Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Hari-hari terakhir Sukarno di Istana Kepresidenan (Dok. Majalah LIFE)

Foto: Hari-hari terakhir Sukarno di Istana Kepresidenan (Dok. Majalah LIFE)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Runtuhnya kekuasaan politik Sukarno pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 merupakan salah satu potret paling kelam dalam transisi kekuasaan di Indonesia. Melalui operasi de-Sukarnoisasi yang terstruktur, sistematis, dan masif, Rezim Orde Baru yang dimotori oleh Jenderal Soeharto perlahan melucuti legitimasi sang Proklamator. Sukarno, yang dahulunya dipuja sebagai Pemimpin Besar Revolusi, harus menghabiskan sisa hidupnya dalam keterasingan emosional dan desolasi fisik yang menyayat hati.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Proses marjinalisasi politik ini mencapai puncaknya setelah dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Dokumen ini menjadi instrumen hukum bagi Soeharto untuk membubarkan PKI dan merestrukturisasi Kabinet Dwikora, sekaligus mempreteli pengaruh eksekutif Bung Karno. Sukarno sempat melakukan political survival melalui pidato pertanggungjawaban “Nawaksara” di hadapan MPRS, namun upaya tersebut ditolak.

Baca Juga:  Gus Dur dan "Firasat" Jumlah Perempuan Cantik yang Pintar

Pada 12 Maret 1967, MPRS secara resmi mencabut mandat kepresidenannya, menandai berakhirnya era Demokrasi Terpimpin

Dampak dari suksesi kekuasaan ini memaksa Sukarno keluar dari Istana Merdeka dengan kondisi yang sangat kontras dari kejayaannya terdahulu. Ia terusir hanya dengan membawa kaos oblong, piama, dan beberapa botol obat.

Sukarno pun Berubah status menjadi tahanan politik, ia ditempatkan di bawah pengawasan militer yang ketat (tahanan rumah) di Wisma Yaso, Jakarta. Isolasi sosial ini memutus interaksinya dengan dunia luar, bahkan keluarga besarnya memerlukan izin birokrasi yang rumit hanya untuk menjenguk.

Tekanan psikologis akibat karantina politik memperburuk kondisi kesehatan sang fajar yang kian meredup. Bung Karno mengalami komplikasi penyakit parah, termasuk gagal ginjal dan depresi akut. Penderitaan fisiknya terlihat jelas saat menghadiri pernikahan putrinya, Rachmawati, di mana ia datang dengan wajah bengkak, langkah tertatih-tatih, dan pengawalan bersenjata lengkap seolah ia seorang buronan berbahaya.

Baca Juga:  Merawat Ruang Tumbuh Kolektif: Menakar Nyali dan Integritas Industri Kreatif di Daerah

Memasuki bulan Juni 1970, kondisi kesehatan Sukarno memasuki fase kritis. Hari ulang tahunnya yang ke-69 pada 6 Juni dilewati dalam kesunyian tanpa perayaan. Beberapa hari kemudian, ia dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto dan ditempatkan di sebuah kamar terisolasi di ujung koridor rumah sakit yang dijaga ketat. Di tempat tidur pesakitan itulah terjadi sebuah rekonsiliasi historis yang mengharukan ketika Mohammad Hatta datang menjenguk sahabat lamanya. Dua tokoh dwitunggal yang sempat pecah kongsi politik itu larut dalam tangis sisa kejayaan mereka.

Berita Terkait

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar
Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi
Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt
Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya
Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah
Mengenal Azyumardi Azra, Cendekiawan Indonesia Peraih Gelar Kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II
Ucapan Belasungkawa Megawati untuk Khamenei Disiarkan di TV Iran
Fransisca Fanggidae: Juru Bicara Revolusi yang Terpental ke Tepian Sejarah

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:50 WIB

Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:03 WIB

Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:22 WIB

Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya

Sabtu, 11 Juli 2026 - 16:51 WIB

Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah

Berita Terbaru