Foto: Rocky Gerung saat Diskusi Publik dan Bedah Buku "Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z" dalam rangka Bulan Bung Karno yang digelar DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Sabtu (27/6/2026).
ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung kembali melontarkan sentilan tajam. Kali ini, kritik keras tersebut dialamatkan kepada aksi Tiyo Ardianto yang dinilai telah mempraktikkan abstraksi politik secara keliru dan dangkal. Rocky amat menyayangkan langkah mantan Ketua BEM UGM itu, yang merendahkan substansi kritik pergerakan mahasiswa dengan mengubah wibawa sosok Presiden Prabowo Subianto menjadi sekadar bahan lelucon visual berupa kucing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kacamata Rocky, tindakan tersebut bukanlah wujud dari sebuah perlawanan intelektual mahasiswa yang semestinya, melainkan murni merupakan komedi slapstick yang sama sekali tidak mencerdaskan diskursus publik.
Sentilan ini disampaikan Rocky saat memberikan materi dalam diskusi publik dan bedah buku “MARHAENISME: Dalil Baru untuk Gen Z” yang diadakan oleh DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya pada (27/6/2026). Ia menekankan perlunya peningkatan level argumen. “Tio naikkan oktafmu. Saya naikkan oktafmu, apa yang dibikin Prabowo jadiin kucing itu bukan oktaf, itu turunin oktaf,” ujar Rocky mengulang hal yang pernah ia sampaikan pada Tiyo.
Ia memandang aksi lelucon semacam itu muncul karena adanya ruang kosong dalam hal kedalaman literasi dan arah perlawanan di kalangan aktivis saat ini. “Ketiadaan pikir, ketiadaan gagas, ketiadaan ideologi membuat orang jadi sarkas, slapstick,” kata Rocky menyoroti merosotnya kualitas intelektualitas.
Tatkala disinggung mengenai perkataannya di masa lampau yang pernah menyebut mantan Presiden Joko Widodo dengan umpatan kasar, Rocky secara lugas membela rekam jejaknya tersebut. Ia mengklaim kritiknya dahulu memiliki landasan yang rasional merujuk pada produk kebijakan publik seperti Omnibus Law, bukan sekadar serangan personal yang buta arah. “Saya bilang itu karena saya bisa pertanggungjawabkan ucapan saya secara akademis, secara sistematis,” tegasnya menepis perbandingan tersebut.
Mantan dosen filsafat Universitas Indonesia ini lantas memperingatkan adanya potensi besar bahaya dari gerakan massa yang tidak dibekali panduan ideologi dan struktur yang kokoh. Menurutnya, tanpa adanya landasan pedagogi politik yang kuat, gerakan murni mahasiswa bisa dengan mudah dibajak oleh kepentingan fasisme.
“Hati-hati terhadap gerakan sosial yang tidak dituntun oleh organisasi, tidak dituntun oleh anggaran dasar, tidak dituntun oleh arah itu betul-betul bisa jadi liar,” ucap Rocky memberi peringatan dalam acara tersebut.