ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Lama menghilang dari radar hukum pasca-terjerat skandal ijazah palsu, sang cucu konglomerat dicokok tim kejaksaan di bandara. Sempat melipir ke Negeri Singa demi menghindari jeruji besi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sabtu sore, 20 Juni 2026, terminal kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta mendadak riuh. Langkah kaki seorang pria parlente berkaus mewah mendadak terhenti saat sejumlah pria berjaket taktis menghadangnya. Pria itu adalah Richard Arief Muljadi. Sang pesohor sekaligus sosialita Jakarta ini tak berkutik kala Tim Satgas Intelijen Reformasi dan Inovasi (SIRI) Kejaksaan Agung langsung menggamit lengannya.
Richard baru saja mendarat dari pelariannya di Singapura. Alih-alih mendapatkan pengawalan karpet merah layaknya jetsetter ibu kota, ia justru disuguhi surat perintah penangkapan. Richard merupakan buronan kakap yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.
“Berkas perkara terdakwa Richard Arief Muljadi telah dilimpahkan ke persidangan, tetapi yang bersangkutan tidak pernah hadir sehingga terdakwa Richard Arief Muljadi masuk ke dalam DPO Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Anang Supriatna pada Minggu (21/6) melansir dari Tirto.id.
Jejak bermasalah Richard bermula dari kongkalikong bisnis komoditas hitam. Ia diduga melakukan penipuan dan penggelapan dalam bisnis batu bara di Kalimantan dengan taksiran kerugian korbannya mencapai Rp7 miliar.
Trah Konglomerat dan Hidup Glamor
Bagi publik, nama Richard Muljadi bukanlah sosok asing di jagat maya. Akun Instagram pribadinya, @richardmuljadi, bertahun-tahun menjadi etalase pamer kemewahan—mulai dari mobil sport mutakhir, arloji premium, hingga liburan kelas satu. Gaya hidup hedonistik ini disokong penuh oleh privilese trah keluarganya.
Pria kelahiran 1988 ini merupakan cucu kandung Kartini Muljadi, advokat senior sekaligus maestro farmasi yang langganan masuk daftar orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Ayahnya, Sutjipto Husodo Muljadi, merupakan bos PT Mulia Graha Abadi, perusahaan kakap yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi.
Latar belakang pendidikannya pun mentereng. Richard menggenggam gelar sarjana ekonomi dan pemasaran dari Monash University, Australia, pada 2009. Rekam jejak profesionalnya sempat tercatat di Ciptadana Sekuritas, korporasi migas keluarganya, hingga mendirikan perusahaan modal ventura bernama PT Dua Teknologi Global (Duatech). Namun, karir bisnisnya kerap kali tenggelam oleh sederet aksi kontroversial.
Residivis Pencari Suaka
Penangkapan di Cengkareng ini menambah panjang lembar hitam rekam jejak sang pengusaha. Pada 2018, Richard sempat menggemparkan publik saat tertangkap basah sedang mengisap kokain di dalam bilik toilet sebuah restoran elite di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Sial baginya, ia diringkus oleh seorang perwira polisi yang kebetulan berada di lokasi yang sama. Hasil tes urine mengonfirmasi zat koka di tubuhnya, memaksa hakim memvonisnya 1,5 tahun rehabilitasi narkoba.
Keluar dari jeruji rehabilitasi, tabiat kontroversialnya tak kendur. Richard kembali memanen hujatan setelah kedapatan melakukan aktivitas lari pagi di Bali dengan pengawalan ketat mobil patroli jalan raya (PJR) kepolisian. Insiden penyalahgunaan fasilitas negara itu berbuntut sanksi disiplin bagi dua anggota polisi. Belakangan terungkap, modus “pengawalan komersial” demi syahwat eksklusivitas itu juga pernah ia terapkan saat berlibur di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.
Kini, petualangan sang sosialita di atas hukum resmi berakhir. Pelariannya ke Singapura gagal menjadi benteng pertahanan. Dari bilik toilet SCBD hingga karpet imigrasi bandara, Richard kini harus menukar gaun glamornya dengan rompi tahanan kejaksaan di Banjarmasin.









