Politikus Gerindra, Habiburokhman Paparkan Regulasi Jabatan Polri Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Politikus Gerindra, Habiburokhman saat Rapat Paripurna DPR RI ke-21 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di DPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026). Sumber: YouTube/ TVR Parlemen

Foto: Politikus Gerindra, Habiburokhman saat Rapat Paripurna DPR RI ke-21 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di DPR, Senayan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026). Sumber: YouTube/ TVR Parlemen

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) tengah memasuki babak baru yang krusial. Langkah ini diambil demi merespons dinamika hukum tata negara pasca-putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait penempatan personel Korps Bhayangkara di pos-pos sipil. Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, mengungkapkan bahwa parlemen dan pemerintah kini berupaya mengurai benang kusut dualisme regulasi yang selama ini membayangi tata kelola aparatur negara.

Menurut Habiburokhman, Komisi III DPR memandang kedua putusan MK tersebut bertujuan menjawab persoalan yang selama ini muncul dalam Pasal 28 ayat (3) UU Nomor 2 Tahun 2002 dan UU Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN. Ia mengatakan MK berupaya memberikan landasan pengaturan yang lebih adil, jelas, terukur, dan seimbang terkait pengisian jabatan oleh anggota Polri. Karena itu, DPR dan pemerintah sepakat memasukkan pengaturan lebih lanjut dalam Pasal 28A UU Polri.

Dalam diskursus kedewanan tersebut, legislator alumnus Universitas Indonesia (UI) ini memberikan eksplanasi yuridis formal normatif dengan menyatakan, “Pengaturan dalam Pasal 28A menggabungkan dua amanat putusan MK dengan pengaturan yang lebih komprehensif, berkeadilan, dan seimbang. Bahwa pengisian jabatan di luar institusi Polri oleh anggota Polri hanya dapat dilakukan sepanjang berkaitan dengan lingkup tugas dan fungsi kepolisian atau melalui keputusan Presiden,” tegasnya.

Baca Juga:  KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar

Di samping itu, Ia menerangkan Pasal 28A mengatur bahwa anggota Polri pada prinsipnya hanya dapat mengisi jabatan di luar organisasi Polri pada kementerian atau lembaga yang memiliki tugas di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, pelindungan, pengayoman, pelayanan masyarakat, serta penegakan hukum.

Lebih lanjut, mantan Direktur Advokasi Tim Kampanye Nasional Prabowo–Hatta (2014) tersebut memaparkan rincian batasan institusional tersebut secara doktriner melalui kategorisasi sosiologi hukum kepolisian, “Pasal 28A secara jelas mengatur bahwa pada prinsipnya Anggota Polri hanya dapat mengisi jabatan di luar organisasi Polri yakni pada Kementerian atau Lembaga (K/L) yang membidangi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, pelindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat; serta penegakan hukum. Hal ini dicontohkan seperti pada LPSK, Korpolkam, Kemenkum, atau BNN,” jelasnya.

Baca Juga:  KPK Sita Rp106,3 Miliar di OTT ATR/BPN, 8 Tersangka

Meski demikian, pengisian jabatan pada institusi lain di luar bidang tersebut tetap dimungkinkan dengan persyaratan yang ketat.

Terkait klausul pengecualian bersyarat tersebut, ia mengemukakan argumentasi hukum yang bersifat restriktif akuntabel, “Selanjutnya, pengisian pada institusi di luar itu masih dimungkinkan dengan pengaturan yang sangat ketat, yakni sepanjang dilakukan dengan permintaan dari K/L yang bersangkutan dan terkait dengan kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh Anggota Polri; atau penugasan dari Presiden. Di luar itu semua, maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian,” kata Habiburokhman.

Ia menambahkan tata cara, syarat, dan kriteria pengisian jabatan tersebut akan diatur lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah.

Sebagai konklusi dari implementasi kebijakan delegasi perundang-undangan tersebut, ia menegaskan kepastian instrumen pelaksana legal formal, “Tata cara atau syarat dan kriterianya akan diatur secara jelas dalam Peraturan Pemerintah,” tutur Doktor Ilmu Hukum, Universitas Sebelas Maret itu.

Berita Terkait

Dua Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Nduga
Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami
KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir
Asap Karhutla Masuk Jakarta, DKI Siapkan PJJ dan WFH
KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar
MK Perintahkan Revisi UU Peradilan Militer, TNI Merespons
KPK OTT di BNPB, 14 Orang Ditangkap Termasuk Sestama
DPR Desak Karhutla Ditetapkan Jadi Bencana Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Dua Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Nduga

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:35 WIB

Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:25 WIB

KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:38 WIB

Asap Karhutla Masuk Jakarta, DKI Siapkan PJJ dan WFH

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:33 WIB

KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar

Berita Terbaru

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB

Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi. (Foto: Dok. Humas Polres Pariaman)

Daerah

Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:18 WIB