Berhenti 3 Tahun, Desainer Lain Udah Meloncat! Berry Mirsa: AI Tak Punya Jiwa, Intuisi Desainer Tak Tergantikan

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAYAKUMBUH — “AI memang mempermudah kita untuk bekerja, tapi yang tidak dimiliki AI adalah intuisi kita sebagai manusia. Mesin tidak punya jiwa.” Berry Mirsa, fashion designer asal Payakumbuh yang telah meraih berbagai penghargaan nasional, berbagi perjalanan dan pandangannya tentang masa depan industri kreatif di podcast Kusieh Bendi.

Dari Nol, Biayai Sendiri

Berry memulai kariernya tanpa dukungan finansial dari pihak mana pun. “Dari 2013 ke 2018, aku bayar sendiri semuanya,” kenangnya. Selama lima tahun ia membangun nama sebagai desainer, hingga akhirnya memutuskan berhenti di tahun 2018 untuk menjajal bisnis lain.

Keputusan itu menjadi pelajaran berharga. “Aku pernah stop dari 2018 sampai 2021 untuk sebuah bisnis lain. Di tahun itu, orang berkembang — makin banyak bermunculan desainer baru, tren baru. Kalau aku fokus dulu, mungkin sekarang beda cerita lagi.”

“Cari nama itu enggak gampang. Butuh pengorbanan,” tegasnya.

AI vs Intuisi Desainer

Ketika ditanya tentang ancaman kecerdasan buatan di dunia fashion, Berry tenang. “AI memang mempermudah kita untuk bekerja, tapi yang tidak dimiliki AI adalah intuisi kita sebagai manusia. Kalau mesin ya mungkin bisalah jadi ini bla bla bla, tapi dia tidak punya jiwa.”

Baca Juga:  Rupiah Tembus 18.000! Dr. Anton Permana: 60% Dunia Maya Kita Adalah Bot, Indonesia Dalam Perang Kognitif

Baginya, desain bukan sekadar kombinasi pola dan warna — melainkan ekspresi jiwa yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma.

Tantangan: Edukasi, Bukan Sekadar Promosi

Berry mengidentifikasi masalah utama industri fashion lokal: bukan kurangnya promosi, melainkan kurangnya edukasi. “Kalau hanya Berry yang mengedukasi klien, kayaknya enggak cukup. Semua — baik pemerintah, pelaku fashion — harus duduk bersama, ngangkat bareng-bareng.”

Ia menyayangkan bahwa selama ini hanya pelaku fashion dan klien yang paham nilai tenun dan batik lokal. “PR-nya gimana cara mengedukasi orang lebih banyak lagi untuk menggunakan produk kita sendiri.”

Tren: Klasik Bertemu Kekinian

Mengenai arah fashion saat ini, Berry melihat tren kembali ke klasik — namun tidak sepenuhnya. “Balik ke klasik tapi dikolaborasikan dengan tren kekinian. Bukan klasik yang benar-benar klasik. Agar pakaian itu timeless.”

Baca Juga:  Masa Bakti Berakhir, KONI Kota Payakumbuh Siap Gelar Musorkot

Di Indonesia dengan dua musim, perubahan tren terjadi dua kali dalam enam bulan. Bandingkan dengan luar negeri yang bisa ganti tren setiap tiga bulan mengikuti empat musim.

Pesan untuk Anak Muda Kreatif

“Anak-anak muda tuh semangat, tapi mikir-mikir. Padahal untuk mengiklankan dirinya sendiri. Satu produk kalau tidak diiklankan, kayaknya enggak akan berkembang.” Berry mendorong generasi muda untuk berani mempromosikan karya sendiri dan tidak ragu berinvestasi pada personal branding.


Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, mengangkat talenta-talenta kreatif Sumatera Barat. Punya brand fashion atau produk kreatif yang ingin tampil di platform ini? Dimensia Creative menyediakan paket sponsorship yang bisa disesuaikan — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.

Kategori: Video

Berita Terkait

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda
Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat
Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri
Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif
Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan
Pejabat Zaman Now: Ngonten untuk Transparansi, Bukan Sekadar Personifikasi Citra
Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan
Ibadah Bukan Tren, Bekal “Pulang Kampung”: Ustaz Afri Eki Rizal soal Haji & Umrah

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif

Minggu, 27 September 2026 - 21:09 WIB

Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB