ARGUMENRAKYAT.COM, PAYAKUMBUH – Raga sastrawan besar Iyut Fitra kini telah beristirahat di Balai Nan Duo. Akan tetapi, gema karyanya justru terasa semakin kuat di hati para pecinta literasi tanah air. Sosok bernama asli Zulfitra ini meninggal pada Senin (27/4/2026). Akibatnya, kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit terisi dalam dinamika seni di Sumatera Barat.
Pertama, menarik untuk dicermati bahwa kepulangan sang penyair menjadi penanda zaman yang sangat puitis. Pasalnya, pemakamannya berlangsung tepat saat bangsa ini memperingati Hari Puisi Nasional pada 28 April. Selain itu, kebetulan ini seolah merangkum seluruh dedikasi hidup almarhum. Dengan kata lain, ia telah habis-habisan menghibahkan dirinya untuk dunia kata-kata.
Dari Payakumbuh Menembus Kancah Nasional
Selanjutnya, sebagai pendiri Komunitas Intro di Payakumbuh, Iyut Fitra membuktikan banyak hal. Pertama, kreativitas hebat tidak harus selalu lahir dari pusat ibu kota. Kedua, dari sudut kota kecil di Sumatera Barat ini, ia berhasil menembus barisan sastrawan elit nasional. Sebagai contoh, ia meraih penghargaan bergengsi, mulai dari Buku Puisi Terbaik dari Perpustakaan Nasional RI tahun 2019 hingga Penghargaan Sastra dari Kemendikbud RI tahun 2020.
Di samping itu, keberhasilannya membawa aroma lokalitas Minangkabau ke kancah internasional. Oleh karena itu, ini menjadi bukti nyata bahwa ketekunan dalam berkarya selalu menemukan jalannya sendiri. Dengan demikian, ia melampaui batas geografis tanpa kehilangan akar budaya.
Lebih dari sekadar deretan prestasi, Iyut Fitra dikenal sebagai sosok mentor yang dingin. Meskipun demikian, ia sangat peduli pada regenerasi penulis muda. Sebab, melalui tangan dinginnya di Komunitas Intro, banyak penulis muda lokal kini memiliki keberanian. Kemudian, mereka berani menyuarakan pikiran melalui tulisan.
Ia bukan tipe seniman yang eksklusif. Baginya, sastra adalah alat untuk mencatat sejarah. Selain itu, sastra juga menjadi wadah perasaan kolektif masyarakat. Sebenarnya, banyak perasaan itu seringkali terlupakan. Karena itu, kedekatannya dengan lingkungan sekitar membuat setiap bait puisinya terasa sangat membumi. Namun di sisi lain, puisinya tetap memiliki kedalaman filosofis yang tinggi.
Warisan Abadi untuk Generasi Mendatang
Kini, tugas bagi para penerusnya di Payakumbuh dan Sumatera Barat sangat jelas. Mereka harus memastikan api kreativitas yang telah ia nyalakan tidak padam begitu saja. Memang, kehilangan sosok Iyut Fitra merupakan duka besar bagi dunia literasi. Akan tetapi, karya-karyanya akan terus menjadi kompas bagi generasi mendatang. Misalnya, dua karyanya yang terkenal adalah Mencari Jalan Mendaki dan Lelaki dan Tangkai Sapu.
Akhirnya, bagi masyarakat Payakumbuh, sosoknya bukan lagi sekadar nama di atas sampul buku. Ia adalah sebuah simbol. Secara khusus, simbol tentang bagaimana mencintai tanah kelahiran dengan cara paling terhormat. Dengan kata lain, caranya adalah melalui karya yang abadi dan tak lekang oleh waktu.(**)









