PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Ibu dan ayahnya tidak tamat sekolah dasar, tetapi Edi Syafri kini menyandang gelar guru besar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Ia menyebut doa sang ibu sebagai pintu yang membuka jalan pendidikannya sampai jenjang tertinggi.
Edi lahir pada November 1979 di Pariaman. Ayahnya meninggalkan keluarga ketika ia berumur 11 bulan, sehingga ibunya membesarkan dia bersama nenek dan seorang abang yang dua tahun lebih tua. Ibunya baru menikah lagi saat Edi berusia 13 tahun.
Keluarga itu tidak memiliki sawah maupun ladang. “Kita tidak punya modal, tidak ada sawah, tidak ada ladang, cuma ada rumah,” ujarnya mengenang masa kecil yang harus ikut bekerja di sawah warga kampung.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Memantaskan diri atas doa ibu
Menurut Edi, doa ibunya selalu berupa harapan agar ia menjadi orang berilmu dan berguna. Karena itu ia berusaha memantaskan diri dengan rajin belajar dan tidak sombong setelah meraih gelar. “Supaya pantas menjadi orang berilmu, kita harus punya sikap rajin, tidak malas,” katanya.
Doa membuka jalan, anak yang melangkah
Dalam buku itu ia menulis bahwa keberhasilan tidak cukup diraih dengan doa. “Doa ibu itu membuka jalan. Tetapi yang melangkah ke pintu yang terbuka tadi adalah usaha dari sang anak,” ujarnya.
Edi menempuh pendidikan sarjana, lalu melanjutkan magister di Institut Teknologi Bandung lewat beasiswa, dan program doktoral di Universitas Andalas. Pada 2024 ia dikukuhkan sebagai guru besar, dan ibunya sempat hadir tiga bulan sebelum meninggal.
Ia berharap kisah hidupnya membuat anak muda percaya bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang, asalkan doa orang tua diiringi kerja keras dan disiplin. “Ilmu ini bukan milik sendiri, ada doa ibu disetir ikhlas,” katanya menutup cerita.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.









