PAYAKUMBUH — “AI memang mempermudah kita untuk bekerja, tapi yang tidak dimiliki AI adalah intuisi kita sebagai manusia. Mesin tidak punya jiwa.” Berry Mirsa, fashion designer asal Payakumbuh yang telah meraih berbagai penghargaan nasional, berbagi perjalanan dan pandangannya tentang masa depan industri kreatif di podcast Kusieh Bendi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Nol, Biayai Sendiri
Berry memulai kariernya tanpa dukungan finansial dari pihak mana pun. “Dari 2013 ke 2018, aku bayar sendiri semuanya,” kenangnya. Selama lima tahun ia membangun nama sebagai desainer, hingga akhirnya memutuskan berhenti di tahun 2018 untuk menjajal bisnis lain.
Keputusan itu menjadi pelajaran berharga. “Aku pernah stop dari 2018 sampai 2021 untuk sebuah bisnis lain. Di tahun itu, orang berkembang — makin banyak bermunculan desainer baru, tren baru. Kalau aku fokus dulu, mungkin sekarang beda cerita lagi.”
“Cari nama itu enggak gampang. Butuh pengorbanan,” tegasnya.
AI vs Intuisi Desainer
Ketika ditanya tentang ancaman kecerdasan buatan di dunia fashion, Berry tenang. “AI memang mempermudah kita untuk bekerja, tapi yang tidak dimiliki AI adalah intuisi kita sebagai manusia. Kalau mesin ya mungkin bisalah jadi ini bla bla bla, tapi dia tidak punya jiwa.”
Baginya, desain bukan sekadar kombinasi pola dan warna — melainkan ekspresi jiwa yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma.
Tantangan: Edukasi, Bukan Sekadar Promosi
Berry mengidentifikasi masalah utama industri fashion lokal: bukan kurangnya promosi, melainkan kurangnya edukasi. “Kalau hanya Berry yang mengedukasi klien, kayaknya enggak cukup. Semua — baik pemerintah, pelaku fashion — harus duduk bersama, ngangkat bareng-bareng.”
Ia menyayangkan bahwa selama ini hanya pelaku fashion dan klien yang paham nilai tenun dan batik lokal. “PR-nya gimana cara mengedukasi orang lebih banyak lagi untuk menggunakan produk kita sendiri.”
Tren: Klasik Bertemu Kekinian
Mengenai arah fashion saat ini, Berry melihat tren kembali ke klasik — namun tidak sepenuhnya. “Balik ke klasik tapi dikolaborasikan dengan tren kekinian. Bukan klasik yang benar-benar klasik. Agar pakaian itu timeless.”
Di Indonesia dengan dua musim, perubahan tren terjadi dua kali dalam enam bulan. Bandingkan dengan luar negeri yang bisa ganti tren setiap tiga bulan mengikuti empat musim.
Pesan untuk Anak Muda Kreatif
“Anak-anak muda tuh semangat, tapi mikir-mikir. Padahal untuk mengiklankan dirinya sendiri. Satu produk kalau tidak diiklankan, kayaknya enggak akan berkembang.” Berry mendorong generasi muda untuk berani mempromosikan karya sendiri dan tidak ragu berinvestasi pada personal branding.
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, mengangkat talenta-talenta kreatif Sumatera Barat. Punya brand fashion atau produk kreatif yang ingin tampil di platform ini? Dimensia Creative menyediakan paket sponsorship yang bisa disesuaikan — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.









