PAYAKUMBUH — “Tulangnya nyambung, tapi tangannya enggak gerak.” Inilah realita yang sering dijumpai Dr. Hari Mulia, Sp.OT, M.Kes, dokter spesialis ortopedi asal Payakumbuh, pada pasien yang terlambat mendapatkan penanganan medis karena lebih dulu memilih tukang pijat tradisional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Malunion: Sambung Tapi Cacat
Dr. Hari yang praktik di Pekanbaru ini menjelaskan fenomena paling umum pada pasien yang datang setelah diobati secara tradisional. “Kenapa orang bilang bawa aja ke tukang urut nanti sembuh? Karena sebenarnya tulang itu enggak diapa-apain juga, asalkan dia kontak, nanti akan nyambung.”
Tapi masalahnya ada pada kualitas penyambungan. “Malunion — dia enggak kontak dengan bagus, sehingga kalau di-rontgen kelihatan miring. Kakinya panjang sebelah atau tangannya panjang sebelah kalau dibanding kanan-kiri. Ada juga yang sering diikat terlalu lama, akibatnya kekakuan otot-otot — tulangnya nyambung, tapi tangannya enggak gerak.”
Tugas Ortopedi: Lurus, Kuat, Fungsional
“Tugas dokter ortopedi adalah memastikan tulang yang patah bisa nyambung dengan lurus, kuat, dan fungsional. Itu yang penting,” tegas Dr. Hari. Sambung saja tidak cukup — harus benar secara anatomis dan berfungsi normal.
Tahapan Penanganan yang Benar
Dr. Hari memaparkan proses standar penanganan patah tulang: riwayat kejadian → pemeriksaan fisik (cek saraf dan pembuluh darah) → rontgen → analisis konfigurasi patahan → pemilihan treatment dan implan.
“Patah tulang yang sering berhubungan: selain tulangnya patah, sarafnya ikut kena atau pembuluh darahnya ikut sobek. Itu emergency — mutlak harus operasi.”
Konfigurasi patahan sangat menentukan: “Apakah retak, bergeser, lurus, miring, spiral, atau pecah-pecah serpihan. Itu akan menentukan treatment dan pemilihan implan.”
Pesan untuk Masyarakat
“Kalau ujung-ujungnya tetap akan ketemu medis juga, kenapa enggak dari awal ketemu medisnya?” tanya Dr. Hari retoris. Ia mengingatkan bahwa penanganan telat membuat segalanya lebih sulit — operasi lebih lama, penyembuhan lebih panjang.
“Satu yang perlu kita waspadai: anggota gerak yang kita miliki, apalagi di usia produktif. Kalau setelah cedera kita enggak bisa kembali seperti sebelum patah, itu jadi beban di pemikiran, jadi beban di ekonomi karena enggak bisa bekerja maksimal.”
Nasihatnya sederhana: “Periksakanlah dengan medis. Karena dari medis kita bisa tahu seberapa berat kondisi yang kita alami. Datang telat, penanganan lebih susah.”
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, menghadirkan edukasi kesehatan dan diskusi bersama para ahli dari Sumatera Barat. Ingin brand Anda mendukung konten edukatif yang bermanfaat bagi masyarakat? Kami membuka peluang sponsorship — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.









