ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Di tengah gejolak politik yang beranekaragam hari ini, begitu juga lanskap politik kontemporer, gelombang aksi massa kerap hadir bagai siklus musiman. Spanduk dibentangkan, yel-yel diteriakkan, dan barikade aparat dihadapi. Namun, jika kita membedah anatomi gerakan-gerakan ini lebih dalam, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah dinamika di jalanan tersebut merupakan representasi murni dari kesadaran kelas bawah, atau sekadar letupan emosional sesaat yang rapuh?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk mengurainya, kita perlu memutar kompas sejarah dan menengok kembali warisan pemikiran bapak republik yang terlupakan, Ibrahim Datuak Tan Malaka.
Lewat mahakaryanya, Aksi Massa (1926), Tan Malaka telah meletakkan garis batas yang tegas antara gerakan pembebasan sejati dan jebakan taktis yang jamak menjangkiti para aktivis.
Terjebak dalam Ilusi Putsch
Salah satu istilah akademis penting yang kerap digunakan untuk menguliti gerakan instan adalah putsch. Dalam literatur sosiologi politik, putsch diartikan sebagai aksi sekelompok kecil elite atau gerombolan radikal yang mencoba merebut kekuasaan atau memaksakan kehendak politik secara mendadak tanpa melibatkan basis massa yang luas. Sederhananya, putsch adalah aksi “gandulan” atau kudeta berskala kecil yang elitis, dan di tahun segitu anak Rangkayo Sinah yang berasal dari Pandam Gadang tersebut telah pakai istilah itu.
Tan Malaka mengkritik keras kecenderungan ini. Baginya, putsch adalah wujud keputusasaan politik. Aksi jalanan yang hanya mengandalkan heroisme segelintir pemimpin di depan kamera tanpa adanya kerja-kerja pengorganisasian di akar rumput rentan terjebak dalam lingkaran setan ini.
Aksi tersebut riuh di hulu, namun kering di hilir. Ketika sang pemantik aksi ditangkap atau berkompromi, gerakan tersebut langsung gembos seketika karena massa di belakangnya tidak paham apa yang sesungguhnya mereka perjuangkan, dan rasanya kita merasakan hal ini di 2026 dengan realitas yang ada, ya.
Mengikis Komersialisasi Gerakan Melalui Massa Actie
Di era digital, tantangan gerakan sosial kian kompleks dengan munculnya gejala komersialisasi gerakan, sebuah istilah yang merujuk pada fenomena di mana aksi massa atau isu sosial dikemas sedemikian rupa demi insentif popularitas, konten siber, atau bahkan pesanan faksi politik tertentu.
Aksi tidak lagi digerakkan oleh penderitaan riil, tapi oleh estetika perlawanan visual. Melawan tren elitis dan artifisial tersebut, Tan Malaka menawarkan konsep Massa Actie (Aksi Massa sejati). Konsep sosiologis ini mensyaratkan adanya kesadaran kolektif yang lahir dari bawah. Aksi massa sejati tidak bisa instan; ia membutuhkan proses agitasi (upaya membakar semangat dengan menyebarkan gagasan) dan propaganda (penyebaran informasi secara sistematis) yang konsisten.
Massa harus dicerdaskan terlebih dahulu agar mereka memahami posisi kelas dan ketimpangan struktural yang mereka hadapi. Melalui proses ini, massa bergerak bukan karena dimobilisasi oleh “uang bensin” atau instruksi sepihak, tapi karena didorong oleh kehendak sadar untuk mengubah nasib.
Menolak Anarkisme Kekanak-kanakan
Kita tahu bahwa letupan kemarahan di jalanan yang berujung pada perusakan fasilitas publik sering dikategorikan sebagai infantilisme kiri atau anarkisme kekanak-kanakan. Istilah ini merujuk pada sikap emosional yang mengabaikan strategi jangka panjang demi kepuasan katarsis (pelepasan emosi) sesaat.
Bagi Tan Malaka, kedisiplinan berorganisasi adalah kunci utama. Menilik aksi massa masa kini, ujian terbesarnya adalah konsistensi ideologis. Tanpa adanya struktur yang solid dan pemahaman teoritis yang matang, aksi-aksi yang digelar di depan gedung-gedung kekuasaan hanya akan berakhir menjadi riak-riak kecil yang mudah diredam oleh gurita kekuasaan, dan murid Horensma telah membacanya sedari dulu.
Kita bicara lihat, bahwa membaca Tan Malaka di era modern adalah upaya melakukan otokritik terhadap gerakan sipil kita, atau bahasa yang sering kita gunakan bisalah ini disebut evaluasi. Bergerak di jalanan tentu sah dan perlu, tetapi tanpa adanya pengorganisasian yang sabar di akar rumput, gerakan tersebut akan terus terjebak dalam ilusi putsch, menjadi romantis, berisik, namun gagal melahirkan perubahan yang struktural dan substantif.









