ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Rupiah sempat menyentuh level terendah Rp17.300 per dolar AS. Namun beberapa pekan kemudian, nilai tukar mulai stabil. Bank Indonesia melakukan intervensi gencar. Di tengah kondisi itu, fenomena aneh muncul. Harga sejumlah komoditas impor tetap bertahan di angka tinggi. Komoditas itu antara lain kedelai, tepung terigu, dan minyak goreng. Harga-harga itu enggan ikut turun, padahal kurs sudah mulai membaik. Para ekonom menyebut kondisi ini sebagai sticky prices atau harga lengket. Artinya, harga lebih mudah naik saat rupiah melemah. Namun harga sangat lambat turun saat rupiah menguat. Lantas, ke mana perginya dampak penguatan rupiah?
Dua Penghalang Utama
Ekonom senior Faisal Basri dari INDEF menjelaskan dua penghalang utama. Pertama, pedagang dan distributor masih menyimpan stok lama. Mereka membeli stok itu saat rupiah berada di titik terlemah. Karena itu, mereka enggan menurunkan harga. Mereka menunggu stok lama benar-benar habis. Kedua, faktor psikologi pasar ikut bermain. Produsen cenderung mengamankan margin keuntungan. Mereka bersiap jika kurs kembali anjlok sewaktu-waktu. Akibatnya, konsumen kelas menengah ke bawah tetap terbebani. Pelaku UMKM kuliner juga merasakan hal serupa. Harga bahan baku tak kunjung turun. Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan fakta di tingkat distributor. Harga kedelai impor masih bertahan di kisaran Rp11.500 per kg. Tepung terigu curah juga belum bergerak dari angka Rp11.800 per kg.
Yang Harus Pemerintah Lakukan
Secara historis, penyesuaian harga ke bawah membutuhkan waktu lama. Biasanya sekitar tiga hingga enam bulan. Kondisi ini sangat berbeda dengan kenaikan harga. Kenaikan bisa terjadi dalam hitungan hari. Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen. BI juga terus melakukan intervensi di pasar valas. Namun langkah ini tidak mampu langsung memotong rantai distribusi. Rantai distribusi sudah terlanjur mahal. Agar penguatan rupiah tidak sekadar menjadi angka di atas kertas, pemerintah perlu bertindak. Perkuat pengawasan Satgas Pangan. Dorong transparansi harga dari tingkat distributor hingga ke pasar tradisional. Tanpa itu, masyarakat hanya akan terus bertanya-tanya kapan keringangan benar-benar tiba. Masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap waspada. Tekanan harga diperkirakan baru akan benar-benar melandai pada akhir kuartal III-2026.(**)









