Purbaya Sebut Ekonomi Bagus, Di Tengah Guncangan Rupiah

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 11:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Pencil Sketch Art Purbaya Yudhi Sadewa Memegang Mata Uang Rupiah

Ilustrasi: Pencil Sketch Art Purbaya Yudhi Sadewa Memegang Mata Uang Rupiah

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Geliat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) kian tak terbendung, memaksa mata uang Garuda bertekuk lutut di zona merah. Kini, mata uang Negeri Paman Sam tersebut mantap bertengger di kisaran level Rp 17.800-an. Berdasarkan pembacaan data performa moneter kuantitatif yang dihimpun Bloomberg pada Kamis (28/5/2026) sekira pukul 09.10 WIB, nilai tukar dolar AS menguat 57 poin atau setara 0,32 persen ke posisi Rp 17.858.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dominasi greenback tidak hanya menekan rupiah, melainkan juga mendesak sejumlah mata uang global lainnya secara simultan. Melalui kalkulasi komparatif indikator pasar valuta asing, dolar AS tercatat menguat 0,51 persen terhadap won Korea, 0,05 persen atas yen Jepang, 0,09 persen terhadap dolar Kanada, serta mengikis franc Swiss hingga 0,20 persen. Sebaliknya, mata uang ini hanya mengalami depresiasi tipis 0,03 persen di hadapan dolar Hong Kong.

Baca Juga:  Purbaya Tegaskan Efisiensi Program Makan Bergizi Gratis demi Amankan Anggaran

Fenomena anomali ekonomi ini memicu respons skeptis dari lingkaran pembuat kebijakan. Di samping itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa heran dan stres nilai rupiah melemah cukup dalam. Ia menilai nilai tukar dolar AS yang menyentuh Rp 17.800 tak masuk akal.

Ketidakwajaran tersebut, menurut penalaran deduktif Purbaya, terjadi justru saat indikator fundamental domestik menunjukkan performa positif. Berbicara dalam konteks kausalitas ekonomi di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, pada Rabu kemarin sebagaimana dilansir dari detikFinance, Purbaya menegaskan: “Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental.” Ungkap Alumnus Ilmu Ekonomi, Purdue University, Indiana, Amerika Serikat tersebut.

Baca Juga:  Polri Minta Tambahan Anggaran untuk 2027, Berapa Angkanya?

Sebagai bantalan stabilitas, pemerintah mengoptimalkan kebijakan fiskal intervensi pasar SBN (treasury operation). Langkah mitigasi risiko ini terbukti berhasil mereduksi yield obligasi dan menjaga arus masuk modal asing (capital inflow). Menkeu mengindikasikan bahwa otoritas keuangan akan terus mengonstruksi langkah strategis lanjutan demi menjaga resiliensi nilai tukar rupiah ke depan.

Berita Terkait

Purbaya Dijadwalkan Bertemu Pimpinan BI Pasca-Mundurnya Perry Warjiyo, Kemenkeu Matangkan Agenda KSSK
Purbaya Tegaskan Kas DKI Masih Melimpah, Pertanyakan Rencana Penerbitan Obligasi
Teka-teki Kipas Angin Rp 1,8 Triliun Koperasi Desa Merah Putih
Tak Lagi Disamaratakan, BGN Formulasi Ulang Insentif SPPG Berbasis Operasional
Tangan Besi Pengumpul Pajak: Pelibatan Babinsa-Bhabinkamtibmas Menjangkau Shadow Economy
Polri Minta Tambahan Anggaran untuk 2027, Berapa Angkanya?
Qodari Jawab Tuntutan Mahasiswa: Sebut Prabowo Panglima Lawan Kebocoran APBN
Purbaya Berdalih Soal Logika “Nombok” Dinas Presiden

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 21:40 WIB

Purbaya Dijadwalkan Bertemu Pimpinan BI Pasca-Mundurnya Perry Warjiyo, Kemenkeu Matangkan Agenda KSSK

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:32 WIB

Purbaya Tegaskan Kas DKI Masih Melimpah, Pertanyakan Rencana Penerbitan Obligasi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:18 WIB

Teka-teki Kipas Angin Rp 1,8 Triliun Koperasi Desa Merah Putih

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:25 WIB

Tak Lagi Disamaratakan, BGN Formulasi Ulang Insentif SPPG Berbasis Operasional

Senin, 20 Juli 2026 - 13:58 WIB

Tangan Besi Pengumpul Pajak: Pelibatan Babinsa-Bhabinkamtibmas Menjangkau Shadow Economy

Berita Terbaru