PAYAKUMBUH — “Apakah HP akan mengajarkan anak-anak bagaimana cara menjadi orang Minang yang ideal? Tidak.” Pernyataan tajam ini disampaikan oleh Gani Amelia, S.Psi, M.Psi dalam podcast Kusieh Bendi yang membedah pergeseran perilaku masyarakat Sumatera Barat di era digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Krisis Regulasi Diri
Gani membuka diskusi dengan menyoroti maraknya perilaku adiktif di Payakumbuh dan Sumatera Barat — mulai dari penyalahgunaan narkoba, lem dan bensin, hingga judi online dan pinjaman online. Semuanya bermuara pada satu akar masalah: melemahnya regulasi diri.
“Permasalahan-permasalahan ini sebenarnya berakar pada satu masalah besar, yaitu bagaimana seseorang mengontrol diri mereka. Nah, itu sekarang yang sudah sangat berkurang,” jelas Gani.
Ironisnya, masalah ini bukanlah fenomena baru. “Saya sudah sering mendengar anak-anak pakai lem untuk mencapai efek fly sejak saya SD. Tapi sekarang semakin menyeruak dengan adanya sosial media.”
Lunturnya Raso Pareso dan Surau
Gani menyoroti lunturnya nilai-nilai budaya Minangkabau yang dulu menjadi benteng moral masyarakat. Konsep raso pareso — kemampuan introspeksi dan mengontrol diri — dulunya ditanamkan melalui pendidikan di surau dan bimbingan mamak-kemenakan.
“Di surau, laki-laki Minang terbiasa belajar berargumentasi, berpikir kritis, dan hidup bertanggung jawab. Tapi sekarang surau sudah tidak ada, dan nilai-nilai yang kita bangun di Minangkabau semakin melemah,” ujarnya.
HP Sebagai “Pengasuh” Digital
Gani mengkritik keras kebiasaan orang tua yang memberikan HP untuk mendiamkan anak. “Anak-anak ini seringnya sudah megang HP dari sebelum umur 1 tahun. Kapan kesempatan mereka belajar mana yang benar, mana yang salah? Mereka belajar dari dirinya sendiri, tidak ada yang mengajari.”
Ia menambahkan bahwa anak-anak pada dasarnya adalah peniru. “Orang tua nyuruh sembahyang, tapi kenyataannya orang tuanya enggak salat. Mereka akan melakukan apa yang dilakukan oleh orang tuanya.”
Cultural Shock Tanpa Vaksin
Salah satu metafora paling kuat dalam diskusi ini: teknologi sudah masuk, tapi “vaksin”-nya belum ada. “Kita tidak disiapkan untuk apa yang terjadi sekarang. Teknologi masuk ke Indonesia, tapi backup-nya belum ada,” kata Gani.
Generasi muda — Gen Z dan Gen Alpha — tumbuh tanpa mengetahui seperti apa “orang Minang yang ideal.” “Mungkin bisa kita tanya ke anak-anak kita, apakah dia tahu pepatah-pepatah Minang? Mungkin tidak, karena memang tidak diajarkan.”
Tekanan Ekonomi dan Individualisme
Mengutip hierarki kebutuhan Maslow, Gani menjelaskan bahwa ketika kebutuhan dasar — pangan, sandang, papan — tidak terpenuhi, manusia berhenti memikirkan orang lain. “Mereka sibuk memikirkan dirinya sendiri. Bagaimana saya bertahan hidup.”
Ditambah lagi, kegiatan sosial seperti gotong royong dan aktivitas surau kini dianggap “tidak ada cuannya” — sehingga semakin ditinggalkan.
Pesan untuk Orang Tua
Gani menekankan bahwa teknologi sebenarnya bisa menjadi alat positif jika digunakan dengan tepat. “Orang tua bisa telepon atau video call anaknya, tanya kabar, tanya sekolah, ingatkan salat. Itu semua bisa dilakukan.”
Yang menjadi masalah adalah ketika HP digunakan sebagai “pengasuh digital” tanpa adanya interaksi bermakna antara orang tua dan anak. “Pada dasarnya anak itu meniru. Mereka akan melakukan apa yang dilakukan oleh orang tuanya.”
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, menghadirkan diskusi mendalam tentang isu-isu sosial dan budaya di Sumatera Barat. Ingin brand Anda tampil sebagai bagian dari percakapan yang membangun kesadaran masyarakat? Kami buka peluang kolaborasi sponsorship — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.









