ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, menyampaikan kritik menohok sekaligus refleksi mendalam bagi internal organisasinya. Dalam sebuah pertemuan bersama sejumlah kiai yang diketahui dilaksanakan di Ponpes Raudlatut Thullab, Magelang, Rabu (17/6) dengan agenda utama ialah Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan, Gus Yahya meminta warga Nahdliyin dan para pengurus pesantren untuk menghentikan obsesi bersaing secara material dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan lain, seperti Muhammadiyah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita itu mikir gimana bisa saingan sama Muhammadiyah, gimana bisa pondok ini punya duit sendiri. Gimana kitanya ini, kiai-kiainya ini gimana dulu? Kalau ini belum beres, percuma semuanya,” ujar Gus Yahya sambil menepuk dadanya dengan nada emosional, sebagaimana terlihat dalam unggahan video di kanal YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Gus Yahya, fokus utama yang harus dibenahi saat ini bukanlah menumpuk kekayaan atau menyamai pencapaian finansial lembaga lain, melainkan mengembalikan hakikat keulamaan. Ia menyoroti fenomena para tokoh agama yang kerap terjebak dalam formalitas kedudukan, menerima santri, hingga menghadiri pengajian dan menerima amplop, namun melupakan tanggung jawab moral dasar mereka.
Gus Yahya juga mengingatkan agar para ulama tidak sekadar menjadi alat legitimasi bagi berbagai kepentingan politik atau kelompok tertentu.
Pernyataan keras ini disampaikan di hadapan para kiai sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri secara total. Gus Yahya memandang, sejak era reformasi bergulir, posisi NU selalu berada dalam zona nyaman dan tidak pernah kekurangan. Berbeda jauh dengan masa sebelum reformasi di mana kondisi NU dinilainya penuh keprihatinan.
Namun, kenyamanan yang telah berlangsung lama ini justru dikhawatirkan membuat organisasi melenceng dari khitah spiritualnya. “Mari kita pikir dulu ini keulamaan kita ini seperti apa, supaya kita tidak mengejar hal-hal yang sebetulnya tidak menjadi tanggung jawab dasar dari keulamaan itu,” tegas alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Melalui teguran ini, pucuk pimpinan PBNU tersebut berharap seluruh elemen NU kembali berfokus pada kualitas pengabdian umat dan integritas moral, ketimbang terjebak dalam perlombaan prestise antar-ormas.









