ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Pria berkulit putih dan berhidung mancung itu berdiri tegak di mimbar yang riuh oleh gemuruh massa. Dari luar, fisik dan karakteristiknya adalah replika sempurna dari bangsa yang tengah mencengkeram Nusantara dengan kuku-kuku kolonialisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, ketika ia membuka mulut, yang keluar bukanlah titah sombong sang penindas, melainkan pekik radikal yang membakar simpul saraf perlawanan kaum pribumi. Ernest François Eugène Douwes Dekker atau yang karib disapa Nes adalah sebuah anomali besar sekaligus oase dalam genealogis sejarah kemerdekaan Indonesia.
Sebagai cucu dari Eduard Douwes Dekker, penulis mahakarya satir Max Havelaar, darah aktivisme dan kegelisahan intelektual mengalir deras di tubuh Nes. Ditambah lagi, sang ibu merupakan seorang keturunan Indonesia, sebuah pertautan darah yang kelak mengikat batinnya pada tanah jajahan ini. Langkah awalnya menyusuri realitas pahit Hindia Belanda dimulai saat ia bekerja di kebun kopi dan pabrik gula.
Di sanalah, di antara hamparan tanaman komoditas ekspor dan kepulan asap pabrik, Nes menyaksikan secara telanjang eksploitasi struktural dan penderitaan akut rakyat jelata. Nuraninya berontak hebat. Jiwa mudanya yang benci penindasan bahkan membawanya pada konfrontasi fisik dengan atasannya demi membela hak sesama pekerja, sebuah aksi nekat yang berujung pada pemecatan dirinya.
Namun, diusir dari perkebunan tidak memadamkan apinya; ia justru menemukan altar baru untuk menyuarakan perlawanan lewat barisan kata: ruang redaksi. Menjadi seorang jurnalis, sikap kritis Nes kian membara menghadapi kebobrokan kolonial. Ia mengadopsi postulat bahwa sebesar apa pun kemurahan hati pemerintah kolonial, Hindia Belanda lambat laun akan runtuh jika tidak diberikan hak untuk pemerintahan sendiri (self-governance).
Pena Nes segera bertransformasi menjadi senjata taktis. Melalui rangkaian artikel tajam di surat kabar dan buku yang ia gubah, ia membongkar watak culas serta kekejaman berlapis administrasi kolonial terhadap kaum pribumi. Tulisan-tulisannya ibarat peluru tajam yang menghujam langsung ke jantung kekuasaan di Batavia. Bagi dinas intelijen dan pemerintah kolonial, Douwes Dekker bukan lagi sekadar pembangkang biasa, melainkan sebuah manifestasi ancaman yang sangat berbahaya bagi stabilitas kekuasaan mereka.
Sadar bahwa narasi teks saja tidak cukup untuk meruntuhkan tembok imperium, Nes mentransformasikan rumahnya menjadi kawah candradimuka bagi para intelektual muda nasionalis. Di sekolah dekat kediamannya, pintu selalu terbuka lebar untuk berdiskusi. Saban malam, riuh perdebatan dan dialektika pergerakan bergaung di sana, membedah nalar kolonial dan merajut mimpi emansipasi bangsa.
Dari rahim pertukaran ide yang intens tiap malam inilah, para pemuda progresif akhirnya sepakat membidani lahirnya organisasi pergerakan Budi Utomo pada tahun 1908. Kendati haluan organisasi tersebut sedikit bergeser dari garis pemikiran radikalnya, panggung pergerakan ini mempertemukannya dengan seorang sekutu ideologis yang setara: Dokter Tjipto Mangoenkoesomo.
Waktu terus bergulir, dan Nes menyadari bahwa gerakan-gerakan elitis yang ada terlampau moderat serta kurang bertenaga untuk menggolkan visi kemerdekaan penuh tanah air. Maka, pada Desember 1912, ia mengambil langkah penetrasi politik yang berani dengan mendirikan Indische Partij. Ini adalah partai politik pertama di Nusantara yang secara terang-terangan mengusung platform kesetaraan ras, menentang hegemoni absolut kolonialisme, dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Bersama Dokter Tjipto sebagai wakil ketua, partai ini berkembang pesat setiap harinya. Selama delapan bulan penuh, mereka melakukan safari politik, menjelajahi kota-kota di Pulau Jawa dan berpidato di berbagai mimbar terbuka. Orasi-orasinya yang menggugah jiwa berhasil mengagitasi massa, memantik kesadaran kelas, dan menggalang solidaritas lintas golongan. Partai muda ini berhasil menghimpun sekitar 7.000 anggota dari semua lapisan masyarakat. Babak baru perjuangan radikal telah dimulai dengan tangan-tangan yang mengepal erat ke udara dan pekik kemerdekaan yang kian lantang bersuara di bawah langit Nusantara.
Setengah tahun sebelum Indische Partij berkibar, Nes juga mendirikan surat kabar De Expres bersama Dokter Tjipto. Lewat koran itulah, pemikiran subversif mengenai kesetaraan ras dan ide-ide awal pendirian partai disemaikan secara masif kepada publik. De Expres menjadi katalisator intelektual yang subur bagi perkembangan pemikiran kritis di Hindia Belanda.
Siapa yang menyangka bahwa lewat koran yang dibangunnya itu, ada sesosok pemuda berotak brilian yang kemudian menuliskan karya-karya tajam yang mengubah nasib mereka dan juga arah sejarah bangsa Indonesia selamanya. Dialah Suwardi Suryaningrat, yang lewat tulisan satir pemukulnya melengkapi tritunggal pergerakan bersama Nes dan Tjipto.
Melalui pers dan politik, pria berparas asing ini membuktikan bahwa nasionalisme tidak lahir dari warna kulit, melainkan dari kedalaman komitmen membela kemanusiaan yang tertindas.
Sumber:
Tempo. (2017). Douwes Dekker (Seri Buku Saku Tempo). KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)









