ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com โ Integritas aparatur sipil negara (ASN) kembali menjadi sorotan. Di tengah derasnya tekanan politik dan godaan jabatan, seberapa kuat seorang birokrat bertahan pada aturan? Pertanyaan itu dibedah tuntas dalam episode terbaru podcast Kusieh Bendi bersama H. Irwandi, S.H., Dt. Batujuah, birokrat senior yang pernah menjabat Wakil Wali Kota Bukittinggi dan Sekretaris Daerah Payakumbuh.
Dengan pengalaman puluhan tahun mengarungi roda pemerintahan daerah, Irwandi membagi pelajaran tentang profesionalitas, netralitas, dan cara memimpin aparatur tanpa kehilangan kompas aturan.
Berani Bilang Tidak ke Pimpinan
Bagi Irwandi, loyalitas kepada atasan bukan berarti patuh buta. Ada batas yang tidak boleh dilewati seorang ASN. “Kita harus berani mengatakan tidak kepada pimpinan jika itu melanggar aturan,” tegasnya. Prinsip itu, katanya, yang membedakan aparatur yang menjalankan tugas dari aparatur yang sekadar mencari aman.
Manajemen Partisipatif, Bukan Sepihak
Irwandi menekankan pemerintahan yang baik dibangun lewat keterlibatan publik, bukan keputusan sepihak di ruang tertutup. “Pemerintah harus menerapkan manajemen partisipatif dan akomodatif agar aspirasi masyarakat terserap dengan benar,” ujarnya. Menurut dia, banyak kebijakan gagal bukan karena salah arah, tetapi karena warga tidak pernah dilibatkan sejak awal.
Sistem Merit, Bukan Kedekatan Politik
Soal penataan birokrasi, Irwandi mengingatkan pentingnya sistem merit berbasis kompetensi. “Penempatan seseorang dalam jabatan harus sesuai persyaratan teknis dan rekam jejak, bukan karena faktor kedekatan politik,” katanya. Ia menilai penempatan yang salah akan berujung pada layanan publik yang lambat dan mahal.
Netralitas ASN Diuji Tekanan Atasan
Menghadapi tahun-tahun politik, Irwandi mengakui tekanan kepada ASN sering datang dari atas. Karena itu ia berpesan agar aparatur memegang harga diri lebih tinggi daripada kursi jabatan. “Jangan takut kehilangan jabatan karena mempertahankan aturan, tapi takutlah kehilangan harga diri,” pesannya.
Dari Sampah ke Energi: Intervensi Teknologi
Di sisi pembangunan kota, Irwandi menyoroti sanitasi dan pengelolaan sampah sebagai persoalan yang sering diabaikan. Ia menilai teknologi bisa mengubah masalah menjadi nilai tambah. “Intervensi teknologi pada pengelolaan sampah dapat mengubah masalah limbah menjadi sumber energi dan nilai ekonomi,” jelasnya.
Menjangkau Audiens Pengambil Kebijakan dan Pelaku Usaha Daerah
Episode ini menunjukkan satu hal: percakapan soal birokrasi, kebijakan publik, dan pembangunan daerah memiliki audiens yang loyal โ mulai dari ASN, pelaku usaha, akademisi, hingga warga yang peduli tata kelola. Bagi UMKM dan brand daerah yang ingin dikenal lebih luas, termasuk di lingkaran pengambil kebijakan, tayangan seperti ini adalah ruang yang tepat.
Apa untungnya bagi brand Anda?
๐๏ธ Dekat dengan pengambil kebijakan โ audiens episode ini adalah ASN, pelaku usaha, dan tokoh daerah yang menentukan arah pembangunan.
๐ Asosiasi kredibel โ brand Anda tampil di samping narasi integritas dan tata kelola yang baik, bukan sekadar hiburan.
โป๏ธ Relevan untuk isu berkelanjutan โ cocok untuk brand yang bergerak di pengelolaan sampah, energi, sanitasi, dan lingkungan.
๐ Dipakai ulang terus-menerus โ konten tayang selamanya dan dipotong ke Instagram Reels serta TikTok tanpa biaya promosi tambahan.
Kami bukan hanya penjual slot iklan. Dimensia Creative terbiasa memproduksi konten tata kelola dan pemerintahan โ dari live streaming kegiatan resmi, film sejarah kota, hingga pendampingan konten program pemerintah daerah. Kami terbuka membantu brand Anda membangun kredibilitas lewat cerita yang relevan bagi warga.
๐ Jadwalkan kolaborasi: WA 0812-6349-2788
๐ Lihat proposal & paket: dimensiacreative.com/proposal/
Dimensia Creative โ Konten Kreatif yang Mencerdaskan dan Mengangkat Cerita Lokal.








