ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Sinyal merah kembali menyala di sektor ketenagakerjaan Indonesia. Sektor otomotif yang selama ini menjadi salah satu pilar penopang pertumbuhan ekonomi nasional kini tengah menghadapi ancaman badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan industri dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekhawatiran mendalam ini disuarakan secara lantang oleh Said Iqbal, Penasihat Khusus Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Menurut dia, situasi di lapangan menunjukkan gejala yang tidak sehat, terutama pada sejumlah korporasi besar yang berbasis di wilayah Jawa Timur.
Ancaman ini menjadi alarm keras bagi iklim investasi di Indonesia. Ketika pemerintah gencar mengampanyekan stabilitas investasi asing, realitas kelesuan manufaktur justru berpotensi memicu tsunami pengurangan tenaga kerja.
Said Iqbal mengungkapkan bahwa pembicaraan mengenai relokasi industri ini sudah mulai bergulir. “Di Jawa Timur juga, di daerah Pasuruan dan Mojokerto, ada dua perusahaan, saya belum bisa sebut nama perusahaannya. Dari informasi awal waktu saya ke Jawa Timur,dua perusahaan raksasa komponen otomotif, ini di komponen otomotif, itu bisa ribuan karyawannya akan terdampak PHK, Sebab di Indonesia rupanya pabrik mobil listrik tidak kompetitif, tapi di Vietnam sedang ada kebijakan pengembangan pabrik mobil listrik,” katanya menambahkan dampak dari rencana pemindahan operasional tersebut, dilansir dari METRO TV, Selasa 23 Juni 2026.
Sementara itu, menanggapi isu miring tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto langsung buka suara. Airlangga membantah narasi bahwa iklim investasi Indonesia sedang lesu dan menegaskan bahwa aliran modal asing ke tanah air justru masih menunjukkan tren positif di berbagai kawasan strategis.
“Investasi itu masih bergerak, termasuk ke Indonesia juga beberapa investasi masih masuk. Kita ketahui beberapa kawasan ekonomi khusus, seperti misalnya di kawasan ekonomi di Jawa Timur, di JIIPE, kemudian juga kawasan ekonomi di Pulau Bintan, itu demand daripada para industri yang akan investasi meningkat. Jadi memang kami menerima beberapa rencana pengembangan kawasan-kawasan, baik itu kawasan ekonomi maupun kawasan industri,” kata Airlangga Hartarto dalam keterangannya.









