The Death of 9-to-5: Perusahaan di Jakarta Beralih ke Sistem Kerja Berbasis Output

- Jurnalis

Rabu, 13 Mei 2026 - 09:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustras Perusahaan di Beralih ke Sistem Kerja Berbasis Output (Foto AI)

Ilustras Perusahaan di Beralih ke Sistem Kerja Berbasis Output (Foto AI)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Sistem kerja 9-to-5 yang mengandalkan absen jam masuk dan pulang mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, perusahaan kini beralih ke sistem berbasis output. Artinya, karyawan bebas bekerja dari mana saja. Mereka tidak perlu datang ke kantor setiap hari. Yang terpenting, target harian atau mingguan harus selesai. Tren global ini mulai masuk ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa Itu Sistem Kerja Berbasis Output?

Sistem berbasis output tidak lagi menghitung jam kehadiran. Perusahaan menghapus absen konvensional. Manajemen hanya menilai hasil kerja karyawan. Setiap pekerja mendapat target yang jelas. Jika target tercapai, pekerjaan dianggap selesai. Oleh karena itu, karyawan pun bisa bekerja dari rumah, kafe, atau tempat yang mereka sukai. Dengan demikian, fleksibilitas menjadi nilai utama. Karyawan mengatur waktu sendiri. Mereka bisa bekerja pagi, siang, atau malam. Sistem ini dikenal dengan istilah results-only work environment (ROWE).

Tren Mulai Merambah Jakarta

Baca Juga:  PLN UP3 Bukittinggi Siaga Jaga Listrik Andal Jelang HUT RI

Sebenarnya, tren ini sudah berkembang di Amerika Serikat dan Eropa beberapa tahun lalu. Namun demikian, gelombang perubahan kini mulai merambah Indonesia. Sejumlah startup di Jakarta sudah beralih ke sistem berbasis output. Selain itu, perusahaan konsultan dan agensi kreatif juga ikut menerapkannya. Beberapa perusahaan multinasional di kawasan Sudirman, Thamrin, dan SCBD mulai menguji coba sistem ini. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan produktivitas. Kepuasan karyawan pun naik signifikan karena mereka memiliki kebebasan.

Tantangan Sistem Berbasis Output

Meskipun terdengar menguntungkan, sistem ini tidak tanpa tantangan. Para pengamat HRD mengingatkan beberapa risiko. Pertama, tanpa batasan jam kerja, karyawan justru bisa bekerja lebih lama. Akibatnya, pekerjaan mengganggu kehidupan pribadi. Kedua, sistem ini menuntut kedisiplinan tinggi. Sebaliknya, karyawan yang kurang motivasi cenderung menunda pekerjaan. Ketiga, kolaborasi tim bisa terganggu jika setiap anggota bekerja di waktu berbeda. Lagipula, tidak semua industri cocok dengan sistem ini. Sektor manufaktur, ritel, dan layanan publik tetap membutuhkan kehadiran fisik.

Tips Sukses di Era Output

Bagi karyawan yang ingin sukses, ada beberapa tips yang bisa diterapkan. Pertama, buatlah jadwal pribadi meskipun perusahaan tidak mewajibkan. Disiplin diri sangat penting. Kedua, pisahkan ruang kerja dan ruang istirahat di rumah. Dengan cara ini, keseimbangan hidup terjaga. Ketiga, komunikasikan progres secara rutin kepada tim dan atasan. Gunakan alat kolaborasi seperti Slack atau Trello. Keempat, jangan takut menetapkan batasan. Jika target sudah tercapai, berhentilah bekerja. Terakhir, tingkatkan keterampilan manajemen waktu. Teknik Pomodoro atau time blocking bisa sangat membantu.

Baca Juga:  Upskilling atau Tergerus? Strategi Bertahan di Era Otomasi

Masa Depan Dunia Kerja

Para pengamat memprediksi sistem berbasis output akan semakin populer dalam lima tahun ke depan. Meski begitu, sistem 9-to-5 tidak akan hilang sepenuhnya. Rumah sakit, pabrik, sekolah, dan layanan publik tetap berjalan dengan jam kerja konvensional. Jadi, dunia kerja akan hidup dalam dua mode sekaligus. Pertama, mode fleksibel untuk pekerja di sektor teknologi dan kreatif. Kedua, mode terstruktur untuk sektor lain. Pekerja yang adaptif akan berkembang pesat. Sebaliknya, mereka yang terbiasa dengan rutinitas tanpa hasil akan tertinggal. Maka dari itu, mulailah berlatih bekerja berbasis target sejak sekarang. (**)

Berita Terkait

Video Commerce Dinilai Jadi Peluang UMKM Perkenalkan Produk
Samsung SDS Perluas Kemitraan AI dengan OpenAI dan Anthropic
Haier Jadi Mitra Global UEFA Champions League 2027-2031
Platform AI Bantu Pelaku Usaha Layani Pelanggan via WhatsApp
KemenUMKM Siapkan Rp115,77 Miliar Pulihkan 38.507 UMKM Sumbar
Investor Kripto RI Tembus 23 Juta Akun, Minat Tetap Terjaga
43 Persen Fintech RI Cetak Laba, Era Bakar Uang Ditinggalkan
Resmi Bermitra, Dimensia Creative dan Hijrah Muslim Center Sepakat Kembangkan Potensi Multimedia di Payakumbuh

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:31 WIB

Video Commerce Dinilai Jadi Peluang UMKM Perkenalkan Produk

Senin, 7 September 2026 - 12:37 WIB

Haier Jadi Mitra Global UEFA Champions League 2027-2031

Jumat, 4 September 2026 - 10:26 WIB

Platform AI Bantu Pelaku Usaha Layani Pelanggan via WhatsApp

Kamis, 3 September 2026 - 11:59 WIB

KemenUMKM Siapkan Rp115,77 Miliar Pulihkan 38.507 UMKM Sumbar

Rabu, 2 September 2026 - 16:41 WIB

Investor Kripto RI Tembus 23 Juta Akun, Minat Tetap Terjaga

Berita Terbaru

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua. (Foto: CNN Indonesia)

Gaya Hidup

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:25 WIB

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:20 WIB

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029. (Foto: Tribunnews)

Ekonomi

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:15 WIB

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina. (Foto: Tribunnews)

Nasional

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:08 WIB