ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com β Gelar “Presiden Gen Z” yang melekat pada Rian Fahardhi bukan sekadar branding media sosial. Dalam episode terbaru podcast Kusieh Bendi, sosok yang lahir dari keluarga guru dan dikenal lantang membedah isu pendidikan itu membongkar realita pahit dunia pendidikan Indonesia β dari ribuan sekolah terdampak bencana hingga narasi pembangunan yang dinilainya salah arah.
Pendidikan Bukan Menyemaratakan
Rian membeberkan alasan di balik pendirian “Sekolah Tanah Air”, sekolah yang ia gagas dengan fokus pada green jobs, keberlanjutan, dan pemanfaatan alam sekitar sebagai bahan ajar. “Karena bagi saya pendidikan itu bukan menyemaratakan, tapi menemukan formula yang tepat untuk satu anak,” tegasnya. Filosofi itu, menurutnya, sejalan dengan kearifan Minang “alam takambang jadi guru”.
Terjun ke Aceh: Kehadiran Lebih Berharga dari Sekadar Bantuan
Saat bertandang ke Aceh pasca bencana, Rian menyaksikan langsung kondisi lebih dari 3.000 sekolah yang terdampak. Bagi dia, yang paling dibutuhkan warga saat itu bukan sekadar bantuan materi. “Ada space yang saat itu sangat dibutuhkan oleh warga Aceh, yaitu kehadiran β kehadiran yang belum terlalu ditangkap sinyalnya oleh pemerintah daerah,” ujarnya. Ia juga menyoroti urgensi program pemulihan trauma bagi guru dan siswa.
Kritik Narasi “Sekolah Baru” dan Anggaran Pendidikan
Rian melontarkan kritik tajam terhadap narasi pembangunan gedung sekolah baru. Ia mempertanyakan logika membangun “10 kampus baru” di saat banyak sekolah lama justru rusak dan tak terurus. “Ali-ali bikin pintu baru, coba kita benerin genteng rumah,” sindirnya. Menurutnya, pemerataan kualitas pendidikan jauh lebih mendesak daripada sekadar menambah gedung baru.
Soal Makan Bergizi Gratis
Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rian mengaku setuju dengan tujuan memberikan makanan bergizi bagi yang membutuhkan. Namun ia menggarisbawahi soal eksekusi di lapangan. “Tergantung pelaksanaannya. Beberapa wilayah punya rekam jejak yang kebanyakan tidak bagus,” katanya. Ia menambahkan, anggaran pendidikan Indonesia meski porsinya besar justru termasuk yang paling rendah di ASEAN.
Pesan Bung Hatta: Lilin yang Menyala di Desa
Menutup perbincangan, host Kusieh Bendi mengutip pesan Bung Hatta yang relevan dengan perjuangan Rian: “Indonesia terang bukan karena obor di Jakarta, tapi karena lilin-lilin yang senantiasa menyala di desa.” Sebuah pengingat bahwa perbaikan pendidikan sejatinya dimulai dari desa-desa, bukan hanya dari pusat.
Isu Pendidikan & Generasi Muda: Panggung untuk Brand yang Peduli
Episode ini menunjukkan satu hal: konten yang membahas isu pendidikan dan masa depan generasi muda selalu punya tempat yang dalam di hati audiens. Bagi brand yang menyasar anak muda β edtech, kampus, startup pendidikan, lembaga bimbingan, hingga produk gaya hidup Gen Z β ini panggung yang tepat untuk tampil.
Kenapa isu pendidikan cocok untuk brand Anda?
π Asosiasi positif β brand Anda tampil di samping narasi yang mencerdaskan dan membangun, bukan sekadar konten hiburan.
π§βπ Audiens anak muda & orang tua β menjangkau Gen Z sekaligus orang tua yang peduli masa depan pendidikan anaknya.
π Konten tayang selamanya β topik pendidikan selalu dicari ulang, promosi Anda terus berjalan tanpa biaya berulang.
π Distribusi multi-platform β YouTube, Instagram Reels, TikTok, dan Facebook dalam satu paket.
Bukan cuma sponsor β kami juga terbuka untuk kolaborasi CSR & awareness: program beasiswa, kampanye literasi, hingga bincang edukasi bersama narasumber Anda. Dimensia Creative punya rekam jejak memproduksi konten yang mengangkat isu lokal ke level nasional.
π Jadwalkan kolaborasi: WA 0812-6349-2788
π Lihat proposal & paket: dimensiacreative.com/proposal/
Dimensia Creative β Konten Kreatif yang Mencerdaskan dan Mengangkat Cerita Lokal.









