Jakarta, ArgumenRakyat.com — Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah memicu keluhan batuk di masyarakat, namun tidak semua batuk merupakan tanda pneumonia sehingga penting mengenali perbedaan gejalanya, Senin (31/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus pneumonia dilaporkan meningkat sepanjang Agustus 2026 seiring kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan. RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak mencatat kenaikan kasus pneumonia sebesar 20 persen seiring memburuknya kualitas udara.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Asap kebakaran merupakan campuran gas dan partikel halus dari pohon, tumbuhan, bangunan, serta material lain yang terbakar. Paparannya dapat memicu batuk, mengi, mata perih, tenggorokan gatal, sulit bernapas, hingga nyeri dada. Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebut gejala serupa juga bisa muncul pada pneumonia, yaitu infeksi paru-paru yang disebabkan bakteri, virus, atau organisme lain.
Kementerian Kesehatan RI mencatat infeksi bakteri menjadi penyebab umum pneumonia. Gejalanya meliputi batuk, sesak napas, nyeri dada saat bernapas atau batuk, demam, hingga mual, muntah, atau diare. Jika batuk disertai demam tinggi, kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, serta mual dan muntah, masyarakat patut mencurigai pneumonia.
Kapan Harus ke Dokter
Mayo Clinic menyebut pneumonia lebih rentan menyerang kelompok lanjut usia, anak di bawah lima tahun, serta orang dengan masalah jantung, paru, hati, dan gula darah. Konsultasi ke dokter disarankan bila batuk disertai sulit bernapas, nyeri dada, dan demam di atas 39 derajat Celcius yang menerus, atau batuk mengeluarkan lendir yang kuat.









