[JAKARTA], ArgumenRakyat.com — Stres dan kecemasan yang tinggi ternyata dapat memicu naiknya asam lambung serta memunculkan gangguan pencernaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hubungan antara kondisi mental dan pencernaan terjadi karena otak dan organ pencernaan saling berkomunikasi melalui jalur yang dikenal sebagai gut-brain axis atau sumbu otak-usus. Saat stres, tubuh mengaktifkan respons terhadap tekanan yang melibatkan hormon stres dan sistem saraf simpatis.
Profesor Giovanni Leonetti, dosen Gastroenterologi di UniCamillus, menjelaskan stres dan kecemasan dapat memengaruhi produksi cairan pencernaan serta perlindungan lapisan lambung. “Stress-induced gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung yang disebabkan oleh stres dan kecemasan,” ujar Leonetti.
Menurut dia, kondisi tersebut muncul ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, perubahan gaya hidup, masa belajar yang intens, maupun persoalan emosional, keluarga, dan kesehatan.
Pola Hidup Ikut Berubah
Stres juga sering mengubah pola hidup. Orang yang sedang banyak pikiran bisa melewatkan waktu makan, makan berlebihan, atau mengandalkan kopi agar tetap terjaga. Kebiasaan itu kemudian memperburuk keluhan pencernaan pada sebagian orang.
“Ketika stres dan kecemasan menjadi sangat tinggi, produksi cairan pencernaan yang bersifat asam meningkat, sementara lendir dan prostaglandin yang melindungi lapisan lambung menurun,” kata Leonetti.
Kenali Gejalanya
Keluhan pada sistem pencernaan dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti sakit perut, heartburn, regurgitasi, hingga kembung. Meski umumnya bukan masalah serius, kondisi ini bisa menurunkan kualitas hidup bila dibiarkan.
Mengelola stres melalui istirahat cukup, pola makan teratur, dan aktivitas fisik disebut membantu meredakan keluhan. Jika nyeri menetap atau semakin berat, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.








