100 Tahun Jam Gadang: dari Darah PRRI, Simbol Kolonial, hingga Misteri Angka Romawi u2014 Isi Film Dokumenter Dimensia Creative

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BUKITTINGGI — Genap 100 tahun Jam Gadang berdiri. Monumen hadiah Ratu Wilhelmina ini sedang dirayakan besar-besaran sepanjang satu bulan penuh. Keramaian, festival, ribuan orang tertawa di pelatarannya. Tapi tak jauh dari sana, ada tugu kecil yang menyimpan luka yang tak banyak orang tahu.

Tim Dimensia Creative datang ke Bukittinggi untuk meliput festival — tapi yang mereka temukan jauh melampaui kemeriahan. Di balik panggung perayaan, tersimpan narasi kelam yang selama berpuluh-puluh tahun dibungkam.

Tugu Pahlawan Tak Dikenal: Awalnya Bukan Itu Namanya

“Aku menemukan sebuah monumen,” ujar host sambil menunjuk ke tugu tak jauh dari Jam Gadang. “Ternyata nama monumen tersebut sebelumnya adalah Monumen Pembebasan.”

Sejarawan yang diwawancarai, Bu Meiza, menjelaskan bahwa monumen itu adalah penanda peristiwa PRRI — konflik berdarah yang mempertemukan ekspedisi Banteng bersama masyarakat sipil melawan tentara dari pusat. “Makanya kemudian dinamakan monumen pembebasan,” jelasnya.

187 Mayat di Pelataran Jam Gadang

Salah satu fakta yang diungkap dalam film ini berasal dari catatan sejarah: mayat yang terbujur di pelataran Jam Gadang mencapai 187 orang. Dan hanya 17 orang yang dinyatakan sebagai pemberontak.

Sisanya? “Anggota PRRI dari sekian banyak itu adalah militer yang memang basisnya militer, karena PRRI adalah konflik yang pada awalnya disuarakan oleh militer,” terang Bu Meiza. “Tapi karena saking banyaknya masyarakat yang ikut terlibat, kemudian juga ada tentara pelajar — pelajar-pelajar yang dipersenjatai — makanya korban itu susah untuk diidentifikasi.”

Pemerintah pusat menggunakan cara teror. Orang-orang ditangkap, lalu “dijajarkan” di depan Jam Gadang — bukan untuk diadili, tapi untuk menebar ketakutan ke masyarakat agar tidak ikut terlibat dalam konflik PRRI.

Patung Nenek Sujud ke Kaki Tentara — Dihilangkan

Monumen itu dulunya punya patung yang kontroversial. “Sebelumnya itu ada patung yang katanya bertulisan nenek mama itu sujud ke kaki tentara,” ungkap host. Masyarakat tidak menerima — patung itu terus-menerus mengingatkan luka yang tak kunjung sembuh.

Baca Juga:  Di Balik Meriahnya Hoyak Tabuik, Tradisi Berebut Organ Tabuik Masih Berlangsung

Di tahun 1983, monumen itu dirombak. Narasi sejarahnya juga dibelokkan. “Agar luka itu tidak terlalu berdarah-darah saat itu, dan agar masyarakat tidak terlalu malu,” jelas Bu Meiza. Kini, monumen itu tidak lagi disebut Monumen Pembebasan PRRI, melainkan diasosiasikan sebagai monumen Perang Pajak (Perang Belasting) tahun 1908 — perang melawan pemerintah Belanda. Ornamen barunya menghormati jasa para pahlawan yang gugur tanpa nama, tanpa kuburan yang diketahui.

PRRI Effect: Minangkabau yang Mendadak Diam

Bu Meiza memaparkan dampak jangka panjang yang jarang dibicarakan: sebelum PRRI, orang Minangkabau sangat vokal di panggung nasional — muncul sebagai negarawan, tokoh-tokoh berpengaruh. Tapi pasca 1958-1960, setelah kalah dan kembali ke pangkuan republik, mereka menjadi pendiam.

“Tidak ada lagi seruan-seruan dan semangat-semangat kebangsaan yang muncul dari wilayah Minangkabau pasca kejadian itu.”

