ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Rundiang mengelar kegiatan diskusi publik mengenai pemikiran dari 2 tokoh bangsa yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Kegiatan ini berlangsung di Forum Studi Ladang Rupa sebuah komoditas yang berlokasi di Jl. Balairung Sari, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Di mulai dari jam 20.30 WIB sampai jam 22.38 WIB, pada Selasa 17/6/2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Narasumber pada kegiatan ini ialah Devy Kurnia A., Hadi Nur Ramadhan, Habibur Rahman, Artawijaya, Al-Fikri, dan Ferry Hidayat yang moderatori oleh Tommy Destryanto. Peserta yang hadir dalam kegiatan diskusi ini ada sekitaran 25 orang kurang lebih.
Hadi Nur Ramadhan berpandangan kalau kegiatan diskusi seperti ini sangat bagus dan diskusi seperti ini harus terus berkembang.
“Diskusi kebudayaan, diskusi literasi, diskusi sejarah. Ini menghidupkan budaya ilmu sekaligus menyalakan akal di Minangkabau,” ungkap Hadi.
Ia mengatakan kalau budaya ilmu seperti diskusi seperti ini, tentunya akan melahirkan budaya toleransi, budaya tengang rasa, dan budaya persaudaraan.
Bagi Hadi lawan pendapat adalah kawan berpikir. Maka dari diskusi 2 tokoh besar ini yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka, Hadi ingin mengucapkan terima kasih dengan forum diskusi sekaligus perdebatan pada kegiatan ini.
“Saya sebagai orang yang datang dari Jakarta, datang secara langsung, biaya secara langsung untuk memenuhi undangan teman-teman,” ungkap Hadi.
Disuksi berlangsung dengan saling adu argumen satu sama lain. Suasana pun sempat memanas.
Devy Kurnia A. yang juga sebagai narasumber dalam kegiatan ini mengatakan kalau diskusi ini sangat menarik karena di awalinya dari sebuah video potongan pendek yang tidak selesai. Vidio itulah yang menjadi latar belakang kegiatan ini.
“Dari satu video tersebut bisa menciptakan hampir 9-10 tulisan gitu yang mempertanyakan secara garis besar mempertanyakan, kenapa tokoh-tokoh besar-besar yang harus diperbandingkan. Padahal mereka itu punya perjuangannya masing-masing. Intinya hari ini, kita bisa mendapatkan konfirmasi langsung dari yang bersangkutan dan seperti apa maksud dan tujuan dia sebenarnya,” ungkap pria yang kini menempuh pendidikan doktoral di ISI Padang Panjang tersebut.
Devy merasakan kalau waktu diskusi begitu singkat karena benang merah atau hasil dari diskusi ini belum nampak atau belum ada hasilnya.
“Masih banyak yang bisa diceritakan gitu. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, baik dari online dan offline,” kata Devy.
Audre Bin Heren yang merupakan peserta dalam kegiatan ini berpandangan kalau untuk setingkat anak SMA ini merupakan insight baru, karena pengetahuan tentang zaman Orde Lama dan Orde Baru adalah sejarah dari Republik Indonesia. Di kalangan remaja pembahasan-pembahasan tentang sejarah Indonesia sudah mulai hilang.
“Mungkin untuk kegiatan seperti ini bisa dilanjutkan lagi dan bahkan bisa lebih diturunkan lagi levelnya yang awalnya mungkin untuk Forum terbuka. Mungkin setelah ini bisa lagi di adakan di instansi-intansi yang ada dimulai dari jenjang SMA dan seterusnya jenjang mahasiswa,” ungkap siswa Man 1 Bukittinggi itu.
(Zidan Pratama)









