JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Orang tua sering dibuat pusing saat anak menolak brokoli, wortel, atau bayam di piring, padahal kebiasaan sederhana di rumah terbukti bisa membuat anak lebih akrab dengan sayuran hingga dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan Menyerah pada Penolakan Pertama
Anak yang menolak brokoli hari ini bukan berarti brokoli akan selamanya masuk daftar makanan terlarang. Salah satu pendekatan yang memiliki bukti cukup kuat adalah paparan berulang, yakni terus menawarkan makanan yang sama pada kesempatan berbeda tanpa memaksa anak menghabiskannya. Kajian yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Nutrition menemukan paparan berulang terhadap satu maupun beragam jenis sayuran dapat meningkatkan kesukaan dan konsumsi sayuran pada anak.
Orang tua juga dianjurkan tidak bergantung pada satu jenis sayuran yang kebetulan disukai anak. Memperkenalkan variasi seperti brokoli, buncis, labu, tomat, atau kacang polong memperkaya pengalaman anak terhadap rasa, aroma, warna, dan tekstur makanan.
Journal of Clinical Nutrition mencatat, anak mungkin perlu banyak percobaan sebelum akhirnya menyukai makanan yang sebelumnya ditolak. Karena itu, tawaran sayur sebaiknya diulang pada kesempatan lain dengan suasana yang tenang, tanpa paksaan maupun ancaman hukuman.
Peran Orang Tua dan Cara Penyajian
Menyajikan sayuran sebagai makanan pertama saat anak mulai makan membuat peluang sayur dikonsumsi lebih besar, karena anak masih dalam kondisi lapar. Selain itu, proporsi sayur di dalam piring dapat diperbesar secara bertahap tanpa menghilangkan makanan favorit anak.
Cara penyajian turut menentukan. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan makanan dibuat terlihat menarik, misalnya dipotong dalam bentuk yang menyenangkan dan ditempatkan dalam porsi kecil sehingga mudah dilihat serta diambil anak.
Contoh di rumah juga menjadi kunci. Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari, sehingga keluarga sebaiknya makan bersama dan orang tua ikut mengonsumsi sayuran. Anak bisa dilibatkan sejak berbelanja, mencuci, hingga menata makanan agar pengalaman makan terasa lebih menyenangkan. Yang terpenting, hindari menjadikan sayur sebagai sumber pertengkaran atau hadiah, karena tekanan justru dapat membuat anak semakin menolak makanan tertentu.








