Membedah Risalah “Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia” karya D.N Aidit

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 16:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dok. Cover Risalah D.N Aidit, yang Berjudul

Dok. Cover Risalah D.N Aidit, yang Berjudul "Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia"

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Identitas risalah: Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Revolusi Indonesia, Kuliah Umum D.N. Aidit, Diterbitkan oleh Jajasan “Universitas-Rakjat”, Djakarta, 1959.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia senantiasa diwarnai pergulatan pemikiran dalam mencari sebuah metodologi sahih demi membebaskan nasion dari belenggu kolonialisme. Risalah berharga ini memuat teks kuliah umum D.N. Aidit, Sekretaris Djendral C.C. Partai Komunis Indonesia, kala itu.

Kitab bertajuk Introduksi tentang Soal2 Pokok Revolusi Indonesia yang diterbitkan oleh Jajasan “Universitas-Rakjat” Djakarta pada tahun 1959 ini, berdiri sebagai monumen doktriner yang berusaha merajut keselarasan antara filsafat asing dengan realitas sosiologis bumi bumiputera yang tengah bergolak.

Menilik lembar awal risalah ini, Aidit membuka ceramahnya di hadapan hadirin Universitas-Rakjat dengan penegasan moral mengenai hakikat menuntut ilmu dalam lingkaran pergerakan. Baginya, lembaga tersebut didirikan bukan demi kedudukan sosial, tapi murni sebagai pengabdian. Hal ini tersurat dalam kalimatnya yang benderang, bahwa “…tidak ada tudjuan jang lebih mulia daripada memperbaiki pengabdian diri kepada revolusi” (hlm. 3).

Dengan demikian, ilmu pengetahuan didudukkan bukan sebagai hiasan dinding belaka, tapi sebagai senjata aktif di medan laga. Lebih lanjut, pria kelahiran Tanjung Pandan, Belitung, itu melontarkan kritik sangat tajam terhadap kecenderungan kaum intelek masa lalu yang kerap terjebak dalam dogmatisme kaku.

Beliau melihat bahaya besar ketika para kader pergerakan hanya menghafal dalil tanpa mampu membaca denyut nadi masyarakat sekitarnya. Praktek demikian dipandang sebagai “…beladjar jang bertentangan dengan Marxisme-Leninisme, karena memisahkan beladjar teori dengan praktek revolusioner” (hlm. 5).

Ketidakselarasan teori dan praktek ini melahirkan kemandekan berpikir.
Fenomena pedantisme intelektual ini dikuliti lebih jauh oleh Aidit. Beliau mengecam keras para pengajar dan teoretikus yang hanya pandai membeo tanpa kepekaan sosiologis terhadap problem konkret rakyat.

Baca Juga:  Semaoen: Sang Agitator Ulung dari Jantung Jawa

Manifestasi dari kemandekan tersebut digambarkan secara lugas melalui sindiran historisnya: “Teoritikus jang demikian ini dimasa jang lampau pernah kita namakan ‘kijai Marxis’, jaitu mereka jang pekerdjaannja ‘mendjual’ dalil2 Marxis, tidak perduli apakah dalil2 itu tjotjok atau tidak…” (hlm. 6).

Melalui istilah ‘kijai Marxis’ ini, Aidit memberikan pembatasan tegas antara kaum revolusioner sejati dengan para penjaja dogma mati, dan dalam upaya merumuskan strategi pergerakan yang jitu, risalah ini menekankan bahwa pemahaman atas sejarah dan hukum perkembangan global harus disaring melalui kenyataan objektif tanah air.

Walaupun revolusi Rusia dan Tiongkok patut dijadikan cermin, hal tersebut tidak menghapus kewajiban membedah anatomi bangsa sendiri. Aidit menuliskan dengan penuh kesadaran: “…kita mempeladjari revolusi2 diluarnegeri adalah dengan tudjuan untuk lebih mengerti revolusi kita sendiri, dan untuk menemukan djalan2 jang tjotjok buat revolusi kita” (hlm. 9).

Pandangan ini mencerminkan sikap pragmatisme taktis yang menolak penjiplakan mentah-mentah atas doktrin luar. Berdasarkan penjelajahan mendalam atas struktur ekonomi Indonesia yang agraris setengah feodal kala itu, Aidit mengidentifikasi adanya penindasan ganda yang melahirkan kontradiksi pokok.

