PAYAKUMBUH – Sebuah kisah luar biasa datang dari putra asli Luak 50, Prof. Rizki Adam. Dalam sebuah perbincangan hangat di podcast Kusieh Bendi, pria kelahiran 1992 asal Mudia Sungai Naniang ini membagikan perjalanan hidupnya yang penuh liku, mulai dari menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) hingga sukses menjadi akademisi dan pengusaha nasional.
Perjuangan Hidup yang Keras
Rizki Adam mengungkapkan bahwa kesuksesannya saat ini tidak diraih dengan mudah. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup mandiri dan bekerja keras demi menempuh pendidikan.
“Kelas 1 SMA saya sempat dijual orang, saya ini korban human trafficking dulu,” ungkap Rizki [00:06]. Tak hanya itu, demi bertahan hidup dan sekolah, ia pernah melakoni berbagai pekerjaan kasar, mulai dari tukang sate, kuli bangunan kandang ayam di daerah Mungka, hingga menjadi sopir dan penjaga warnet [19:42].
Prinsipnya saat itu hanya satu: sebagai orang miskin, ia tidak memiliki pilihan lain selain sukses. “Satu saja pilihan kita sekarang kalau sudah miskin, ya harus kaya, harus sukses. There is no other choice,” tegasnya [01:06].
Terinspirasi Sosok Tan Malaka
Kecintaannya pada dunia aktivis saat kuliah di Universitas Negeri Padang membawanya mendalami pemikiran pahlawan nasional asal 50 Kota, Tan Malaka. Kini, ia menjabat sebagai Pembina Yayasan Ibrahim Tan Malaka.
Rizki berencana mendirikan Universitas Tan Malaka sebagai wadah untuk mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang memiliki pemikiran besar seperti sang Bapak Republik [16:30]. Ia berharap generasi muda Minang tidak hanya berkiblat pada budaya luar, tetapi bangga dan mempelajari sejarah pahlawan dari tanah kelahiran mereka sendiri [15:58].
Mendorong Ekonomi Digital dan Koperasi
Sebagai pengusaha yang telah 15 tahun berkecimpung di industri teknologi dan aset digital, Rizki Adam membawa visi besar untuk kampung halamannya. Ia memperkenalkan konsep tokenisasi yang dapat diterapkan pada sektor pariwisata (seperti Bali Token) hingga pertanian dan properti di Sumatera Barat [23:42].
Ia juga aktif mengembangkan Koperasi Multipihak (KMP) sebagai model ekonomi masa depan yang melibatkan investor, pengusaha, pekerja, hingga konsumen dalam satu wadah [32:29]. Melalui koperasi ini, ia mendorong digitalisasi pertanian, termasuk penggunaan drone untuk pemupukan lahan agar lebih efisien bagi petani lokal [41:53].
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup perbincangan, Prof. Rizki Adam memberikan pesan saktinya bagi anak muda yang merintis usaha dari nol. Ia menekankan bahwa kesulitan hidup adalah guru terbaik, namun pendidikan adalah kunci utama untuk merubah nasib.
“Jangan pernah menyerah. Tempuh pendidikan yang tinggi, karena dengan pendidikan kita bisa merubah kehidupan kita menjadi lebih baik,” pungkasnya [45:38].
Sumber: Podcast Kusieh Bendi (Dimensia Creative) Link Video: https://www.youtube.com/watch?v=HTsPVuhGM_Q









