ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Bagi penikmat sepak bola milenium baru, nama Ashley Cole adalah jaminan mutu pertahanan berlapis baja di sisi kiri lapangan. Ia adalah tipe pemain yang tak sekadar mengandalkan otot, melainkan kecepatan eksosferik, ketepatan membaca momentum, serta ketangguhan mental yang dibentuk oleh badai kehidupan masa kecilnya. Cristiano Ronaldo, dalam sebuah interview, pernah berseloroh bahwa di sepanjang kariernya, tidak ada satu pun pemain bertahan yang sanggup membuatnya kehabisan napas dan frustrasi selain pria kelahiran Stepney, London tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik kegemilangan trofi dan pujian dari penyerang terbaik dunia, riwayat hidup Ashley Cole ibarat sebuah koin bermata dua. Ia dipuja di atas rumput hijau sebagai maestro tak tertandingi, tetapi sekaligus dihakimi di luar lapangan sebagai figur penuh skandal yang menjadi santapan empuk mesin cetak media tabloid Inggris.
Dibesarkan oleh Sunyi dan Puing Keluarga
Langkah kaki kokoh Ashley Cole tidak didapatkan dari karpet merah akademi yang mewah. Lahir pada akhir Desember 1980, masa kecil Cole dikepung oleh mendung kemiskinan dan keretakan domestik. Ayahnya, Ron Callender, seorang pria asal Barbados, memilih angkat kaki meninggalkan rumah saat Ashley baru menginjak usia tujuh tahun. Sang ibu, Sue Cole yang memiliki garis kekerabatan jauh dengan diva pop dunia Mariah Carey harus terseok-seok membesarkan Ashley dan saudara laki-lakinya, Matthew, dalam himpitan finansial yang mencekik.
Luka psikologis akibat penelantaran sang ayah menancap sangat dalam pada diri Ashley muda. Guna memutus rantai masa lalu yang kelam dan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan ibunya, ia secara legal menanggalkan nama belakang ayahnya, “Callender”, dan memantapkan diri menggunakan nama “Cole” saat mulai meniti karier di Tower Hamlets. Keberuntungan mulai berpihak ketika radar pemandu bakat Arsenal mencium bakat alaminya. Melakoni debut profesional pada November 1999 dalam usia 18 tahun, Cole langsung mencuri perhatian manajer legendaris Arsene Wenger.
Bersama Arsenal, sejarah emas diukirnya dengan tinta permanen. Ia mempersembahkan dua trofi Premier League, tiga Piala FA, dan menjadi pilar tak tergantikan dalam dongeng abadi The Invincibles skuad Arsenal yang menjuarai liga tanpa tersentuh satu pun kekalahan sepanjang musim 2003/2004. Cole bertransformasi menjadi prototipe bek kiri modern: cepat bertransisi, disiplin menjaga area, dan rajin membantu serangan.
Drama Transfer dan Penyadapan Kamar Hotel
Romantisme di Highbury menemui titik nadir pada musim panas 2006. Cole terlibat dalam salah satu skandal transfer paling kontroversial dalam sejarah sepak bola modern Inggris. Tergiur oleh proyek ambisius miliarder Rusia Roman Abramovich di Chelsea, Cole kedapatan melakukan pertemuan rahasia di sebuah hotel bersama manajer Chelsea saat itu, Jose Mourinho, dan jajaran manajemen The Blues. Pertemuan ilegal ini dilakukan tanpa sepengetahuan dan restu dari Arsenal.
Ironisnya, konspirasi tersebut terbongkar setelah pihak Arsenal melakukan penyadapan. Otoritas liga menjatuhkan denda berat: Cole didenda 100 ribu Poundsterling, Chelsea dihukum denda dengan nominal serupa, dan Mourinho diwajibkan membayar 75 ribu Poundsterling. Meskipun melalui proses banding denda Cole dipangkas menjadi 75 ribu Poundsterling, nasi telah menjadi bubur. Hubungannya dengan publik Arsenal hancur lebur. Suporter The Gunners melabelinya dengan julukan sarkastis “Cashley” tudingan bahwa ia adalah pemain mata duitan yang menjual loyalitas demi tumpukan uang.
