Jakarta, ArgumenRakyat.com — Air liur kucing tidak selalu berbahaya bagi manusia, tetapi risikonya meningkat ketika cairan itu mengenai luka terbuka, bekas operasi, atau kulit yang mengalami kerusakan.
Air liur kucing mengandung enzim, termasuk lisozim, yang memiliki aktivitas antibakteri. Meski demikian, cairan itu tidak steril dan dapat membawa bakteri penyebab infeksi, sehingga kontak dengan kulit utuh dan kulit terluka perlu dibedakan.
Bakteri yang perlu diwaspadai
Dua bakteri yang kerap diperhatikan adalah Pasteurella multocida dan Capnocytophaga canimorsus. Bakteri pertama umum ditemukan di mulut kucing dan memicu kemerahan, pembengkakan, serta nyeri di sekitar luka, terutama akibat gigitan.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Air liur kucing juga mengandung protein pemicu alergi bernama Fel d 1. Protein itu berpindah ke bulu dan serpihan kulit saat kucing menjilati tubuhnya, lalu memicu bersin, hidung berair, mata gatal, atau ruam pada orang yang sensitif.
Kapan perlu mencari pertolongan medis
Gejala infeksi Capnocytophaga dapat muncul sekitar 3-5 hari setelah paparan, antara lain lepuh di area luka, demam, sakit kepala, mual, hingga diare. Pada kasus berat, infeksi bisa berkembang menjadi sepsis atau meningitis.
Orang dengan sistem kekebalan lemah, tidak memiliki limpa, berusia 40 tahun ke atas, atau merokok perlu lebih waspada. Langkah pencegahan paling sederhana adalah mencuci kulit yang terkena jilatan dengan air mengalir dan sabun.









