JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Ikatan Dokter Anak Indonesia menyatakan anak-anak yang terpapar langsung asap kebakaran hutan dan lahan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen hingga berujung stunting.
Dampak Tak Berhenti di Saluran Napas
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Nastiti Kaswandani, menjelaskan dampak paparan asap karhutla tidak berhenti pada gangguan pernapasan akut. “Anak-anak yang terpapar secara kronik berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang bersifat permanen, peningkatan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis, yang berujung pada stunting, hingga potensi gangguan perkembangan otak dan kognitif,” katanya di Jakarta, Sabtu (31/10).
Nastiti menyebut hasil studi pada kebakaran Indonesia tahun 1997 menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian, serta meningkatnya risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis. Paparan sejak dalam kandungan juga berdampak pada pertumbuhan anak, dengan efek yang bertahan hingga 17 tahun kemudian, termasuk risiko stunting dan capaian kognitif yang lebih rendah.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Empat Langkah Antisipasi
Untuk itu, ia menekankan pentingnya monitoring ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak. Langkah pertama, memantau tumbuh kembang anak dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala serta mewaspadai keterlambatan perkembangan. Kedua, memantau pernapasan dengan mengawasi batuk atau mengi berulang dan menilai kontrol asma.
Langkah ketiga, meningkatkan pencegahan melalui imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, rumah bebas asap rokok, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Keempat, advokasi lingkungan melalui pemantauan udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, dan pencegahan karhutla.
Nastiti menegaskan bahwa melindungi anak dari dampak karhutla berarti melindungi generasi pemimpin masa depan. Anak-anak, katanya, berhak mendapatkan masa kanak-kanak yang sehat, bukan menjadi korban udara yang beracun.
Sementara itu, Universitas Indonesia bersama Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja merencanakan studi mengenai dampak kesehatan lanjutan pada pekerja dan masyarakat pascakebakaran hutan dan lahan. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Anna Rozaliyani, menegaskan kesehatan manusia harus menjadi bagian integral dari upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla.