Trauma ini bahkan merembes ke hal paling personal: pemberian nama anak. “Banyak sekali orang-orang yang terlibat dalam peristiwa PRRI, ketika punya anak, anaknya itu dikasih nama bukan nama Minang. Jadi namanya banyak nama Jawa atau nama orang-orang luar.” Sebuah bentuk penyamaran identitas yang lahir dari ketakutan selama tiga tahun konflik.

Dendam Pribadi Berbungkus Tuduhan PRRI

Narasumber kedua dalam film ini mengungkap dimensi lain: PRRI sering dimanfaatkan untuk melepaskan dendam pribadi.

“Misalnya mamak dengan kemenakan. Mamak tidak mau menjual tanah pusakonya supaya dapat untung besar. Gampang saja oleh kemenakan — ‘Mamak saya itu bagian daripada PRRI.’ Dengan gampang saja menyeret si mamak, kemudian diberikan hukuman. Termasuk kejadian itu di Jam Gadang.”

Artinya, tidak semua dari 187 korban yang terbujur di Jam Gadang adalah pemberontak. Banyak pedagang, pelajar, petani — orang-orang yang difitnah.

Merayakan Kolonialisme?

Di tengah wawancara, meluncur kalimat yang menjadi inti dari film ini: “100 tahun Jam Gadang adalah peristiwa bagaimana masyarakat Minangkabau menerima dengan sangat terbuka dan tunduk terhadap kolonialisme. Dan itu kita rayakan dalam bentuk seremoni yang cukup panjang — 1 bulan.”

Baca Juga:  Hikayat Menara Delapan Penjuru: Riwayat Syiar Islam di Nagari Kubang

“Karena pada dasarnya kolonialisme yang paling berbahaya adalah kolonialisme dalam pikiran.”

Film ini tidak bermaksud menciptakan catatan sejarah baru. “Kita munculkan ini tujuannya bukan untuk membuat catatan baru. Bagaimana melengkapi narasi sejarah yang hilang pada masa lampau itu, dengan harapan generasi muda tidak salah menginterpretasikannya. Ketika ia melihat Jam Gadang, dia tidak hanya melihat megahnya Jam Gadang, tetapi ada sesuatu narasi sedih yang terjadi di sana yang seharusnya menjadi sebuah perenungan.”

Penutup: 100 Tahun, Baru Berani Bertanya

Film ditutup dengan monolog reflektif sang host, kembali ke pelataran Jam Gadang yang ramai:

“Aku kembali lagi ke pelataran ini. Menatap tempat yang sama, keramaian yang sama. Namun anehnya, rasanya sudah tidak sama lagi bagiku.

Aku melihat kontras yang nyata antara perayaan hari ini dengan kesunyian masa lalu. Di sini ribuan orang tertawa di atas tanah yang menyimpan begitu banyak lapisan cerita.

Seringkali sebuah perayaan besar adalah cara terbaik yang kita pilih untuk sengaja tidak memikirkan hal-hal yang begitu rumit.

100 tahun jam ini sudah melihat banyak hal — yang dirayakan secara megah, dan nyaris kita lupakan dalam senyap.

Mungkin pertanyaannya bukan apa yang terjadi. Tapi kenapa kita baru berani bertanya setelah 100 tahun semuanya berlalu.”


Video semi dokumenter ini diproduksi oleh Dimensia Creative melalui program podcast Kusieh Bendi. Liputan dan wawancara dilakukan di Bukittinggi saat perayaan 100 tahun Jam Gadang, Juni 2026. Dimensia Creative adalah perusahaan produksi konten digital berbasis di Payakumbuh. Ingin berkolaborasi? Hubungi 0812-6349-2788 atau kunjungi dimensiacreative.com/proposal/.

Kategori: Video

Berita Terkait

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda
Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat
Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri
Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif
Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan
Pejabat Zaman Now: Ngonten untuk Transparansi, Bukan Sekadar Personifikasi Citra
Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan
Ibadah Bukan Tren, Bekal “Pulang Kampung”: Ustaz Afri Eki Rizal soal Haji & Umrah

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif

Minggu, 27 September 2026 - 21:09 WIB

Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB