YLBHI Soroti Pelimpahan Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah ke Kejagung: Dinilai Cacat Prosedural dan Sarat Konflik Kepentingan

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ketua YLBHI, Muhammad Isnur. (Dok. uinjkt.ac.id)

Foto: Ketua YLBHI, Muhammad Isnur. (Dok. uinjkt.ac.id)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) periode 2022-2026, Muhamad Isnur, mengkritisi secara tajam langkah Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Mabes Polri yang melimpahkan penanganan kasus eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah (FA) ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Pelimpahan ini dinilai memicu conflict of interest (konflik kepentingan) yang berpotensi menghambat akuntabilitas penegakan hukum.

Sebelumnya, Polri dan Kejagung sepakat melakukan sinergi dalam penanganan perkara korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menjerat Febrie sebagai tersangka. Tiga klaster kasus tersebut meliputi dugaan korupsi serta TPPU terkait batu bara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), PT Asabri, dan PT Krakatau Steel. Kendati status hukumnya sudah inkrah sebagai tersangka, Febrie terkesan mendapat privilege (hak istimewa) karena belum ditahan dengan dalih pemeriksaan belum dimulai.

Baca Juga:  3 Anggota DPRD Jatim Jalani Rehabilitasi Usai Pesta Narkoba

Secara metodologis, Isnur mengidentifikasi adanya anomali hukum karena proses penyidikan yang baru berjalan tiga hari secara kilat langsung dinyatakan P-21 (lengkap) dan dilimpahkan. Hal ini dinilai menegasikan prinsip-prinsip due process of law (proses hukum yang adil).

“Ini dianggap berkas perkara, aneh juga, masa baru 3 hari penyidikan sudah kemudian dianggap lengkap perkaranya, sehingga dilimpahkan kejaksaan gitu,” kata Isnur sebagaimana dilansir dari wawancara eksklusif bersama Tribunnews.com dalam program Kacamata Hukum dari studio Kantor Tribunnews Solo, Senin (13/7/2026).

Isnur mensinyalir adanya fenomena systemic corruption (korupsi sistemik) yang berusaha ditutupi melalui birokrasi penegakan hukum ini.

“Jadi ini ada sebuah kesalahan besar, ada sebuah skandal besar, diikuti oleh skandal yang baru,” ucapnya.

Baca Juga:  KPK OTT di BNPB, 14 Orang Ditangkap Termasuk Sestama

Langkah ini memicu skeptisime publik terhadap asas impartiality (independensi) korps Adhyaksa dalam mengadili mantan pejabat terasnya sendiri.

“Saya khawatir Kejaksaan tidak akan melakukan kelanjutan perkara ini dengan maksimal ya,” tegasnya.

Adapun penyidikan komprehensif sangat krusial untuk melakukan actor mapping guna mendeteksi intellectual dader (aktor intelektual) maupun jaringan pejabat lain yang terlibat.

“Kan kita harus tahu gitu. Ini yang kita saksikan ya proses seperti ini gitu, harusnya sih idealnya kalaupun mau serius polisi menyelesaikan dulu penyidikannya, diungkap semuanya terang-berang,” ungkapnya.

“Saksinya dipanggil dan biar fair misalnya dilakukan penahanan dan lain-lain, baru dilimpahkan ke ke KPK menurut kami yang lebih tepat, bukannya kejaksaan Agung,” tutur alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Berita Terkait

Dua Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Nduga
Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami
KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir
Asap Karhutla Masuk Jakarta, DKI Siapkan PJJ dan WFH
KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar
MK Perintahkan Revisi UU Peradilan Militer, TNI Merespons
KPK OTT di BNPB, 14 Orang Ditangkap Termasuk Sestama
DPR Desak Karhutla Ditetapkan Jadi Bencana Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Dua Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Nduga

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:35 WIB

Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:25 WIB

KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:38 WIB

Asap Karhutla Masuk Jakarta, DKI Siapkan PJJ dan WFH

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:33 WIB

KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar

Berita Terbaru

Advokat Hafis Alfarisi saat menjadi narasumber podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendir)

Ekonomi

HGU Perusahaan vs Tanah Adat, Advokat Pilih Jalan Damai

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:45 WIB

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB