Jakarta, ArgumenRakyat.com — Kebiasaan melamar pekerjaan secara massal dan berulang tanpa strategi jelas, yang dikenal sebagai doomjobbing, justru memicu frustrasi, kecemasan, dan kelelahan emosional tanpa menjamin seseorang mendapat pekerjaan impian.
Fenomena ini mirip doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus menelusuri kabar negatif di internet. Keduanya sama-sama muncul sebagai respons terhadap stres dan ketidakpastian, sehingga pencari kerja menghabiskan hari menelusuri situs lowongan dan mengirim CV ke posisi yang tidak sesuai minat.
Terasa Produktif, Ujungnya Burnout
Golda Inquito, pendiri perusahaan konsultan strategi karier dan talenta The Talent Treehouse, menjelaskan doomjobbing sebagai siklus melamar banyak pekerjaan dengan harapan mendapat panggilan wawancara. Pelamar sering tidak mendapat kabar, bahkan lupa posisi apa saja yang sudah dilamar.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Nicole Johnston, CEO innate POWER LLC sekaligus penulis buku Taboo Topics, menilai kondisi pasar kerja yang sulit membuat pencari kerja membawa perasaan pesimistis. Penolakan berulang bisa membuat seseorang mempertanyakan kemampuannya, meski penolakan satu perusahaan tidak mencerminkan kompetensi secara keseluruhan.
Lima Langkah Memutus Siklus
Cara pertama adalah mengenali pekerjaan yang benar-benar diinginkan, misalnya dengan mencatat sepuluh lowongan paling menarik lalu memetakan keterampilan yang masih perlu diasah. Setelah itu, susun CV dan surat lamaran yang disesuaikan untuk tiap perusahaan, bukan satu versi untuk semua posisi.
Langkah berikutnya membatasi waktu mencari lowongan agar tidak menyita seluruh energi, membangun jaringan profesional secara terarah, dan terbuka terhadap masukan dari orang lain. Terakhir, jangan biarkan pencarian kerja menguasai hidup: aktivitas lain, istirahat, dan ruang untuk belajar tetap dibutuhkan agar prosesnya berkelanjutan.









