PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Edi Syafri, guru besar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, tiga kali berada di titik terdekat dengan kematian: tabrakan pada 2017, COVID-19 pada 2021, dan dihantam ombak di perairan Air Bangis.
Peristiwa pertama terjadi pada 3 Mei 2017. Saat mengantar seorang ustaz pulang, motor yang ia kendarai ditabrak truk di jalan lingkar. Helmnya pecah dan ia tidak sadarkan diri selama tiga hari, sementara istrinya ketika itu sedang hamil tujuh bulan.
Ibu datang, anaknya tak mengenali
Ibunya menempuh perjalanan dari Pariaman ke rumah sakit di Payakumbuh. “Ibu hadir di rumah sakit. Saya sendiri tidak mengenal Amak ini, dia menangis,” tuturnya. Ia baru sadar setelah tiga hari dan bertanya-tanya siapa perempuan yang menangis di sisi tempat tidurnya.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Malam takbiran di ruang perawatan
Pada 2021 ia terinfeksi COVID-19 dan dirawat sebulan di rumah sakit di Bukittinggi. Malam takbiran menjadi momen terberat karena anak-anak berada di rumah, sementara ia dan istri terbaring di ruang perawatan.
Ujian ketiga datang di perairan Air Bangis ketika ia mengambil sampel air laut untuk penelitian pencemaran. Perahu berisi empat peneliti dan dua nakhoda diterjang ombak besar dalam perjalanan pulang, namun semua penumpang selamat.
Dari tiga peristiwa itu Edi menyimpulkan ajal tidak bisa dimajukan atau diundurkan. “Setiap kesulitan itu ada kemudahan,” ujarnya. Ia meyakini doa ibunya, yang rutin salat tahajud dan berdoa sebelum subuh, ikut menjaga keselamatannya.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.









