BUKITTINGGI — Genap 100 tahun Jam Gadang berdiri. Monumen hadiah Ratu Wilhelmina ini sedang dirayakan besar-besaran sepanjang satu bulan penuh. Keramaian, festival, ribuan orang tertawa di pelatarannya. Tapi tak jauh dari sana, ada tugu kecil yang menyimpan luka yang tak banyak orang tahu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim Dimensia Creative datang ke Bukittinggi untuk meliput festival — tapi yang mereka temukan jauh melampaui kemeriahan. Di balik panggung perayaan, tersimpan narasi kelam yang selama berpuluh-puluh tahun dibungkam.
Tugu Pahlawan Tak Dikenal: Awalnya Bukan Itu Namanya
“Aku menemukan sebuah monumen,” ujar host sambil menunjuk ke tugu tak jauh dari Jam Gadang. “Ternyata nama monumen tersebut sebelumnya adalah Monumen Pembebasan.”
Sejarawan yang diwawancarai, Bu Meiza, menjelaskan bahwa monumen itu adalah penanda peristiwa PRRI — konflik berdarah yang mempertemukan ekspedisi Banteng bersama masyarakat sipil melawan tentara dari pusat. “Makanya kemudian dinamakan monumen pembebasan,” jelasnya.
187 Mayat di Pelataran Jam Gadang
Salah satu fakta yang diungkap dalam film ini berasal dari catatan sejarah: mayat yang terbujur di pelataran Jam Gadang mencapai 187 orang. Dan hanya 17 orang yang dinyatakan sebagai pemberontak.
Sisanya? “Anggota PRRI dari sekian banyak itu adalah militer yang memang basisnya militer, karena PRRI adalah konflik yang pada awalnya disuarakan oleh militer,” terang Bu Meiza. “Tapi karena saking banyaknya masyarakat yang ikut terlibat, kemudian juga ada tentara pelajar — pelajar-pelajar yang dipersenjatai — makanya korban itu susah untuk diidentifikasi.”
Pemerintah pusat menggunakan cara teror. Orang-orang ditangkap, lalu “dijajarkan” di depan Jam Gadang — bukan untuk diadili, tapi untuk menebar ketakutan ke masyarakat agar tidak ikut terlibat dalam konflik PRRI.
Patung Nenek Sujud ke Kaki Tentara — Dihilangkan
Monumen itu dulunya punya patung yang kontroversial. “Sebelumnya itu ada patung yang katanya bertulisan nenek mama itu sujud ke kaki tentara,” ungkap host. Masyarakat tidak menerima — patung itu terus-menerus mengingatkan luka yang tak kunjung sembuh.
Di tahun 1983, monumen itu dirombak. Narasi sejarahnya juga dibelokkan. “Agar luka itu tidak terlalu berdarah-darah saat itu, dan agar masyarakat tidak terlalu malu,” jelas Bu Meiza. Kini, monumen itu tidak lagi disebut Monumen Pembebasan PRRI, melainkan diasosiasikan sebagai monumen Perang Pajak (Perang Belasting) tahun 1908 — perang melawan pemerintah Belanda. Ornamen barunya menghormati jasa para pahlawan yang gugur tanpa nama, tanpa kuburan yang diketahui.
PRRI Effect: Minangkabau yang Mendadak Diam
Bu Meiza memaparkan dampak jangka panjang yang jarang dibicarakan: sebelum PRRI, orang Minangkabau sangat vokal di panggung nasional — muncul sebagai negarawan, tokoh-tokoh berpengaruh. Tapi pasca 1958-1960, setelah kalah dan kembali ke pangkuan republik, mereka menjadi pendiam.
“Tidak ada lagi seruan-seruan dan semangat-semangat kebangsaan yang muncul dari wilayah Minangkabau pasca kejadian itu.”
Trauma ini bahkan merembes ke hal paling personal: pemberian nama anak. “Banyak sekali orang-orang yang terlibat dalam peristiwa PRRI, ketika punya anak, anaknya itu dikasih nama bukan nama Minang. Jadi namanya banyak nama Jawa atau nama orang-orang luar.” Sebuah bentuk penyamaran identitas yang lahir dari ketakutan selama tiga tahun konflik.
Dendam Pribadi Berbungkus Tuduhan PRRI
Narasumber kedua dalam film ini mengungkap dimensi lain: PRRI sering dimanfaatkan untuk melepaskan dendam pribadi.
“Misalnya mamak dengan kemenakan. Mamak tidak mau menjual tanah pusakonya supaya dapat untung besar. Gampang saja oleh kemenakan — ‘Mamak saya itu bagian daripada PRRI.’ Dengan gampang saja menyeret si mamak, kemudian diberikan hukuman. Termasuk kejadian itu di Jam Gadang.”
Artinya, tidak semua dari 187 korban yang terbujur di Jam Gadang adalah pemberontak. Banyak pedagang, pelajar, petani — orang-orang yang difitnah.
Merayakan Kolonialisme?
Di tengah wawancara, meluncur kalimat yang menjadi inti dari film ini: “100 tahun Jam Gadang adalah peristiwa bagaimana masyarakat Minangkabau menerima dengan sangat terbuka dan tunduk terhadap kolonialisme. Dan itu kita rayakan dalam bentuk seremoni yang cukup panjang — 1 bulan.”
“Karena pada dasarnya kolonialisme yang paling berbahaya adalah kolonialisme dalam pikiran.”
Film ini tidak bermaksud menciptakan catatan sejarah baru. “Kita munculkan ini tujuannya bukan untuk membuat catatan baru. Bagaimana melengkapi narasi sejarah yang hilang pada masa lampau itu, dengan harapan generasi muda tidak salah menginterpretasikannya. Ketika ia melihat Jam Gadang, dia tidak hanya melihat megahnya Jam Gadang, tetapi ada sesuatu narasi sedih yang terjadi di sana yang seharusnya menjadi sebuah perenungan.”
Penutup: 100 Tahun, Baru Berani Bertanya
Film ditutup dengan monolog reflektif sang host, kembali ke pelataran Jam Gadang yang ramai:
“Aku kembali lagi ke pelataran ini. Menatap tempat yang sama, keramaian yang sama. Namun anehnya, rasanya sudah tidak sama lagi bagiku.
Aku melihat kontras yang nyata antara perayaan hari ini dengan kesunyian masa lalu. Di sini ribuan orang tertawa di atas tanah yang menyimpan begitu banyak lapisan cerita.
Seringkali sebuah perayaan besar adalah cara terbaik yang kita pilih untuk sengaja tidak memikirkan hal-hal yang begitu rumit.
100 tahun jam ini sudah melihat banyak hal — yang dirayakan secara megah, dan nyaris kita lupakan dalam senyap.
Mungkin pertanyaannya bukan apa yang terjadi. Tapi kenapa kita baru berani bertanya setelah 100 tahun semuanya berlalu.”
Video semi dokumenter ini diproduksi oleh Dimensia Creative melalui program podcast Kusieh Bendi. Liputan dan wawancara dilakukan di Bukittinggi saat perayaan 100 tahun Jam Gadang, Juni 2026. Dimensia Creative adalah perusahaan produksi konten digital berbasis di Payakumbuh. Ingin berkolaborasi? Hubungi 0812-6349-2788 atau kunjungi dimensiacreative.com/proposal/.