Meski sempat menandatangani perpanjangan kontrak satu tahun pasca-skandal, Cole merasa atmosfer di Arsenal tidak lagi kondusif. Pada Agustus 2006, ia resmi menyeberang ke Stamford Bridge. Di bawah asuhan Mourinho, ia membuktikan bahwa kepindahannya bukan sekadar urusan materi, melainkan ambisi meraih kejayaan yang lebih masif. Bersama Chelsea, Cole tampil sebanyak 338 kali dalam tujuh musim dan merengkuh sembilan trofi bergengsi, termasuk satu gelar Premier League (2009/2010), empat Piala FA, serta mahkota tertinggi yang gagal ia raih bersama Arsenal: UEFA Champions League pada tahun 2012.
Di level internasional, ia membukukan 107 penampilan bersama Tim Nasional Inggris. Catatan itu mengukuhkannya sebagai bek kiri dengan penampilan terbanyak bagi tim Tiga Singa, sekaligus pemain berkulit hitam dengan penampilan terbanyak dalam sejarah sepak bola Inggris.
Turbulensi di Luar Garis Lapangan
Jika di dalam lapangan hijau Cole adalah sosok yang tenang dan taktis, di luar lapangan ia adalah magnet bagi masalah. Kehidupan asmaranya dipenuhi riak gelombang. Pernikahannya dengan penyanyi pop terkenal Inggris, Cheryl Tweedy, pada Juli 2006 selalu berada di bawah lampu blitz paparazi. Namun, biduk rumah tangga itu karam pada September 2010 setelah rentetan perselingkuhan Cole dengan sejumlah model panas terangkat ke permukaan. Media lokal Inggris menjadikannya sasaran empuk, mencoreng reputasinya sebagai figur publik.
Tak hanya urusan domestik, perilaku impulsif Cole beberapa kali menyeretnya ke urusan delik hukum. Ia pernah ditahan polisi London karena mengemudi dalam keadaan mabuk berat dan mencaci-maki petugas di tengah malam. Skandal paling aneh terjadi pada tahun 2011 di pusat latihan Chelsea di Cobham. Cole membawa senapan angin jenis air rifle lengkap dengan teropong bidik malam ke ruang ganti. Secara ceroboh, ia menarik pelatuk dan menembak seorang mahasiswa yang sedang magang di klub dari jarak dekat. Meski lolos dari jerat penjara, Chelsea menjatuhkan denda internal sebesar 250 ribu Poundsterling kepadanya.
Solidaritas buta juga sempat merusak hubungan pertemanannya sejak kecil dengan Rio Ferdinand. Dalam sidang kasus rasisme yang melibatkan kapten Chelsea John Terry melawan Anton Ferdinand (adik kandung Rio), Cole memilih berdiri di pengadilan sebagai saksi yang meringankan Terry. Langkah ini dianggap sebagai pengkhianatan rasial dan personal oleh keluarga Ferdinand, yang berujung pada putusnya hubungan pertemanan antara dua bek legendaris Inggris tersebut.
Karang yang Tetap Kokoh
Setelah sempat merantau ke AS Roma di Italia, bertualang di MLS bersama LA Galaxy, dan mengakhiri petualangan sepak bolanya di Derby County di bawah asuhan mantan rekan setimnya Frank Lampard, Ashley Cole akhirnya resmi menggantung sepatu pada Agustus 2019 dalam usia 38 tahun.
Banyak pengamat dan psikolog sepak bola menilai, rentetan perilaku destruktif Cole di luar lapangan merupakan residu dari trauma masa kecilnya akibat figur ayah yang hilang. Namun, sejarah sepak bola memiliki cara tersendiri untuk menyaring nama-nama besar. Ketika peluit babak pertama dibunyikan dan Cole telah mengenakan jersi bernomor punggung tiga, segala ruang gelap dalam kehidupan pribadinya seolah menguap. Yang tersisa hanyalah seorang gladiator sayap kiri yang tangguh, cepat, dan dingin sebuah karang kokoh yang bahkan seorang Cristiano Ronaldo pun mengakui mustahil untuk diruntuhkan dengan mudah.









