JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 462 hektare lahan di 10 provinsi masih dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan berdasarkan pantauan satelit per Kamis (29/10/2026) pagi.
“Kami akan sampaikan bahwa dari 10 provinsi yang lain, kami sampaikan di sini ada secara kumulatif 462 hektare,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam siaran langsung BNPB, Kamis (29/10/2026).
Data itu didasari pantauan BNPB melalui satelit NASA FIRMS per Kamis pukul 07.00 WIB. Luas tersebut merupakan akumulasi lahan yang masih ditangani tim gabungan, bukan tambahan kejadian baru pada hari itu.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Kalimantan Timur terbanyak
Rincian luas lahan terdampak meliputi Kalimantan Timur 169 hektare, Sulawesi Tengah 85 hektare, Sulawesi Tenggara 56 hektare, Sulawesi Selatan 50 hektare, dan Maluku 31 hektare. Selain itu tercatat 23 hektare di Maluku Utara, 10 hektare di Nusa Tenggara Timur, empat hektare di Gorontalo, empat hektare di Kalimantan Selatan, serta dua hektare di Jawa Timur.
BNPB juga memperbarui perkembangan karhutla di Papua Selatan. Berdasarkan data per Rabu (28/10/2026) pukul 19.00 WIB, masih ada 65 titik panas yang tercatat di wilayah tersebut.
Enam provinsi prioritas tanpa laporan baru
Enam provinsi yang sebelumnya menjadi prioritas penanganan adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pada laporan Kamis, BNPB tidak lagi memaparkan data keenam provinsi tersebut secara khusus.
“Untuk enam provinsi tidak akan kami sampaikan lagi karena hari ini tidak ada lagi data yang kami terima adanya kebakaran di provinsi-provinsi tersebut,” ujar Berton. Meski demikian, ia menegaskan penanganan di lapangan tetap berjalan dan pemantauan titik panas dilakukan berkala bersama pemerintah daerah.









