ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Mestika Zed lahir pada 19 September 1955 di Batu Hampar, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Beliau dikenal sebagai sejarawan terkemuka Indonesia sekaligus Guru Besar di Universitas Negeri Padang. Sepanjang hidupnya, Mestika Zed mengabdikan diri untuk menggali dan meluruskan fakta-fakta sejarah yang selama ini sering terabaikan, terutama mengenai peran krusial Sumatra dalam panggung sejarah nasional. Beliau merupakan sosok yang percaya bahwa sejarah harus diletakkan pada tempat yang terhormat dan adil bagi semua wilayah di Indonesia tanpa terkecuali.
Secara epistemologis, kita dapat melihat titik awal kariernya, ditandai dari pendidikan sarjana muda di IKIP Padang, yang kemudian berlanjut ke Universitas Gadjah Mada hingga meraih gelar doktor (Ph.D) di Vrije Universiteit, Amsterdam pada 1991. Meskipun menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, fokus penelitiannya selalu kembali ke akar budaya dan sejarah tanah air. Melalui pendekatan metodologis yang ketat, titik balik perjuangannya terlihat dari kegigihannya mengoreksi narasi sejarah nasional yang selama ini meminggirkan peristiwa besar di Sumatra Barat, seperti Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), hingga sejarah Giyugun sebagai cikal bakal tentara nasional di Sumatra.
Selain aktif mengajar dan menulis belasan buku penting seperti Somewhere in the Jungle dan Giyugun, Mestika Zed juga terlibat aktif dalam organisasi profesi dan sosial. Beliau merupakan tokoh pendiri Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Sumatra Barat dan Badan Warisan Sumatra Barat yang peduli pada pelestarian bangunan tua bersejarah di Kota Padang. Dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan tetap terjaga hingga akhir hayatnya pada 1 September 2019 di Padang. Warisan intelektualnya terus menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah Indonesia secara lebih utuh, objektif, dan inklusif bagi seluruh rakyat.
Ketika kepergiannya, AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation) turut berbelasungkawa atas meninggalnya Mestika Zed, dalam situsnya mereka menuliskan:
”Dengan rasa duka yang mendalam, AMINEF mengumumkan berpulangnya alumnus Fulbright, Prof. Mestika Zed, pada hari Minggu, 1 September 2019 di Padang, dalam usia 63 tahun.
Prof. Mestika menerima beasiswa Fulbright pada tahun 1996 untuk melakukan penelitian pascadoktoral di bidang sejarah di Cornell University. Beliau merupakan satu dari sedikit sejarawan Indonesia yang aktif dalam menyelaraskan dan meluruskan sejarah bangsa, terutama terkait dengan peran Pulau Sumatra pada era pascakemerdekaan. Beliau adalah seorang profesor sejarah di Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Andalas, Padang.”









