ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi. Ini pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir. S&P Global merilis data terbaru. Data itu menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun. Angkanya dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka 49,1 ini yang terendah dalam 10 bulan terakhir. Terakhir kali terjadi pada Juni 2025. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi. Angka di atas 50 berarti ekspansi.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, memberikan penjelasan. Melemahnya aktivitas produksi terutama memicu penurunan ini. Volume output sudah kontraksi dua bulan berturut-turut. Laju penurunan semakin cepat. Ini menjadi penurunan terdalam dalam hampir satu tahun.
“Perusahaan mencatat kontraksi solid pada output bulan April,” jelas Usamah. “Bukti anekdotal mengarah pada dampak kenaikan harga bahan baku. Juga kekurangan pasokan produksi.”
Dari sisi permintaan, pesanan baru masih naik tipis. Namun aksi pembelian awal lebih mendorong peningkatan itu. Pembeli ingin mengantisipasi kenaikan harga. Mereka juga khawatir potensi gangguan rantai pasok. Bukan karena penguatan permintaan yang berkelanjutan.
Sementara itu, pesanan ekspor justru menurun. Ini mencerminkan lemahnya permintaan global.
Tekanan dari sisi biaya menjadi tantangan utama. Inflasi biaya input melonjak. Ini level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan harga bahan baku memicu lonjakan itu. Kelangkaan pasokan juga jadi penyebab.
Kondisi ini tidak lepas dari konflik geopolitik di Timur Tengah. Konflik itu menekan harga. Juga mengganggu distribusi bahan baku.
Produsen meneruskan beban biaya ke konsumen. Akibatnya laju kenaikan harga jual menjadi paling tajam. Rekor ini sejak Oktober 2013.
Perusahaan juga mulai menyesuaikan aktivitas operasional. Mereka mengurangi tenaga kerja. Mereka juga mengurangi aktivitas pembelian. Seiring penurunan kebutuhan produksi, persediaan bahan baku ikut menurun. Perusahaan menggunakan cadangan stok. Mereka kesulitan memperoleh material baru. (**)