Di tengah konflik sosial tersebut, risalah ini menetapkan skala prioritas utama dalam menentukan arah hantaman revolusi, sebagaimana dinyatakan: “Dari dua pertentangan pokok ini, pertentangan antara imperialisme dengan nasion Indonesia adalah pertentangan jang terpokok, jang paling utama harus diurus” (hlm. 10). Dengan demikian, imperialisme diposisikan sebagai musuh nomor satu yang wajib digulingkan terlebih dahulu melalui mobilisasi massa luas.

Demi memenangkan pertarungan melawan musuh bersama tersebut, Aidit menggariskan pentingnya taktik penggalangan Front Persatuan Nasional. Ia memperingatkan dengan keras agar segenap elemen progresif baik kaum komunis, nasionalis, maupun golongan agama yang patriotik tidak mengobarkan pertikaian internal yang sia-sia di kalangan rakyat sendiri. Beliau menegaskan sebuah aksioma politik yang fundamental kala itu, “Memperbesar pertentangan dikalangan Rakjat, langsung atau tidak langsung adalah membantu musuh2 Rakjat” (hlm. 11).

Baca Juga:  Mengenal Azyumardi Azra, Cendekiawan Indonesia Peraih Gelar Kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II

Persatuan nasional yang kokoh dipandang sebagai prasyarat mutlak bagi keberhasilan taktis jangka pendek maupun strategis jangka panjang. Konsekuensi logis dari analisis sosiologis tersebut menuntun pada perumusan watak revolusi yang tidak tergesa-gesa melompat ke fase sosialis murni. Mengingat kondisi ekonomi yang masih terbelakang, Aidit menetapkan batasan objektif yang realistis, yaitu bahwa “…watak revolusi kita pada tingkat sekarang bukanlah proletar sosialis, tetapi nasional-demokratis atau burdjuis-demokratis” (hlm. 13).

Pemikiran ini memisahkan garis perjuangan mereka dari demagogi “kiri” yang utopis, yang justru dinilai dapat memecah belah aliansi taktis dengan borjuasi nasional yang bimbang. Akhirnya, arah dan muara dari seluruh rangkaian laku pergerakan ini disimpulkan secara populer sebagai sebuah maklumat sejarah untuk menuntaskan amanat proklamasi yang belum selesai. Strategi revolusi Indonesia didefinisikan dengan tegas, yakni “…strategi revolusi Indonesia pada tingkat sekarang jalah menjelesaikan revolusi nasional dan demokratis, atau setjara populer biasa dinjatakan dengan sembojan ‘Menjelesaikan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akaranja'” (hlm. 15).

Gagasan inilah yang menjadi jangkar pengikat seluruh diskursus perjuangan rakyat dalam risalah tersebut.
Gaya kepenulisan klasik yang anggun menjadikan kuliah umum D.N. Aidit ini sebagai dokumen teoretis bernilai tinggi. Sebagai sebuah ulasan kritis, risalah ini berhasil memperlihatkan bagaimana nalar materialisme dialektis diterapkan secara kontekstual di Indonesia pada akhir dekade 1950-an.

Bagi para pembaca kontemporer, karya ini menyajikan sebuah lanskap intelektual yang jernih untuk memahami strategi politik masa lampau dalam merajut simpul-simpul massa demi tegaknya kedaulatan nasion yang seutuhnya.

Berita Terkait

Menilik Aksi Massa dalam Pandangan Tan Malaka: Gejala Putsch dan Kerinduan Masa Radikal
Ustad Hadi Nur Ramadhan Hadir di Forum Rundiang karena Polemik Video Tan Malaka di Media Sosial
Dari Sebuah Video: Lahirlah Perdebatan Panjang tentang Natsir dan Tan Malaka
Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia
Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka
Jebakan ‘Lifestyle Creep’: Alasan Mengapa Gaji Naik Tapi Tabungan Tetap Segini-Sini Saja
Edukasi Teknologi: Selain SEO, Mulai Kenali GEO agar Konten Anda Tetap Ditemukan Kecerdasan Buatan
Upskilling atau Tergerus? Strategi Bertahan di Era Otomasi

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 16:50 WIB

Membedah Risalah “Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia” karya D.N Aidit

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:50 WIB

Menilik Aksi Massa dalam Pandangan Tan Malaka: Gejala Putsch dan Kerinduan Masa Radikal

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:31 WIB

Ustad Hadi Nur Ramadhan Hadir di Forum Rundiang karena Polemik Video Tan Malaka di Media Sosial

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:50 WIB

Dari Sebuah Video: Lahirlah Perdebatan Panjang tentang Natsir dan Tan Malaka

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:30 WIB

Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia

Berita Terbaru