ARGUMENRAKYAT.COM,JAKARTA –
Pernahkah Anda merasa waktu berjam-jam hilang hanya untuk menggeser layar ponsel? Akhirnya Anda merasa cemas, lelah, tetapi tetap sulit berhenti. Fenomena ini disebut scrolling fatigue. Saat ini, kondisi itu tengah melanda generasi muda.
Di sisi lain, di tengah tekanan ekonomi dan harga kebutuhan pokok yang naik, banyak anak muda melarikan diri ke konten pendek. Misalnya, TikTok, Reels, dan Shorts menjadi “obat penenang” sementara. Namun, kebiasaan ini justru berdampak buruk pada kesehatan mental.
Menurut laporan Digital 2026 dari We Are Social & Meltwater, rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari untuk media sosial. Selain itu, konten video pendek menjadi konsumsi utama. Bahkan, pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan rata-rata 1 jam 53 menit setiap harinya.
Jebakan Dopamin di Balik Layar
Lalu, mengapa sulit berhenti scrolling? Menurut psikologi, hal ini disebabkan oleh mekanisme dopamine loop. Caranya, setiap kali kita menemukan video menarik, otak melepaskan dopamin. Zat kimia ini memberikan rasa senang sesaat. Akibatnya, otak pun terus mencari konten berikutnya, meskipun tubuh sudah lelah.
Selanjutnya, kondisi ini diperparah oleh situasi ekonomi. Pertama, banyak anak muda cemas akan masa depan. Kedua, biaya hidup naik, sementara pendapatan tidak sebanding. Oleh karena itu, mereka memilih “kabur” ke dunia digital. Namun, sayangnya, paparan konten flexing dan gaya hidup mewah justru memperdalam rasa rendah diri. Dengan demikian, kecemasan sosial (Fear of Missing Out atau FOMO) pun meningkat.
Memilih Informasi Berkualitas di Tengah Sampah Digital
Untuk mengatasi hal ini, para ahli menyarankan diet digital. Maksudnya, batasi durasi konsumsi konten setiap hari. Di samping itu, darurat scrolling fatigue ini juga menjadi pengingat bagi penyedia konten dan portal informasi. Pasalnya, masyarakat mulai jenuh dengan “sampah digital”, seperti konten clickbait yang tidak memberikan nilai edukasi.
Akhir pekan ini, coba hentikan scrolling sejenak. Caranya, letakkan ponsel, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan mulai selektif memilih informasi yang masuk ke pikiran Anda.(**)









