PAYAKUMBUH β Di balik selempang dan senyum di acara seremonial, ada beban berat yang dipikul oleh Uda dan Uni Kota Payakumbuh. Adrian Ramadan dan Rabiatul Husna, duta muda kota ini, berbagi kisah autentik tentang perjuangan mereka di podcast Kusieh Bendi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan Sekadar Selempang
“Menjadi duta ini sebenarnya berat, Om. Karena yang ditanggung ini Payakumbuh loh.” Rabiatul Husna (23) membuka diskusi dengan jujur. Bersama Adrian Ramadan (23), mereka adalah Uda dan Uni Kota Payakumbuh β representasi generasi muda yang mempromosikan pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.
“Jika kita salah langkah, nama kota yang akan menjadi momok nantinya. Jadi bagaimana kami bersikap, bagaimana kami bermanfaat, itu sangat diperlukan saat ini. Bukan hanya sekadar ingin tampil atau mencari keuntungan diri sendiri.”
Dari Panggung ke Ruang Kelas
Berbeda dengan anggapan bahwa Uda/Uni hanya “simbolik” dan “formalitas,” Adrian dan Husna langsung bergerak ke lapangan. Sebulan setelah terpilih, mereka mendatangi SMP 1 Payakumbuh dan SMP Fidalis untuk berbagi dengan para siswa.
“Kami menjelaskan pentingnya budaya bagi anak SMP. Kami juga memberikan motivasi tentang public speaking, bagaimana memahami budaya, wisata, dan lainnya,” cerita Husna.
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah
Host podcast mengingatkan bahwa Uda/Uni di Minangkabau bukan sekadar ajang kecantikan atau ketampanan. “Uda Uni itu jelas budaya. Adat kita basandi syarak, syarak basandi kitabullah β bercermin pada Al-Quran dan Hadis. Di situ ada budi pekerti, ada akhlak.”
Adrian menegaskan pentingnya keseimbangan antara berpikir global dan menjaga kearifan lokal. “Kita tetap berpikiran global, menerima pengaruh luar seperti teknologi. Namun tetap berpikiran pada local wisdom. Karena bagaimanapun kita lahir di sini, kita besar di sini, tugas kita yang melestarikannya.”
Viral Sesaat vs Kontribusi Nyata
Menyikapi fenomena “kejar viral” di kalangan anak muda, Husna memberikan perspektif tajam. “Kalau 1.000 orang melihat, yang peduli sama kita sebenarnya cuma 10 orang. Yang 90% cuma menertawakan β ‘Oh, ternyata dia terjatuh.'”
“Keviralan, keinstanan, serta kepopularitasan yang melonjak dalam waktu signifikan itu hanya sementara,” lanjutnya. Ia membandingkan dengan figur seperti Afgan yang terus relevan karena viral berkat prestasi, bukan sensasi.
Generasi Instan dan Jalan Pulang
Keduanya mengakui stigma “generasi instan” yang melekat pada Gen Z memang ada. “Ada yang mau instan aja semuanya, enggak mau ribet,” aku Adrian. Namun solusinya bukan menolak modernitas, melainkan menyaring sebelum membagikan.
“Kita harus kembali lagi ke adat, kembali lagi ke agama. Karena orang yang hilang arah pasti tersesat. Ada pesan di syarak, pesan di kitabullah,” tutup Husna.
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, mengangkat kisah dan diskusi bersama tokoh-tokoh inspiratif Sumatera Barat. Ingin mendukung konten positif yang membangun generasi muda Sumbar? Jadilah sponsor β kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.









