LKM Sumbar Perjuangkan Perda Adat: Sanksi Sosial Bakal Ditingkatkan Jadi Sanksi Pidana Bagi Pelanggar Norma

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LIMAPULUH KOTA, ArgumenRakyat.com – Maraknya konten media sosial yang mengandung kata-kata kotor (bacarui), perilaku menyimpang LGBT, hingga hiburan malam yang melanggar asusila di Sumatera Barat memicu keprihatinan mendalam dari para tokoh adat. Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) kini tengah serius memperjuangkan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Adat untuk membentengi moralitas generasi muda.

Dalam episode terbaru podcast Kusia Bendi, Wendri Candra ST yang bergelar Datua Marajo, seorang penghulu sekaligus Wakil Ketua LKAAM Kabupaten Limapuluh Kota, menegaskan bahwa Sumatera Barat sedang menghadapi disorientasi nilai yang serius.

Darurat Moralitas di Dunia Digital

Datua Marajo menyoroti fenomena kreator konten yang bangga menggunakan bahasa kasar dan perilaku yang jauh dari norma Minangkabau demi mengejar pengikut (follower).

“Mereka tidak sadar, muncul di medsos itu ibarat berdiri di tengah ribuan orang. Sesuatu yang dianggap wajar dalam obrolan privat, menjadi pelanggaran berat jika dipublikasikan di depan publik menurut adat Minangkabau,” tegas Datua Marajo dalam diskusi tersebut [07:08].

Baca Juga:  Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan

Beliau juga mengkritik pembiaran terhadap simbol-simbol LGBT dalam kegiatan publik, seperti laki-laki yang berpakaian perempuan dalam pawai karnaval, yang dianggap mencederai filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Negari Sungai Rimbang Jadi Pelopor

Sebagai langkah konkret, Nagari Sungai Rimbang di Kecamatan Suliki telah lebih dahulu menerapkan Peraturan Nagari (Pernag) yang mengatur tentang hiburan. Di nagari ini, dilarang keras mengadakan orgen tunggal yang menampilkan penyanyi erotik atau musik tripping yang identik dengan minuman keras.

“Kami sudah sepakat, jika ada resepsi pernikahan, penyanyinya harus berhijab. Jika tidak mau mengikuti aturan adat dan agama kami, silakan cari tempat lain,” ujarnya [13:28]. Kesuksesan di tingkat nagari ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain di Sumatera Barat.

Mendorong Sanksi Pidana dalam Perda Adat

Saat ini, draf Perda Adat sedang dalam proses pengusulan ke DPRD Provinsi Sumatera Barat. LKAAM bertekad agar sanksi bagi pelanggar norma adat tidak lagi sebatas sanksi sosial yang selama ini dinilai kurang memberikan efek jera.

Baca Juga:  Polemik Pasar Payakumbuh: Antara Pembangunan, Birokrasi, dan Harga Diri Tanah Ulayat

“Selama ini hukum adat hanya memberikan sanksi sosial. Kami ingin meningkatkan ini menjadi sanksi pidana melalui payung hukum Perda, seperti halnya Perda Kanun di Aceh. Ini adalah bentuk perlindungan bagi anak kemenakan kita dari penyakit masyarakat,” jelas Datua Marajo [43:53].

Bukan Mengengkang Kreativitas

Datua Marajo menegaskan bahwa aturan ini tidak bermaksud membatasi kebebasan berekspresi atau kreativitas kreator digital. Namun, setiap ekspresi harus tetap berada dalam koridor norma yang berlaku.

“Silakan berkreativitas, tapi jangan yang dilaknat Allah dan merusak moral. Peradaban itu mahal harganya, kita harus menjaga apa yang kita wariskan untuk anak cucu nanti,” pungkasnya [37:44].


Editor: Redaksi ArgumenRakyat.com Sumber: Podcast Kusia Bendi – Dimensia Creative

Berita Terkait

Advokat Payakumbuh: Dikepung 300 Massa, Ilmu Hukum Tak Jalan Tanpa Keberanian
KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda
Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat
Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri
Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif
Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan
Pejabat Zaman Now: Ngonten untuk Transparansi, Bukan Sekadar Personifikasi Citra
Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Advokat Payakumbuh: Dikepung 300 Massa, Ilmu Hukum Tak Jalan Tanpa Keberanian

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif

Berita Terbaru

Advokat Hafis Alfarisi saat menjadi narasumber podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendir)

Ekonomi

HGU Perusahaan vs Tanah Adat, Advokat Pilih Jalan Damai

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:45 WIB

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB