ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina kembali digaungkan di panggung diplomasi internasional. Melalui sambungan telepon dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa peta jalan perdamaian di Timur Tengah hanya memiliki satu opsi sahih: kedaulatan universal yang setara. Momen krusial ini dibagikan Prabowo melalui akun X resminya pada Senin (15/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam dialektika antarpemimpin negara tersebut, Abbas menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas konsistensi geopolitik Jakarta. Menanggapi apresiasi tersebut, Prabowo menuliskan sebuah konstatasi teoretis dalam unggahannya:
“Presiden Abbas menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan setia Indonesia terhadap masyarakat Palestina,” tulis mantan Danjen Kopasus itu dalam unggahannya, dilansir Selasa (16/6/2025).
Bagi Indonesia, sokongan ini bukan sekadar manuver politik kontemporer, melainkan manifestasi historis-emosional yang mengakar sejak fajar kemerdekaan. Dalam berbagai forum multilateral, diplomasi Indonesia konsisten berdiri di garis depan demi mewujudkan keadilan substantif. Mengonfirmasi doktrin politik luar negeri bebas aktif tersebut, mantan Menhan di era Presiden Joko Widodo itu juga merumuskan sebuah tesis fundamental:
“Saya menegaskan komitmen teguh Indonesia bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian berkelanjutan di Palestina,” tutur Prabowo.
Sikap ini mengesahkan kembali paradigma yang kerap disuarakan Prabowo dalam berbagai kesempatan terdahulu mengenai pentingnya kedaulatan penuh bagi Palestina. Di balik formalitas diplomatik, relasi kedua pemimpin ini sejatinya diikat oleh sentimen persahabatan yang karib.
Kehangatan tersebut terefleksi nyata saat perayaan Idulfitri 1447 Hijriah lalu, kala Prabowo menghubungi Abbas demi menyambung tali silaturahmi. Langkah persuasif ini menjadi potret nyata bagaimana relasi personal bertransformasi menjadi fondasi kokoh dalam memperkuat kemitraan bilateral antara Indonesia dan Palestina di tengah turbulensi geopolitik global.









