PAYAKUMBUH — “Selingkuh itu bukan hanya sentuh-menyentuh. Seorang pasangan takut chat-nya dibaca pasangannya — itu bagian dari perselingkuhan sebenarnya.” Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Hafiz, M.Psi, psikolog muda asal Payakumbuh, dalam podcast Kusieh Bendi yang membedah realita rumah tangga masa kini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perselingkuhan Dimulai dari Hal Kecil
Menurut Hafiz, perselingkuhan tidak selalu dimulai dari kontak fisik. “Ada upaya untuk dekat lagi sama teman SMA-nya — itu sudah perselingkuhan, Om. Udah pintu pertama.” Menyembunyikan chat, menghapus riwayat pesan, atau merasa cemas saat pasangan memegang HP — semua itu adalah tanda bahaya yang sering diabaikan.
“Sabar itu tidak sama dengan hopeless. Kalau sudah jadi korban, selesai,” tegasnya.
Model Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
Hafiz memaparkan empat pilar kesiapan menikah yang sering dilupakan: biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Masalah di salah satu pilar saja bisa mengguncang seluruh bangunan rumah tangga.
Psikologis: Banyak orang masuk pernikahan tanpa mengetahui kondisi psikologis pasangannya. “Kalau kita enggak tahu pasangan kita punya gangguan psikologis tertentu, kita akan kaget gimana cara mendampingi dia yang tiba-tiba ngamuk.” Bahkan, faktor genetik bisa menurun ke anak.
Sosial-Ekonomi: Hafiz blak-blakan: “Makan cinta enggak bisa. Untuk beli bakso aja kita harus ada uang.” Ia menyebut gaya hidup hedonis sebagai pemicu utama — “Tetangga beli kulkas tiga pintu, kita harus empat pintu.”
Premarital Psychological Screening
Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah premarital psychological screening — pemeriksaan psikologis sebelum menikah. “Pernikahan itu ibadah terpanjang. Konsep sebelum menikah bukan terkait pacaran, tapi bagaimana value yang ditanamkan dalam hidupnya. Besok habis nikah mau ngapain?”
Ia mencontohkan pentingnya memahami tipe kepribadian pasangan. “Kalau istri punya bawaan dependen — ‘Aku enggak bisa tanpa Abang’ — suami harus paham dulu. Kalau enggak ngerti, langsung temperamen. Ini bisa mengurangi beban keluarga.”
Orientasi Seksual: Bukan Tiba-Tiba
Menanggapi fenomena LGBT dalam pernikahan, Hafiz menjelaskan bahwa orientasi seksual menyimpang tidak muncul tiba-tiba. “Ini ada track record-nya, ada dinamikanya. Balik lagi ke empat faktor — biologis (hormon sejak kecil), psikologis (kepribadian), sosial (pola asuh), dan spiritual.”
Ia menceritakan pengalaman seorang teman yang sejak kecil anaknya sudah menunjukkan preferensi non-tipikal — suka boneka, hanya berteman dengan perempuan — meskipun sudah dimasukkan ke sekolah agama dan bela diri. “Sampai kuliah, tetap begitu.”
Landasan Sebelum Bangunan
Menutup diskusi, Hafiz menekankan pentingnya memperkuat pondasi sebelum membangun rumah tangga. “Kamu harus kuatkan dulu landasan dulu. Pondasi kamu dulu. Karena kalau pondasi goyah, seluruh bangunan akan runtuh.”
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, membahas isu-isu sosial yang relevan bagi masyarakat Sumatera Barat. Tertarik menjangkau audiens yang peduli dengan kualitas keluarga dan hubungan? Dimensia Creative membuka kemitraan sponsorship — lihat paketnya di dimensiacreative.com/proposal/ atau WA 0812-6349-2788.









