PAYAKUMBUH — “Kita tidak sadar bahwa kita dalam keadaan perang sekarang. Bukan perang fisik dan militer, tapi asymmetric war, hybrid war, dan cognitive warfare.” Dr. H. Anton Permana, SIP, MH membuka diskusi geopolitik di podcast Kusieh Bendi dengan analisis tajam tentang ancaman yang menggerogoti kedaulatan Indonesia — dari perang informasi hingga mentalitas terjajah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perang Kognitif: Musuh di Dalam Kepala
Anton menjelaskan bentuk perang modern yang paling berbahaya: cognitive warfare. “Perang ekonomi, perang dagang — sekarang lebih modern lagi, perang cognitive warfare. Perang informasi. Sehingga masyarakat kita: mana pilih tas LV atau Siwuyut? Dia pasti lebih LV dong.”
Ini bukan kebetulan. “60% dunia maya kita semuanya bot dan produksi dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin menciptakan kegaduhan dan kebingungan di masyarakat. Mereka ini orang-orang bayaran. Itu enggak natural.”
Rupiah 18.000: Psikologis atau Real?
“Sekarang dolar sudah — secara psikologis — 18,000,” ujar Anton. Ia menyoroti tekanan pada APBN dengan jatuh tempo utang mencapai 800 triliun rupiah. Namun di sisi lain, cadangan devisa Indonesia masih mampu meng-cover kebutuhan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah mentalitas konsumtif terhadap produk luar negeri. “Salah satu kegagalan kolektif kita adalah kita tidak pernah menjadi diri kita sendiri. Kita punya tanah, punya sungai, punya padi, punya sawah, lahan nganggur tidur — kok enggak kita manfaatkan? Ngapain bergantung ke luar?”
Koreksi Arah Kebijakan
Anton mengapresiasi pergeseran kebijakan di era Prabowo yang mulai memperbaiki hal-hal fundamental. “Selama ini kita terlalu liberal. Ketahanan pangan — kenapa enggak bisa? Enggak ada alasan Indonesia yang hanya dua musim masih impor-poran.”
Ia mencatat bahwa Indonesia kini sudah surplus beras 42 juta ton dan tidak perlu impor lagi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan 37.000 titik distribusi, menurutnya, bertujuan membuat uang beredar di kelas menengah-bawah.
“Selama ini hanya dua kelas terjadi di 10 tahun pemerintahan Jokowi — elit dan bawah. Tengah enggak ada, tengah jatuh ke bawah,” kritiknya.
Pesan Fundamental
“Kewajiban dasar — masalah perut, sandang pangan, kesehatan, pendidikan — jangan sampai terabaikan. Kewajiban utama baru infrastruktur dan yang lain-lain.” Anton menekankan bahwa kunci kedaulatan Indonesia ada pada kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, bukan bergantung pada kekuatan asing.
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, membahas isu-isu strategis dari sudut pandang lokal Sumatera Barat. Ingin brand Anda tampil dalam diskusi berbobot seperti ini? Kami membuka peluang sponsorship — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.









