidak jelas antara 2021-2022 dan mundur ke belakang di 2018,” tegas alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Keabsahan Legalitas dan Prosedur Penahanan

Lebih jauh, tim penasihat hukum juga menyoal keabsahan prosedur paksa berupa penahanan yang tidak memenuhi elemen yuridis sesuai regulasi hukum acara pidana.

Baca Juga:  Febrie Ardiansyah Jawab Isu Pengunduran Diri hingga Penggeledahan Rumah Sentul oleh Polri

“Terkait dengan penahanan, kami indikasikan ada pelanggaran Pasal 100 ayat 5 KUHAP, di mana syarat-syarat penahanan, ada delapan syarat penahanan tersebut, salah satunya pun tidak dicantumkan di surat perintah penahanan,” kata Febri.

Selain itu, pemenuhan hak-hak tersangka (rights of the accused) dinilai belum diberikan secara komprehensif oleh penyidik.

“Hak tersangka ada yang tidak dipenuhi terkait dengan penyampaian informasi perkara yang sejelas-jelasnya dalam bahasa yang dimengerti,” ujarnya.

Terakhir, Febri mempertanyakan legalitas pejabat (authority) yang membubuhkan tanda tangan pada lembar Sprindik tersebut.

“Kami juga menemukan pihak yang menandatangani sprindik itu tidak berwenang. Ini tentu saja mengacu pada aturan internal di Kejaksaan Agung, sebenarnya, Surat Perintah Penyidikan itu apakah bisa langsung ditandatangani oleh penyidik atau ditandatangani oleh Jampidsus atau ditandatangani oleh Direktur. Nah ini dalam proses yang terus kami dalami,” ucap Febri.

Rekam Jejak Kasus dan Status Penahanan

Sebelumnya, Kejagung menetapkan Febrie Adriansyah sebagai tersangka dalam kasus dugaan TPPU. Kasus ini mencuat menyusul penggeledahan oleh jajaran Polri yang menemukan barang bukti berupa 74 kilogram emas serta uang tunai bernilai miliaran rupiah di beberapa lokasi, termasuk kediaman Febrie di area Sentul.

Dengan penetapan status hukum terbaru ini, Febrie resmi menyandang status tersangka dalam dua perkara korupsi, yakni kasus korupsi PT ASABRI serta perkara dugaan TPPU.

Sementara itu, dalam dua perkara lain yang ikut diselidiki yakni penyelesaian skema utang anak perusahaan PT Krakatau Steel dan dugaan korupsi pengadaan batu bara periode 2018-2026 penyidik Kejagung belum menetapkan tersangka.

Adapun saat ini, mantan pejabat Kejaksaan Agung tersebut telah menjalani masa penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Cabang KPK.

Berita Terkait

Komisi III DPR Tunda Rapat karena Kabareskrim Absen
KPK Terbitkan 6 SP3: Ada Sekjen DPR Indra Iskandar hingga Eks Ketua DPRD Jatim
Rotasi Massal 176 Pejabat Kejagung: Penyegaran Organisasi atau Pergeseran Dudukan Jaksa Penangan Kasus Kakap?
Dedi Mulyadi Jawab Kritik Menteri HAM Natalius Pigai Soal Perlindungan Hak Korban Kejahatan
Bukan Penyegaran Biasa? Kejagung Rombak Pejabat Utama di Tengah Isu Panas Febrie Adriansyah
​KPK Dukung Penitipan Penahanan Febrie Adriansyah di Rutan KPK, Tegaskan Sinergi Antar-Lembaga Penegak Hukum
​Merasa Dikriminalisasi, Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Siap Melawan
Mahfud MD Dorong Presiden Prabowo Ambil Alih Penanganan Kasus Mantan Jampidsus Lewat KPK

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:27 WIB

Komisi III DPR Tunda Rapat karena Kabareskrim Absen

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:56 WIB

Kuasa Hukum Temukan Sembilan Kejanggalan Hukum Acara Perkara Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:22 WIB

KPK Terbitkan 6 SP3: Ada Sekjen DPR Indra Iskandar hingga Eks Ketua DPRD Jatim

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:34 WIB

Rotasi Massal 176 Pejabat Kejagung: Penyegaran Organisasi atau Pergeseran Dudukan Jaksa Penangan Kasus Kakap?

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:17 WIB

Dedi Mulyadi Jawab Kritik Menteri HAM Natalius Pigai Soal Perlindungan Hak Korban Kejahatan

Berita Terbaru

Pemkab Agam Transfer DBH Rp6,1 Miliar ke 92 Nagari. (Foto: Dok. ANTARA)

Daerah

Pemkab Agam Transfer DBH Rp6,1 Miliar ke 92 Nagari

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:35 WIB

UNAND Dorong Pengolahan Gambir Ramah Lingkungan di Pessel. (Foto: Dok. ANTARA)

Daerah

UNAND Dorong Pengolahan Gambir Ramah Lingkungan di Pessel

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:30 WIB

6 Jenis Buah yang Bisa Menurunkan Asam Urat. (Foto: Dok. Sumber Berita)

Kesehatan

6 Jenis Buah yang Bisa Menurunkan Asam Urat

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:25 WIB

7 Hobi yang Baik untuk Mental Anak, Asah Kreativitas. (Foto: Dok. Sumber Berita)

Gaya Hidup

7 Hobi yang Baik untuk Mental Anak, Asah Kreativitas

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:20 WIB

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Pakai Sidik Jari. (Foto: Dok. Sumber Berita)

Digital

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Pakai Sidik Jari

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:14 WIB